Ilustrasi: Ainul Yaqin

Oleh: Dhimas P. Sipahutar

DKI Jakarta merupakan Ibukota negara Indonesia yang oleh sebagian besar masyarakat luar dibilang kota impian. Karena kota yang sangat menjanjikan (katanya) dan pusat dari segala kegiatan, baik itu dari segi ekonomi, pemerintahan dan juga hiburan.

Perkataan orang-orang mengenai “Jakarta keras boss” sebenarnya itu berlaku bagi saya sebagai orang yang sudah lama tinggal di Jakarta tetapi pengetahuan mengenai kejakartaan saya masih dapat dikatakan sangat kurang.

Alhamdulillah saya diterima di UIN Jakarta yang walaupun nama belakangnya Jakarta tetapi secara administratif berada di Tangerang Selatan, yaa begitulah kira-kira. Di kampus inilah saya bertemu orang-orang yang berasal dari luar daerah maupun dari daerah Tangsel itu sendiri.

Terkadang saya hanya geleng-geleng kepala ketika teman yang berasal dari luar daerah menilai saya tahu seluk beluk Jakarta dan menilai jadi orang Jakarta itu keren. Dalam hati berkecamuk “Yahh iyain aja dah biar cepet hehe”.

Justru saya lebih memandang orang yang dari Tangsel itu lebih “kekotaan”. Sebab saya sendiri berada di Tangsel selama 4 tahun kuliah di daerah ini dan saya dapat mengambil kesimpulan bahwa orang Tangsel sendiri sangat gaul. Mungkin sebab Tangsel tidak kekurangan tempat elite seperti Bintaro, Pamulang, Serpong dan tidak ketinggalan Ciputat dengan pesona Situ Gintungnya, serta mungkin Tangsel juga langsung berbatasan dengan Jakarta Selatan yang terkenal akan tempat hiburannya.

Sebagai orang yang hampir sebagian hidupnya dari sejak bayi berkutat di Jakarta Timur yang akrabnya dulu dengan berita tawuran yang tiada henti, pemukiman kumuh, pasar induk, dan juga sukanya nongkrong di warung kopi. Saya pun melihat daerah Jakarta Pusat sebagai kawasan yang sangat well-balanced dengan masyarakat kalangan atas terutama sekitar jalan Sudirman-Thamrin.

Yaa Sudirman-Thamrin. Anda tidak salah dengar. Kenapa jalan tersebut? Karena jalan ini merupakan jalan tersibuk di Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan serta pusat bisnis bersama dengan jalan Medan Merdeka yang biasa disebut dengan Financial District atau Golden Triangle of Jakarta. Tentu saja kawasan Jakarta Pusat bisa kita sandingkan dengan Manhattan, New York atau Melbourne, Australia dan juga Gothenburg, Swedia.

Saya ke daerah ini juga bisa dibilang masih bisa dihitung jari, ketika Car Free Day, ketika pulang malam-malam dari Kenduri Cinta Maiyah di Cikini atau sengaja melewati pusat ibu kota ketika ingin berpergian ke Jakarta Utara dari arah Tangsel. Terbilang norak tetapi inilah memang kenyataan yang terjadi (haha).

Pesona yang membuat saya tertarik akan jalan Sudirman-Thamrin sangat banyak. Jika dijabarkan maka terbentang dari Monumen Pemuda Membangun sampai Monumen Nasional itu merupakan jalan lurus (straight way) yang sangat calm dan relaxing dengan tata kota yang sangat baik dan juga skyscraper yang bertebaran.

Apalagi ditambah dengan adanya jalur khusus pejalan kaki, jalur untuk pesepeda dan fasilitas halte Transjakarta dan stasiun MRT yang berada di bawah tanah dengan konsep futuristic-nya. Makanya saya sangat kontra ketika terjadi demo Omnibus Law di mana ada oknum tertentu yang merusak dan membakar halte-halte ini. Toh, fasilitas halte bagus-bagus bukannya dirawat.

Bagi orang dari luar daerah Jakarta, hal yang pertama kali akan dikunjungi adalah Monumen Nasional (Monas) serta Bundaran HI. Dengan begitu, maka sudah bisa dikatakan afdhol menginjakkan kaki di Jakarta. Begitu pun dengan saya yang masih sangat excited ketika melewati atau bahkan melihat langsung kedua landmark populer ibu kota tersebut.

Tempat yang menjadi daya tarik tersendiri menurut saya seperti GBK, Fx Sudirman, Thamrin 10, Senayan City hingga Sarinah merupakan tempat-tempat hiburan yang mempunyai nilai unik tersendiri. Tidak ketinggalan juga gedung pemerintahan seperti Kedutaan Besar negara-negara, Kemenag, Kemendikbud, Kemenko Maritim dan juga Kemenpan RB yang di dalamnya dihuni orang-orang penting pejabat negara.

Ohhh iya tidak ketinggalan landmark iconic lainnya yang berada di kawasan ini seperti Patung Jenderal Sudirman yang setiap hari seolah-olah tiada henti memberi hormat. Dan juga tentunya Bundaran HI yang di tengahnya terdapat Monumen Selamat Datang yang seolah-olah melambai ke arah Monas yang didirikan pada era Gubernur Henk Ngantung.

Menjadi warga ber KTP Jakarta belum tentu bisa berkantor di kawasan yang banyak berdiri gedung pemerintahan, gedung bisnis nasional dan multinasional ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warga dari sekitar Bodetabek yang kesehariannya berkantor di jalan Sudirman-Thamrin. Bisa bekerja dan berkantor di kawasan ini merupakan idaman yang semoga tidak menjadi angan-angan.

Sebagai orang pinggiran Jakarta yang sering lupa kalau naik motor di Bundaran Semanggi harus belok kiri dan tidak boleh lurus karena kalau lurus nanti ditilang. Tentu hal seperti ini merupakan hal sepele, tetapi mempunyai arti yang sangat besar untuk kengirian bisa berada di sana. 

Jadi, siapa gerangan yang tidak mau berkantor di kawasan ini?
0Comments

Previous Post Next Post

ads