Cerpen J. Deida

Gambar: Tribunnews.com

Bisakah seseorang memilih di antara kenangan mana yang ingin dia hapus dan yang ingin dia pertahankan?


Pertanyaan itu menjadi semacam renungan panjang, muncul-tenggelam dari kegelisahan. Sesungguhnya ia tak menyukai suasana di balik pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi apa daya, pertanyaan itu seakan sebuah hidangan nasib yang tak bisa ditolak. Tersaji begitu saja di atas sebuah nampan kehidupan, berjejer di atasnya, dan menguarkan aroma yang tak menyenangkan. Ia rasai pertanyaan itu muncul setiap hari. Ia seperti lelaki pesakitan yang dikejar pertanyaan-pertanyaan.

Pertanyaan itu muncul untuk pertama kali setahun sesudah ia berpisah dari kekasihnya. Tahun 2018, begitulah goresan pena yang menempel di buku harian yang kini entah di mana. Mula-mula ia merasa, melupakan adalah perkara waktu. Ia sangat mempercayai itu. Melupakan. Waktu. Melupakan. Waktu. Maka ia berlomba dengan waktu untuk melupakan. Ia membuat dirinya tenggelam dalam berbagai macam aktifitas setiap hari. Itu salah satu cara dia berlomba bersama waktu.

Tapi di sela itu, ia juga tak luput dari doa: 

Tuhan, izinkan waktu membawaku pada kebahagiaan, melupakan kesedihan.

Waktu tersenyum mendengar doa lelaki itu. Jagat raya berkedip. Dan layaknya manusia yang bijaksana, waktu mengamini doa lelaki itu dan memulai tugasnya: waktu membawanya pada kenangan yang indah-indah. Selama itu, maka yang hadir dalam bayangan lelaki itu hanyalah lintasan kenangan-kenangan yang indah, yang membahagiakan.

Tapi waktu seperti menyediakan jebakan. Barangkali waktu memang patuh pada hukum untuk berjalan di atas lintasan kenangan apapun yang menyediakan kebahagiaan. Waktu lupa untuk memilih lintasan kebahagiaan yang seperti apa yang dimintakan oleh si pendoa itu. Perlahan, lelaki itu merasakan waktu seakan membawa pada satu kebahagiaan yang ada sangkut pautnya dengan kekasihnya yang kini ia coba lupakan. Semakin lama semakin banyak wajah kekasihnya, tempat-tempat bersamanya, dan hal-hal lain yang masih berpautan dengan kekasihnya.

Lelaki itu ingin menghentikan itu. Ia ingin menunda do’anya. Bukan itu yang diinginkan lelaki itu pada sang waktu. Bukan itu. Tapi di atas lintasan nasib dan kendaraan sang waktu yang terus berlalu, lelaki itu bukanlah pengendali. Maka kini ia hanya bisa pasrah. Diombang-ambing waktu untuk melintas-lintas di atas kenangan. Di hadapannya, waktu akan segera membawanya melintasi kebahagiaan masa lalu bersama sang kekasih.

Pada titik ini, lelaki itu bingung: apakah mengingat momen-momen bahagia dari kisah cinta yang berujung perpisahan adalah sebuah ingatan yang berharga atau tragedi belaka?

Lelaki itu mengacak-acak rambutnya. Gelombang rambut ikal yang tak bersalah itu tumbuh tak bahagia di atas tempurung kepala yang menanggung beban ingatan kesedihan. Kini rambut itu kian lama kian memperlihatkan diri seperti gelombang yang lebih rumit. Lebat. Kacau. Tak beraturan. Helaian demi helaian sudah tak lagi dapat berdamai dengan rongga-rongga sisir. Maka rambut itu tak pernah lagi disisir. Bila ada penghuni yang setia di dalam belantara rambutnya yang rumit dan kusut itu, hanyalah mahluk-mahluk kecil bernama kutu. Di sana, kutu-kutu itu sekeluarga menemukan tempat berbini, beranak pinak, dan bertaik. Rambut kacau ternyaman dengan aroma busuk.

Lelaki itu kini memang tak lagi perhatian pada dirinya sendiri. Ia tak peduli lagi pada apa pun yang ada pada tubuhnya. Ia tak peduli lagi pada dandanan apapun. Baju yang menempel pada tubuhnya hanyalah sewajarnya saja. Tak ada fungsi estetika pada pakaiannya. Sepenuhnya, baju hanyalah secarik kain dengan fungsi melindungi tubuhnya dari udara yang dingin atau terik matahari yang panas. Wajahnya kini ditumbuhi kumis yang tak terawat. Kumis-kumis itu tumbuh di pipi yang sudah lama puasa dari sentuhan bibir orang tercinta. Kumis-kumis itu tumbuh tak bahagia. Tak terawat.

Ia menatap dirinya pada cermin. Cermin itu masih sama. Dulu, tiap kali ia menatap cermin, yang terlihat adalah wajah yang cerah, yang bahagia, dengan senyum yang tiap hari tersungging di bibirnya. Cermin itu menyimpan segala ingatan itu. Saat ia mengatur waktu janji untuk bertemu, di kedai kopi yang tak mahal, cermin itu memperlihatkan wajah lelaki yang penuh aura gembira. Rambutnya tersisir rapi. Ada gelombang ikal yang indah. Mengkilap dengan minyak rambut. Wangi. 

Waktu itu, kutu-kutu yang menghuni rambutnya merasa hidup di tengah belantara rambut yang penuh peradaban. Berbeda sekali dengan kini, yang bagi bangsa kutu, rambutnya seakan kembali ke zaman kegelapan. Dark age. Andai kutu-kutu itu dapat mewarisi risalah pengetahuan sejarah dari generasi ke generasi, maka ia akan menceritakan maju mundurnya belantara rambut yang tumbuh di kepala lelaki yang tak bahagia itu.

Dulu di tepi pojok atas cermin itu, menempel foto seorang perempuan yang tersenyum. Bibirnya yang manis menampilkan deretan gigi yang mengintip indah. Ekspresi itu demikian membuatnya bahagia. Dia yang tak pernah mengenal bidadari surga mengimajinasikan harapannya agar bidadari surga seluruhnya adalah mirip dia, kekasihnya. Perempuan itu. Agar kelak bila ia disediakan singgasana surga, tak perlu memilih-milih lagi bidadari yang mana yang ia maui. 

Dia tersenyum mengingat imajinasinya yang tak tertib itu. Foto di tepi pojok atas cermin itu sudah lenyap entah ke mana. Terakhir kali, nasib foto itu masih tertolong. Tersimpan di dalam laci. Tapi seluruh isi laci itu kini jadi santapan api. Foto terakhir yang menampilkan dirinya bergandengan tangan dengan kekasihnya berakhir pula dalam lalapan api yang membutuhkan 365 hari untuk membakarnya.
0Comments

Previous Post Next Post

ads