Cerpen J. Deida

Gambar: Lokadata.ID

Lelaki itu mondar-mandir di kamarnya seperti Gregor Samsa yang bingung dengan tubuh kecoanya. Sesekali ia masih menatap cermin lagi. Di sana ia yakin ia bukan Samsa. Dia tersenyum. Kadang terkekeh-kekeh. Tapi makin lama, yang terdengar adalah tawa kesedihan. Makin lama ia makin bingung, sebab tawa yang bercampur kesedihan makin membuatnya seakan diejek. Ia putus asa. Ia lemparkan tubuhnya ke kursi. Tubuhnya yang ringan melayang begitu saja. Dan. Pruk! Jatuh ke kursi.

Di hadapannya, di atas meja tulisnya, ada berlembar-lembar kertas kusut. Kertas-kertas itu berisi tulisan-tulisan tak tuntas dari sebuah percobaan untuk menjawab masalah itu. Kadang terlihat kata-kata yang agak ‘filosofis’. Kadang seperti sebuah rangkaian kalimat yang gagal dipahami. Seperti ditulis oleh sebuah kepala yang sedang merayakan kegilaan.

Kertas-kertas itu seakan baru saja mengalami penyiksaan dari lelaki itu. Masih mujur kertas-kertas itu tak berakhir dirobek, dilemparkan ke tempat sampah, atau dibakar. Kertas-kertas itu hanya diremas-remas saja. Tapi seakan ada kekuatan tak terlihat yang menahannya dari merobek kertas itu. Kekuatan tak terlihat itu seakan memberi petunjuk bahwa seorang pemikir sepertinya memang dilahirkan untuk jadi pemikir yang gelisah. Kadang risalah pemikiran yang menakjubkan bisa datang dari pikiran yang sakit. Kelak bila ia menemukan kiat-kiat yang mantap untuk melupakan kisah cinta yang gagal, maka ia menolong banyak orang yang hidup dalam cinta yang tak bernasib mujur.

“Bisakah seseorang memilih ingatan yang ingin diingatnya, dan membuat ingatan lain yang ingin dilupakannya?”, bisiknya mengulang-ulang kalimat yang tertulis di kertas itu. Kalimat pertanyaan itu membuatnya terdiam. Segenap pikirannya sedang menjelajahi rimba kemungkinan jawaban. Kerut di dahinya makin terlihat jelas. Tanda ia sedang berpikir keras. Tangannya meraih sebuah pena. Dan ia membubuhi titik-titik di kertas yang lusuh itu. Lalu ia coba tenggelam dalam spekulasi pikirannya dengan menulis beberapa kalimat lagi:

…Nampaknya lebih mudah melupakan ingatan daripada memililih-milihnya.

Pena di tangannya berhenti seperti mahluk yang bingung. Sedangkan sekujur kertas itu masih terbentang putih mulus. Ia melanjutkan:

Ingatan adalah kelebat potongan peristiwa yang kita alami. Potongan itu bisa berkelebat begitu saja. Seakan potongan ingatan punya hukum sendiri untuk muncul dan hilang. Anehnya, peristiwa yang paling ingin kita lupakan justru yang sering muncul kepada kita.

“…peristiwa yang paling ingin kita lupakan justru yang sering muncul kepada kita”, ulanginya dengan pelan-pelan sekali. Ia memejamkan matanya. Kedut hidungnya seakan sedang menarik nafas panjang. Kedut berikutnya adalah sebuah hempasan.

“peristiwa yang paling ingin aku lupakan…”

Ia kembali menekuri kertas yang bersedia dijejaki oleh percik-percik spekulasi pikirannya. Dalam menekuri pikirannya ini, kadang ia bertanya apakah ia sedang menuliskan sebuah spekulasi tentang cintanya yang patah, apakah sebuah pleidoi atas kekalahannya pada nasib yang membuangnya dari khazanah kisah-kisah cinta, ataukah basa-basi saja untuk menunda-nunda dirinya terjatuh pada kepedihan yang diam-diam terus menikamnya dari belakang.

Ia tak peduli. Ia tak ingin peduli. Maka ia kembali menekuri pikirannya dalam kembara pertanyaan-pertanyaan yang entahlah sampai kapan akan berakhir dengan menjumpai jawaban yang memuaskan.

Seakan-akan ingatan adalah peristiwa masa lalu yang diutus untuk menyiksa kita, mendorong kita pada kekalahan, kesedihan, keterpurukan, dan nasib sial apapun. Pada titik ini, aku menjadi ragu: jangan-jangan kita tak akan bisa melupakan kenangan. Semakin kita berusaha menaklukkan ingatan dan kenangan, maka semakin kuatlah ingatan itu muncul ke permukaan pengalaman hidup kita.

Ia berhenti menulis. Dan ia seakan ingin menyudahi upaya spekulatif mencari jawaban tentang melupakan peristiwa yang disebut kenangan. Kadang ia berpikir bahwa melupakan kenangan adalah lelucon yang mengundang gelak tawa.

Ia melempar tubuhnya ke tempat tidur. Ia ingin terlelap. Baru saja matanya terpejam, ia mendengar sebuah nyanyian. Dimulai dengan intro petikan gitar. Terdengar begitu jelas. Iramanya nampak begitu merdu. Nada-nadanya mengetuk perasaannya. Membawanya pada satu tempat. Sebuah kedai di sebuah bukit pada suatu malam. Lampu-lampu menyala seperti jutaan kunang-kunang yang tak bergerak. Jutaan kunang-kunangan yang hanya pernah ia khayalkan begitu membaca cerpen Umar Kayam, “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”.

Tangannya tiba-tiba terasa hangat. Ada tangan yang perlahan menggenggamnya. Tubuhnya terasa terhindar dari pelukan dingin, ada peluk yang tiba-tiba penuh kehangatan. Dan ada sinar cinta pada sepasang mata yang berdiri di sampingnya.

Di sela itu, lirik yang akrab terdengar…. mengalun-alun indah sekali. Ia kini terjebak pada khayalan filosofisnya. Jangan-jangan kandungan keindahan dari lirik-lirik lagu itu tidak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri, tapi juga dinikmati oleh sederetan lirik-lirik itu sendiri. Jangan-jangan keindahan itu adalah sesuatu yang ... ah, dan ia tenggelamdalam  buaian keindahan, kenangan, cinta, dan entah apa lagi.

Love is on the way
I can see it your eyes
Let's give it one more try tonight
baby.


Tapi ia tersentak. Kedua matanya terbuka. Dan seluruh masa lalu yang dibawa oleh nyanyian itu buyar seketika. 

Ia masih terlentang di atas kasur. Ia kini tak membiarkan matanya terpejam. Ia menatap langit-langit rumahnya. Ia menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Mulutnya mengatakan beberapa patah kata yang terdengar berat dan ia lanjutkan sebagai tulisan di atas kertas lusuh yang hampir dibuang ke tempat sampah:

…baru saja mata ingin terlelap, kenangan sudah mengambil tempat di tidurku. Seakan di mana-mana kenangan membayangiku. Menempel di dinding-dinding kamarku. Bahkan mencuri tempat dalam mimpiku. Kenangan sudah seperti rezim kuasa yang kerjaannya menyusahkan. Bila kuasa kenangan ada di mana-mana, di mana aku bisa bersembunyi? Bagaimana aku bisa menemukan jawaban untuk bisa melupakan?
0Comments

Previous Post Next Post

ads