Ben Yowes, Penyuka Kucing

Resensi buku Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang

Ini tentang kucing yang berjanji untuk mengajari camar terbang? Tentu terdengar mustahil di kuping manusia seperti saya. Tapi novel kisah tentang kucing dan camar ini begitu tipis, dan alur ceritanya cukup sederhana. Tapi Luis Sepúlveda, si penulis, telah membumbui kisah ini dengan banyak pesan-pesan moral di sana-sini. Jadi, novel ini enak dibaca dan perlu – terutama biar kita makin bermoral, eh.

Tak banyak fabel (fable) yang aku baca. Tapi setidaknya ada dua yang aku ingat. Pertama, Animal Farm karya George Orwell – yang lalu diterjemahkan dengan sangat enak dibaca oleh Mahbub Junaedi, lewat judul ‘Binatangisme’. Persisnya, terjemahan Mahbub-lah yang aku baca – sebab keterbatasan diri dalam membaca versi bahasa Inggrisnya.

Kedua, Historia de una gaviota y del gato que le enseñó a volar – yang juga diterjemahkan dengan sangat enak oleh Ronny Agustinus dengan judul ‘Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang’. Lagi-lagi, karena kebebalan otakku yang tak dapat membaca versi bahasa Spanyol – versi yang ditulis si pengarangnya (Luis Sepúlveda), maka terjemahan Ronny-lah yang akhirnya aku baca dan tamatkan. Tapi di sini – sebagai kebiasaan baru – aku juga membacanya lewat versi bahasa Inggris yang berjudul The Story of A Seagull and The Cat Who Taught Her to Fly.

Saya lompat langsung ke bagian ini: kisah dimulai dari seekor camar bernama Kengah – seekor camar betina – yang tak dapat mempertahankan hidupnya. Ia terbang dengan sisa kekuatan terakhirnya dan terjatuh persis di dekat seekor kucing – bernama Zorbas – yang sedang rebahan santui di balkonnya. Kengah yang sudah sekarat meminta pertolongan Zorbas untuk mau bersumpah melindungi anak camar, dan kelak mengajarinya terbang. 

Tak lama setelah mengatakan itu, dan sesudah Zorbas – sang kucing – mengiyakan permintaannya, menggelinding sebuah telur putih dengan dipenuhi bintik-bintik keluar dari tubuh Kengah. Camar tua yang malang tak dapat bertahan hidup lagi dan terlihat sudah mati saat Zorbas dan kucing-kucing lain datang.

Tak lama beberapa hari, telur menetas dan menyembul seekor camar piyik yang kelak oleh kucing bernama Scretario diberi nama ‘Fortuna’ (Lucky). Munculnya camar piyik jadi pengalaman hidup baru bagi Zorbas: tiap hari si kucing hitam itu harus melindungi si piyik, mencarikan makanan yang baik, menyehatkan – pokoknya yang halal dan baik, eh, dan terakhir mengajarinya terbang. Tentu saja hal yang terakhir terdengar mustahil: seekor kucing mengajari camar terbang? Tapi dari sini, Spulveda membawa kita ke perjalanan tentang kesetiaan, kesabaran, dan kadang rasa putus asa.

Sebagai pembaca yang mudah sedih dan senang, aku begitu mudah dibuat koyak-koyak hati: kadang dibuat sedih, tapi kadang dibawa tertawa-tawa oleh tingkah konyol Zorbas dan kawan-kawan kucing lainnya: ada kucing bernama Kolonel – dianggap sebagai pemimpin sebab punya kemampuan yang tak dimiliki oleh kucing lain: yakni tukang pemberi nasehat terbaik bagi kucing-kucing lain yang punya masalah. Alias si Kolonel ini tempat curhat. Ya meskipun tak berhasil menghadirkan solusi, tapi setidaknya petuah-petuahnya cukup membuat masalah kawan-kawannya sedikit terasa lebih ringan, dan bisa bikin tidur nyenyak dan makan enak lagi.

Ada seekor kucing yang dipanggil Profesor, tinggal di sebuah gudang barang-barang antik milik seorang pelaut tua yang dijadikan tempat bazar, dijaga oleh seekor simpanse pemabuk, kesayangan pak Tua. Kebiasaan kucing Profesor adalah membaca buku-buku si pemilik gudang. Ia hampir hafal seluruh ensiklopedi yang ada di gudang itu. Sehingga setiap kali ada masalah, ia akan membuka halaman demi halaman ensiklopedi itu. Dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, ia dipanggil Enstein.

