Oleh: Moh. Alim

Torajasatu.com

Musik adalah profesi Seniman atas capaian suatu karya seni. Bagi orang-orang Toraja, musik adalah kehidupan itu sendiri yang sudah melekat sejak dulu.

Ciri khas musik Toraja sepenuhnya terletak pada peleburan kedalam praktik-praktik agama tradisional. Durkhem menyebut kepercayaan purba, yakni animisme yang cenderung terhadap spirit dewa-dewa. Di dalam masyarakat Toraja, yang disebut agama lokal adalah Aluk Todolo. Maka tidak mengherankan bahwa budi-daya tersebut tetap eksis dari dulu sampai sekarang.

Pengaruh Misionaris dan Kristenisasi


Pengaruh misionaris sangat penting terhadap perubahan-perubahan musik tradisional Toraja. Edwin de Jong menjelaskan bahwa banyak aspek musik tradisional yang lain tetap eksis. Penulis menganjurkan beberapa tinjauan singkat tentang ritual tradisional musik Toraja dan juga dampak kekristenan pada musik tersebut, dengan penekanan khusus serta kemaslahatan hidup orang-orang Toraja.

Aspek-aspek musik terdahulu tersebar luas dari Asia Tenggara hingga Oseania. Sedangkan para misionaris Kristen cenderung bertindak mencegah pertunjukan tari dan lagu tradisional. Larangan-larangan tersebut cukup beragam menurut wilayah, misi, dan perintah agama. Sedangkan umat Katolik cenderung sedikit lebih toleran.

Penduduk Tana Toraja mayoritas memeluk agama Kristen sejak 1960 sampai sekarang. Sedangkan agama leluhurnya tetap dipraktikkan secara ketat walaupun populasi kurang dari lima persen, walaupun orang-orang Kristen di Toraja masih mengikuti kebiasan lama dalam ritual-ritual yang mereka segani. Secara dogmatis jelas ini sangat kontradiktif dengan realitas yang sebenarnya.

Sejak pertengahan abad kedua puluh, Toraja tetap eksis mempraktikkan agama politeistik yang disebut aluk nene’, atau aluk to dolo, “hukum para leluhur”. Secara etimologi Aluk Todolo berasal dari dua istilah dalam bahasa Toraja yakni “aluk” dan “todolo”. Kata aluk memiliki arti aturan atau cara hidup, sementara todolo berarti nenek moyang. Dengan demikian, Aluk Todolo berarti agama para leluhur, atau cara/aturan hidup para leluhur.

Aspek-aspek di atas juga tidak lepas dari problematika kehidupan sosial kontemporer. Karena agama tersebut penting seperti banyaknya orang Austronesia lainnya, orang Toraja merepsentasikan diri sesuai dengan jalur matahari dan arah sungai.

Matahari terbenam (matampu), dan hilir (sau), terkait dengan dunia kematian leluhur, warna hitam. Sedangkan matahari terbit (matallo), dan hulu (rekke) terkait dengan dunia kehidupan, kesejahteraan, dewa dan warna kuning. Selain itu, mereka juga mengatur kehidupan ritual dengan dua kelompok dasar ritual. “Ritual pengaturan matahari” (aluk rampe matampu), yang berkaitan dengan pemakaman.

Implikasi ini merupakan tanda lepasnya ruh almarhum dari dunia nyata ke dunia leluhur, dewa (puang), dan dewa (deata), kemudian kembali ke dunia deata, yang terletak di sisi matahari terbit, begitulah pemahaman purba masyarakat Toraja.


Empat Prinsip Ritual


Morfologi ritual etnis Toraja didasarkan pada empat prinsip: (1) pembalikan yang mewajibkan setiap manusia untuk menangkal pemakaman (barat), oleh ritual kesuburan (timur), dalam lintasan simbolik dari barat ke timur; (2) keseimbangan (bahi), yang berarti ritual barat harus pada tingkat yang sama dengan ritual timur; (3) gradasi, yang menurutnya ritual timur diatur sebagai tangga (eran), naik dari ritual terkecil ke yang besar.

Dalam hal panjang dan besarnya seperti persembahan hewan dan musik; dan (4) siklus, dalam arti bahwa Toraja harus mengikuti siklus ritual, dibangun di atas lorong dari barat ke timur.

Dengan ritual barat merupakan tahap di mana jiwa meninggalkan manusia, dan status menjadi leluhur ilahi ketika ritual timur setara. Empat prinsip ini – pembalikan, keseimbangan, gradasi, dan siklus-merupakan dasar motif morfologi ritual tradisional toraja, kadang-kadang disebut di wilayah utara sebagai aluk pembalikan (hukum pembalikan).


Dampak Perubahan Sosial Etnis Toraja


Pada awal abad dua puluh ada beberapa faktor terkait kontribusi dalam perubahan pertunjukan musik leluhur. Ketika Toraja sebagai wilayah pertama yang dijajah oleh Belanda pada tahun 1906-1942, setelah mengatur distrik adat, memenangkan Negara, lalau berperang dengan kerajaan dari selatan, untuk memaksakan sekolah dan agama Kristen.

Konvensi Kristen meningkat sekitar 1960-an karena takut perambahan sedangkan sebagian muslim disebabkan pemerintah Indonesia sejak tahun 1945, secara resmi diberlakukan monoteisme. Setelah sepuluh tahun konvensi paksa pada tahun 1969, agama tradisional akhirnya diakui, tetapi kemudian hanya sebagai varian lokal Hindu yakni, Indonesia-Hindu, yang secara resmi diinterpretasikan sebagai moneteistik.

Pada tahun 1913, misionaris Belanda pertama ke Toraja, Van de Loosdrecht, dikirim oleh Gereja Calvinis Reformasi Belanda. Ia masuk gereja melalui sekolah dengan bantuan ahli bahasa H. Van der Veen, seorang menerjemah al-kitab ke dalam bahasa Toraja. Namun, kaum bangsawan Toraja menentang Kristenisasi. Van de Loosdrecht sehingga mulai bekerja dengan orang miskin dan budak, berjuang melawan ketidakadilan.

Musik tradisional Toraja, selain estetik juga membantu aliran ruh dari barat ke timur sebagai agenda politik lokal, yang berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi seseorang, dan juga berfungsi sebagai simbol identitas daerah. Dengan perubahan musik dan agama tersebut, Pemerintah Belanda tidak dapat menghentikan ritual-ritual purba yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Toraja.

Identitas dan budaya Toraja banyak yang bertahan, diperkuat oleh kesinambungan pentingnya hutang seremonial, nama, silsilah, ritual leluhur, pemakaman, upacara rumah, dan nilai-nilai moral yang berhubungan timbal balik antara kerabat, simbiosis-mutualisme.

Terlepas dari transformasi perubahan sosial masyarakat Toraja, musik lokal Toraja telah berkontribusi sebagai sarana kolektif, dan juga berperan untuk meningkatkan prestasi sosial masyarakat toraja dari dulu sampai sekarang.

Makale, 2020

0Comments

Previous Post Next Post

ads