Puisi Alim



I

Runtuhnya Tubuh Puisi


Tak ada sebuah terang
yang benar-benar terang
selain suara sajak-sajak
yang ingin keluar dari hutan.

Di sebuah pekarangan
Tak ada warna yang benar-benar
campur - aduk seperti lukisan para seniman.

Kesepian dan putus asa
menjelma waktu hanyut sia-sia
dan tarian para yoga
tak mampu menjadi suara ‘pembebasan’.

Wahai malam yang telanjang
tubuhku menggigil seperti tenggelam
di dalam salju.

Wahai wanita puisi
Kemarilah bawakan semangat baru
dari riuhnya ombak dan gelombang.

Siasat, 2021

II

Mata Puisi

Di hadapan mata puisi
Aku tidak melihat api perlawanan
seperti penyair-penyair revolusioner.

Tampak , aku melihat mata - bibir langit
yang memanggilku untuk terbang
melintasi garis-garis cawan.

Aku tak punya semangat pemberontak
yang tersisa
selain setangkai anggur
yang membaluri tubuh sendiri.

Di bawah langit
melihat kunang-kunang membawa sedikit terang
seolah ia membangunkan kematian !
dan seorang anak dengan tubuh telanjang
tersenyum nakal di hadapanku.

Angin-angin terasa tenang setelah membunuhku
di hadapan wanita puisi –
setelah aku selesai berdansa dengannya. !

Siasat, 2021


III

Puisi Suara Pembebasan


Ketika dia memandangku seperti
Kutukan setelah aku berhenti berdansa
perangkap helaian jari-jarimu
membawaku terjebak – terserat ke dalam lubang hitam.

Seadainya aku seperti angkrek
pemakan daging. Setelah matamu
berubah bujur panah di dada.

Aku telah tersayat di rambut dewi
dan nafas bayi. Kemarilah, lemparlah
tali busarmu
sehingga aku bisa memanjat kembali.

Dan ketika teriakan puisi berhenti
telinga menjadi tuli. Biarlah aku terkunci
ke dalam sebuah kotak hitammu.

Siasat, 2021

0Comments

Previous Post Next Post

ads