Ilustrasi: Ainul Yaqin

“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Begitulah kira-kira ungkapan Soekarno yang sudah tak asing lagi bagi kita. Sejak awal berdirinya negara ini, pemuda dan mahasiswa banyak mempunyai andil secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung mahasiswa ikut turun langsung ke gelanggang pertempuran melawan kolonial dan secara tidak langsung mahasiswa terlibat dengan memberikan konsep dan pemikiran dalam mencapai kemerdekaan. Begitu pun dalam gerakan reformasi 1998.

Gaya kepemimpinan Soeharto yang otoriter, yang hanya mementingkan para kroninya memberikan dampak yang kompleks yakni instabilitas politik, krisis ekonomi dan praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang semakin subur.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 menjadi sebab utama munculnya gerakan mahasiswa yang kemudian disebut “reformasi.” Terjadinya krisis ekonomi berdampak pada sulitnya ekonomi masyarakat, bahan-bahan pasar tidak stabil harganya dengan pendapatan ekonomi masyarakat. Pekerjaan semakin sulit didapat, pengangguran bertambah, dan kemiskinan meningkat dan yang sangat fenomenal yaitu semakin suburnya praktik KKN.

Kebebasan berpendapat, berserikat, dan pers yang dikendalikan semakin menambah kompleksitas permasalahan yang harus diselesaikan pemerintah. Pemerintah yang dinilai sudah tidak mampu lagi mengatasi problematika tersebut, maka pemuda dan mahasiswa untuk melakukan aksi demontrasi semakin meluas ke setiap daerah.

Kemudian banyak mahasiswa berdatangan ke Jakarta menyerukan tuntutan yang sama, reformasi. Mahasiswa sebagai pelopor pergerakan tersebut dengan dukungan civil society, membuat kekuatannya tidak terbendung. Hingga pada saat yang bersamaan terjadi pendudukan gedung DPR/MPR RI oleh mahasiswa dari berbagai kampus.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual tentunya dalam pergerakannya selain berdemonstrasi, yakni melakukan riset dan kajian kritis di kampus untuk memberikan jawaban atas masalah yang dihadapi dengan analisis kritis-objektif terhadap kondisi sosial di masyarakat. Gerakan mahasiswa bukan saja memperjuangkan suatu tujuan, namun berupaya membuat sejarah baru dalam pembangunan masa depan bangsa.

Semakin masifnya tuntutan meminta mundurnya presiden Soeharto, akhirnya mencapai puncaknya tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan mundur sebagai presiden RI, dengan digantikan Bahruddin Jusuf Habibie. Dengan naiknya B.J. Habibie sebagai presiden menandakan berakhirnya pemerintahan orde baru dan masuk pada era baru yang disebut era reformasi.

Pada intinya gerakan reformasi adalah tuntutan perbaikan terhadap segala bidang terutama di bidang ekonomi, politik, dan hukum, serta menghapuskan praktik-praktik KKN sampai ke akar-akarnya.

Oleh karena itu, angin segar reformasi memberi dampak yang cukup baik terhadap pembangunan bangsa. Terutama perbaikan di bidang lembaga tinggi negara (legislatif, eksekutif, yudikatif), pemilu tahun 1999 diikuti oleh banyak parpol, kebebasan pers dan media, dan upaya menghapuskan KKN.

Hal ini sangat terasa dengan dilakukannya amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali dalam jangka waktu yang cukup dekat. Oleh sebab itu, sepanjang sejarah berdirinya bangsa peran pemuda dan mahasiswa terhadap pembangunan masa depan bangsa sangat signifikan, sehingga tidak bisa dipandang sebelah mata oleh siapapun.
0Comments

Previous Post Next Post

ads