Ada lagi kucing bernama Scretario – yang perannya seperti asisten bagi kucing Kolonel dan sering dimarahi sebab seringkali mendahului apa yang ingin diucapkan oleh si Kolonel yang – maaf-maaf ya kucing – ‘agak’ lemot. Satu lagi, banyubiru – seekor kucing geladak, yang pengalamannya di lautan tidak diragukan lagi. Kucing pelaut tulen. Salah satu peran besarnya di kisah ini, ia berhasil memecahkan masalah besar yang bahkan ensiklopedia milik kucing Profesor tidak mampu menjawab: apakah camar piyik itu laki atau perempuan (eh, jantan atau betina)? Dan Banyubiru lah yang bisa menjawab bahwa camar piyik itu adalah betina.

Sebagai cerita yang kaya dengan pesan moral, ada beberapa hal yang saya tangkap dari cerita ini. Pertama, kritik terhadap perilaku manusia yang tidak peduli pada kebaikan lingkungan. Spulveda adalah seorang politisi dan aktivis lingkungan. Lewat kisah ini, salah satunya, ia mengkritik kapal-kapal besar yang seringkali menguras berliter-liter minyak dan dibuang di tengah-tengah lautan. Lautan yang luas itu jadi tempat pembungan sampah. Kengah, camar yang bernasib malang itu mati akibat keracunan sampah laut, ulah bangsat manusia itu.

Kedua, manusia adalah mahluk egois dan tidak bisa ditebak. Di kisah ini, ada satu masalah besar ketika mereka selalu gagal untuk mengajari camar terbang. Zorbas mengusulkan agar mulai berkomunikasi dengan bahasa manusia. Sontak semuanya menolak tegas: berkomunikasi dengan manusia itu pamali. Di sini, mereka menghadirkan manusia sebagai sosok yang tidak boleh diajak komunikasi. Sebab bila ada hewan yang bisa berbahasa cara manusia, atau bertingkah seperti manusia, maka hewan itu akan jadi badut, diperbudak, oleh manusia. Mereka mencontohkan lumba-lumba yang cerdas, yang bisa melompat-lompat secara akrobatik, dan akhirnya menjadi badut hiburan bagi manusia-manusia. Ada lagi kisah-kisah burung cerdas yang bisa meniru bahasa manusia dan akhirnya malang nasibnya: seumur hidupnya dipenjara dalam kerangkeng buatan manusia dan jadi badut untuk menyenangkan tuannya, manusia.

Selain itu, manusia – bahkan dengan niat baik sekali pun, tindakannya bisa menghadirkan kecelakaan besar. Mereka mencontohkan Harry, pelaut tua pemilik gudang tempat profesor dan simpanse tinggal. Sebab ia begitu menyayangi simpanse piaraannya, bahkan si simpanse dibiarkan meminum minuman memabukkan milik Harry, dan akhirnya si simpanse jadi pemabok yang lupa dengan rasa malu. Pokoknya, di kisah ini, manusia menjadi sosok yang digambarkan serba evil, setan – meskipun dalam beberapa dialog, seperti diucapkan Kengah di awal: tidak adil bila dipukul rata.

Tapi Zorbas tetap bersikukuh untuk mulai konsultasi dengan manusia. Maka Kolonel memimpin rapat para kucing. Maka diputuskanlah: mereka membolehkan pamali ini dilanggar. Nama-nama manusia yang mereka kenal mulai mengisi daftar mereka. Satu per satu dicoret dan akhirnya tinggal satu nama: manusia yang tinggal dengan seekor kucing perempuan yang cantik sekali bernama Bumbulina. Satu-satunya alasan kuat Zorbas memilih manusia yang tinggal sama Bumbulina, sebab orang itu terlihat aneh dan nampak memiliki suatu kekuatan yang luar biasa dalam bicaranya. Seringkali Zorbas mencuri dengar orang itu mengucapkan kalimat-kalimat yang bikin si kucing hitam Zorbas itu seolah-olah bisa terbang. Maka dengan itu, Zorbas yakin bila Fortuna, si camar, mendengarkan kalimat-kalimat orang aneh itu, maka ia bisa terbang layaknya camar-camar lainnya.

Di titik ini, sang kucing Profesor itu – berdasarkan pengetahuannya dari ensiklopedia – menyebut kalimat-kalimat yang bisa membuat Zorbas seakan melayang itu adalah puisi, dan si orang aneh itu adalah penyair. Akhir kisah, manusia aneh itu bersedia membantu Zorbas untuk membuat Fortuna bisa terbang. Tapi saya tak akan bilang seperti akhirnya. Biarlah kalian membaca, dan setidaknya dapat terbuka untuk mulai mencintai kucing-kucing, camar, dan mahluk-mahluk selain manusia.
0Comments

Previous Post Next Post

ads