Oleh: Ben Yowes

Gambar: Republika.co.id


Punya tetangga yang suaranya merdu itu memang anugerah yang patut sekali disyukuri. Suatu pagi, sewaktu saya masih belum seratus persen terbangun dari dunia mimpi, ya bisa dibilang antara tertidur dan terjaga, terdengar lamat-lamat, sebuah suara yang sangat lembut sekali, dibawa oleh angin melewati tiap celah yang akhirnya menghantarkan masuk ke kamar tempat tidurku.

Suara itu adalah sebuah senandung lagu-lagu. Aku tak tahu persisnya apa judul yang dinyanyikannya. Dia menyanyikannya sembari diiringi oleh gitar akustik. Cara dia bernyanyi, kemampuannya membuat nyanyian terdengar indah, teknik-teknik suaranya, nampaknya ia terlatih. Entah bakat alam atau mungkin hasil latihan. Saya bisa pastikan: dia cocok jadi penyanyi, entah sekedar sebagai penyanyi di youtube atau media sosial lainnya, atau tampil di panggung-panggung kecil.

Sampai jam menunjukkan jam sebelas sekian-sekian, saya masih terus menikmati dia melantunkan lagu-lagu itu. Hanya jeda panggilan adzan yang berkumandang dari toa-toa masjid yang membuat lagu itu terhenti dan entahlah, apakah dia akan lanjut bersenandung lagi atau tidak?

Siapakah dia? Siapa lagi kalau bukan tetangga kontrakan yang rumahnya tak persis berhadap-hadapan. Tapi bila aku ada di kamar tidur, maka jendela kamarku - dengan garis sedikit menyerong – segaris dengan pintu ruang depan kontrakannya, tempat dia biasa bernyanyi, menunjukkan kemampuannya melantunkan lirik-lirik penuh cinta dan kelembutan.

Sebenarnya ini bukan kali pertama dia bernyanyi. Kadang-kadang dalam seminggu, ia bisa bernyanyi 2-3 kali. Jadi, bila aku ada di kontrakan, sering juga aku menikmati secara diam-diam - dan tentu saja gratis - dia bernyanyi. Sering aku dengar dia menyanyikan lagu-lagu penyanyi perempuan. Mungkin karena dia perempuan dan suaranya cocok dengan lagu-lagu yang dibawain perempuan – beda denganku yang asal ‘ngicap’, mau itu lagu yang cocok untuk perempuan atau laki-laki, hajar saja. Dan hasilnya, bisa disimpulkan dengan baik: tak terlalu manis.

Pagi ini pun – sebenarnya sudah menjelang siang – dia membawakan beberapa lagu yang enak didengar. Aku tak perlu menyalakan lagu-lagu dari youtube atau spotify sebagai teman ngetik. Cukuplah membiarkan tetanggaku tetap bernyanyi dengan manis dan lembut, dan aku menikmatinya. Indah betul.

Kadang terpikir olehku untuk sedikit berkenalan dan basa-basi untuk bisa merekam suaranya – atau barangkali merekamnya secara visual juga – untuk aku bagikan ke story WA atau IG, atau media sosial lainnya sambil bilang: oy sini, main ke kontrakan, sekedar mendengarkan tetangga yang suaranya keren. Kadang terpikir juga untuk jadi youtuber yang berisi rekaman tetangga lagi bernyanyi.

Tapi itu sekedar harapan-harapan saja. Kalau dia tidak mau, kalau dia menolak untuk direkam, kalau nanti dia tidak mau nyanyi lagi, nah…kekhawatiran-kekhawatiran itu yang akhirnya bikin aku merasa ‘tidak usahlah ngerekam’ dia. Lagipula, musik yang enak sudah cukup untuk dinikmati telinga saja. Kalau nanti dia tenar dan tak nyanyi lagi sebagai tetangga, kan rugi telingaku yang suka dengerin yang gratisan.

Ah, ngomong-ngomong, punya tetangga seperti ini bikin betah saja. Biarpun kami tak saling banyak bicara – sebab pola pertetanggaan di kontrakan yang sedikit elit dan model kompleks ini memang nampak didesain saling bersikap individual: aku-aku, kamu-kamu. Ya sesekali saja kalo tak sengaja bertemu wajah, bertemu mata, dan tidak bisa pura-pura tak saling lihat, misalnya, maka di situlah kami harus saling menyapa yang didahului senyum: dibuat semanis mungkin.

Ya, pertetanggaan ini sebenarnya tak menarik. Ada rasa kikuk. Tak ada rasa kekeluargaan. Yah semoga saja, dengan medium kesalingsukaan pada musik, itu jadi titik mula untuk saling kenal dengan tetangga. Hehehe.
0Comments

Previous Post Next Post

ads