Oleh: Deyna Mikaila Juba

Gambar: Kurungbuka.com


“Boleh dibilang aku mampu menemukan sejenis kebahagiaan yang orisinil. Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan untuk memahami mengapa ini terjadi”.

Kalimat itu bukan diucapkan oleh manusia. Melainkan seekor beruang kutub yang terpenjara. Dan penjara jadi tempat kesunyian yang jadi guru baginya untuk semakin memahami kehidupan, dalam sekecil-kecilnya kehidupan.

Kehidupannya yang terpenjara dimulai dari ulah jahat manusia. Seluruh kebebasannya direnggut. Dunia kutub yang semula memberinya kebebasan yang luas, kini tinggal kenangan. Dunianya kini hanya seluas penjara kecil dibuat oleh manusia. Begitulah permulaan kisah hidup tentang seekor beruang bernama Baltazar.

Kisah tentang beruang kutub bernama Baltazar ini mengungkapkan kepada kita tentang banyak sisi dari diri manusia dan kehidupannya: ada sisi kejahatan yang digambarkan dalam bentuk penyiksaan kepada hewan kutub ini – atau kepada binatang-binatang lain, ada sisi kebaikan, ada sisi tentang ketidakadilan yang tidak ditemukan di dunia non-manusia (setidaknya dalam renungan si Baltazar), dan keunikan-keunikan lainnya.

Dalam kisah ini, penjara yang meringkus kebebasan Baltazar dan menjadikannya tontonan manusia tak membuatnya berpikir untuk marah (biar pun semula, ia begitu marah dan ketakutan kepada manusia). Justru, di balik penjara itu, ia – ditemani guru paling setia, katanya, kesunyian – mendapatkan banyak hal penting dari perenungannya.

Di sini, Baltazar adalah beruang yang bijaksana. Bila bijaksana kita kembalikan ke muasalnya, philoshopia, pecinta kebijaksanaa, maka tak salah lagi, Baltazar yang kita ceritakan di sini adalah sosok beruang filsuf.

Keanehan Kehidupan Manusia

Perjumpaan Baltazar, beruang filsuf ini, yang begitu berkesan dengan diri manusia adalah saat suatu hari, ia ditatap sepasang mata seorang anak perempuan kecil. Anak itu tidak menampakkan rasa takut. Dari sinar matanya, Baltazar merasakan aura persahabatan yang datang dari manusia. Anak itu sendirian, tak punya siapa-siapa, dan pakaiannya agak compang-camping.

Di titik ini, si beruang bijak bertanya-tanya tentang dunia manusia. Mengapa kehidupan manusia begitu berbeda dengan kehidupan beruang? Di kehidupan beruang yang ia jalani sebelum tertangkap manusia, ia tak melihat suatu perbedaan antara satu beruang dengan beruang lainnya. Tiap-tiap beruang hidup dalam satu solidaritas yang kuat: tak ada yang lebih memiliki sesuatu, dan tak ada yang kekurangan sesuatu. Memiliki atau kekurangan sudah terbagikan secara kelompok. Sehingga mereka sama rata sama rasa dalam arti yang sesungguh-sungguhnya, bukan dalam arti yang seperti slogan-slogan dunia manusia.

Singkatnya, mengapa di kehidupan manusia, ada sebagian yang wajahnya berseri-seri penuh binar bahagia, tapi ada juga yang terlihat murung dan sedih? Mengapa ada yang sendirian dan dengan polos mengatakan ‘aku tak punya siapa-siapa’, lalu manusia lain, yang ramai-ramai, yang banyak itu siapa? Dan mahluk kecil ini milik siapa? Baltazar yang bijak menjadi terlihat kasihan kepada anak kecil itu. Dan sejak itu, rasa benci kepada manusia perlahan berubah rasa simpati dan sedih melihat kehidupan manusia.

Rutinitas Monoton Manusia

Dalam pandangan Baltazar, manusia-manusia nampak cepat bosen. Mereka seakan menghadapi hari-hari sebagai hal yang berulang-ulang dengan begitu datar dan seakan tak ada yang spesial dari pergantian hari ke hari. Sehingga dalam kebosanan itu, manusia menderita keinginan untuk mencari kebahagiaan, penghiburan, atau sesuatu yang tak monoton, yang berubah, yang lain.

Sebaliknya, Baltazar sendiri merasakan hari-hari yang berganti, dari pergantian siang menjadi malam, dan malam yang menjadi siang, penuh dengan kebaruan dan perubahan. Bagi Baltazar, dalam pergantian siang dan malam, dari waktu ke waktu, tak pernah sama. Ia menangkap kebaruan pada udara yang dia rasakan dari waktu ke waktu: udara siang, sore, dan malam. Siang ke siang. Sore ke sore. Malam ke malam. Bahkan dalam tiap detiknya, udara yang dirasakannya tak selalu sama.

Ia menangkap kebaruan pada setiap pemandangan yang diterangi oleh matahari, pada tiap-tiap pepohonan. Pokoknya, dalam pandangan Baltazar, tak ada yang monoton dalam pergantian waktu. Selalu ada kebaruan yang membuat dirinya hidup dalam waktu yang seakan terus bergerak dan berubah.

Manusia, kata Baltazar, biar pun punya kehidupan yang bebas, tak terpenjara seperti si beruang filsuf itu, seluas bumi, seluas dunia, tapi selalu merasa ada ke-monotan-an yang membosankan. Manusia tak dapat menangkap perubahan terkecil dari kehidupan ini. Sehingga tiap-tiap hari yang dijalaninya, kemarin, hari ini, atau esok, seakan sama saja. Mereka tak dapat menangkap hal yang terkecil yang bisa membuatnya selalu hidup dalam kebaruan dan akhirnya hidup dalam kebahagiaan. Sebab sejatinya bila mereka dapat menangkap perubahan dan keunikan pada tiap waktu yang bergerak, berganti, atau berubah, maka di situlah hidup menjadi lebih berharga, bermakna dan membahagiakan.

Kemampuan Baltazar menangkap makna, perubahan, dan kebaruan pada tiap waktu yang terus berjalan ini membuatnya ia lupa pada keterkungkungan fisiknya. Di titik ini, Baltazar seolah mengatakan, betapa pun fisik kita tertahan di suatu tempat, bila kita mampu menangkap makna, perubahan, atau hal-hal kecil dari dunia ini, maka di manapun kamu berada, di sana selalu ada kebahagiaan. Kau tak perlu melanglang ke belahan dunia mana pun untuk sekedar menghidari dari kemonotanan yang tak membahagiakan. Cukup resapi adakah udara yang kemarin selalu terasa sama dengan hari ini, atau besok? Adakah daun yang terlihat hari ini, warnanya masih sama dengan warna esok hari?

Dan andai Baltazar adalah seorang manusia, mungkin aku jadi ingat Hieraklitus, seorang filsuf yang sangat terkenal dengan gagasannya tentang panta rhei kai uden menei. Segala sesuatu mengalir dan tak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. “No man ever steps in the same river twice”.

Dan sebagaimana judulnya, “Kenang-kenangan yang Mengejutkan si Beruang Kutub”, Claudio Orrigo Vicuna, sang penulis novel itu, terus menghadirkan banyak kejutan dari renungan si beruang kutub yang bijaksana ini hingga akhir novel yang tak tebal ini. Aku sendiri membacanya beberapa jam sebelum tidur, dan tulisan ini selesai di siang hari.
0Comments

Previous Post Next Post

ads