Cerpen oleh Sonara Soarge

Cerpen Rontal
Gambar: karangmojo.desa.id


Tak ada yang bakal merestuinya. Ia tak punya trah apapun. Bukan dari golongan mana pun. Tak punya rekam jejak yang meyakinkan. Orang tak mengenalnya. Ia hanya secuil manusia yang tak sengaja dilemparkan ke suatu desa yang tak pernah mengenalnya sebagai sosok penting.

Tapi ia seperti pemimpi di siang bolong. Benar-benar pemimpi. Ia tak peduli basa-basi trah politik. Tak peduli tetek bengek yang bisa membuat seseorang terpilih. Satu-satunya yang ia pegang: ia punya ijazah S1.

Di kampungnya, tak banyak yang punya gelar itu. Bisa dihitung dengan jari. Dan dari sekian yang punya gelar, hanya dia yang punya ambisi untuk jadi kepala desa. Yang lain-lain cukup sadar diri.

*
Beranda rumahnya yang tak luas sudah dipenuhi oleh kawan-kawannya. Roni, kawan dekat sewaktu kuliah, datang pertama kali. Dia yang paling menentang keinginan Naim, sang tuan rumah.

“Maaf-maaf, kau mimpi apa, im?”

Naim tak merasa bermimpi apa-apa. Ia yakin Roni tak sedang bertanya serius. Makanya ia hanya menanggapi pertanyaan itu dengan tawa ringan saja.

“Im, ini serius. Kau mimpi apa kok tiba-tiba mau menjadi kepala desa?”.

Naim memandang Roni dengan sangat aneh. Ia pandangi beberapa lama wajah kawan yang baik itu. Naim mencoba mengingat-ingat kapan ia terakhir kali berdiskusi dengan Roni. Dan selama ini, ia mengenal Roni sebagai manusia yang cerdas, kritis, dan kutu buku. Jadi bila saat ini, Roni mengaitkan ambisinya untuk menjadi kepala desa dengan mimpi, ia jadi susah menjawabnya.

“Kau pasti bercanda, Ron”, jawab Naim.

“Ya, sekali pun itu canda, tapi itu rasanya sekedar mimpi. Kau tak mungkin terpilih. Kau bukan siapa-siapa. Kau tak punya apa-apa, eee... maksudku, kau tak punya modal apa-apa”.

Naim mengambil sebatang rokok. Membagikan sisanya kepada kawan-kawannya. Ia sulut ujungnya. Lalu ujung yang lain ia hisap. Ia hempaskan asapnya ke langit.

“Jelas, ini bukan mimpi, Ron. Kau lihat sendiri. Ini bukan mimpi. Saya benar-benar ingin menjadi kepala desa. Sudah cita-citaku sejak dulu jadi kepala desa. Untuk apa jauh-jauh kuliah, cari ilmu, Ron, kalau bukan membangun desa...”.

Naim terhenti. Roni tergelak. Naim segera menangkap nada mengejek dari gelak tawa sahabatnya itu. Tawa Roni tak diikuti kawan-kawan yang lainnya. Tapi tak berarti mereka mendukung Naim. Kawan-kawannya merasa ambisi Naim tidak masuk akal. Makanya salah satu dari mereka juga turut nimbrung.

“Membangun desa ya boleh-boleh saja, im. Tapi tak harus jadi kepala desa”.

“Jo, kau tak mengerti. Membangun desa itu harus masuk struktur kekuasaan strategis. Dan pucuknya adalah kepala desa. Kau bisa atur perangkat desa semau kau. Kau bisa ajak mereka mengikuti cita-cita kita membangun desa”.

“Itu tak salah, im. Tapi pikirkan saja. Realistis saja. Bila kau tak mungkin bisa memegang pucuk itu, ya kau harus ambil langkah lain”.

*
Naim tak puas dengan saran kawan-kawannya. Bagi Naim, saran-saran mereka bukan hanya tak masuk akal, tapi pengecut. Belum apa-apa sudah menyerah. Belum apa-apa, sudah ambil kesimpulan: ‘susah’.

Malam itu, Naim menemui pamannya. Terjadilah perdebatan yang kesimpulannya sudah bisa kita duga. Pamannya mengeluarkan selembar kertas kusut. Bau kertasnya bisa ditebak. Itu kertas tua.

“Im, sejarah keluarga kita sebagai aparat desa, hanya setingkat ketua RT. Itu juga sudah lama. Dulu sekali. Seterusnya tak pernah ada anggota keluarga kita yang pernah menjadi aparat desa lagi apalagi kepala desa”.

Naim menerima kertas itu dari pamannya. Berisi tulisan tangan tak rapi. Tapi ia jelas dapat mengerti. Itu nama salah satu leluhurnya.

“Itu nama buyutnya buyut”.

Naim hanya mengangguk. Berkecamuk dalam pikirannya, apa salahnya seseorang seperti dirinya bercita-cita jadi kepala desa? Kenapa orang-orang menentangnya dan memustahilkan cita-cita baiknya? Apakah desa sudah sedemikian kuatnya dikuasai segelintir keturunan saja, dan hanya dari trah mereka yang punya hak jadi kepala desa?

Ia belum menemukan jawaban.

*
Kabar mengenai Naim mau mencalonkan diri menjadi kepala desa semakin ramai, heboh. Di warung-warung kopi, orang-orang mulai bertaruh. Tapi jelas, para penjudi ulung sekali pun tak akan menaruh di posisi Naim. Apalagi lawannya memiliki posisi silsilah politik yang jelas, berasal dari keluarga yang memang turun-temurun mengendalikan politik di desa.

“Sudah pasti tak akan ada yang bertaruh pada kemenangan Naim”, tukas salah seorang dari mereka dengan sangat yakin sekali, terlihat dari caranya ia menatap lawan bicaranya dengan mata yang meyakinkan.

“Orang bodoh pun tak akan berpihak kepadanya...”, timpal lainnya, tak kalah yakin, sambil melumat sisa gorengan pisang terakhir di piringnya.

“Tapi setidaknya, mungkin akan ada yang bertaruh soal seberapa besar kekalahan Naim”, sahut yang lain sambil menggerutu tidak kebagian gorengan pisang terakhir.

“Ya, ya kalau itu masih masuk akal. Tapi aku yakin, suara Naim tidak bakal melebihi 30 persen”, sahut lagi yang lainnya yang sekedar ikut-ikutan.

“Pilkades sekarang sangat membosankan. Apa tidak ada calon yang lebih meyakinkan ketimbang Naim”, komentar lagi orang pertama yang lihai memainkan tatapan matanya untuk meyakinkan orang yang mendengarkan.

“Ah... kau kayak tak tau saja. Emang siapa yang cukup gila untuk menandingi calon yang punya kekuatan politik turun-temurun itu?”, sambung lagi seseorang yang pisangnya kini hanya tinggal bekas saja di sela-sela giginya sebelum dibersihkan oleh secangkir kopi yang diseruputnya.

“Kecuali Naim, hahahaha”, jawab lelaki yang barusan kecewa karena tak kebagian pisang terakhir.

“Ya kecuali Naim”.

Dan semua orang berderai dalam tawa. 

Pagi itu, politik jadi lelucon yang membuat warga desa sejenak lupa dengan masalah-masalah hidup lainnya.

*
Pilkades berlangsung. Seluruh prediksi tak ada yang meleset. Para komentator politik dari yang profesional maupun yang tak profesional, semuanya tak salah memprediksi. Naim tak memperoleh suara di atas 20 persen.

Naim sendiri tak nampak sedih dengan kekalahannya. Ia terlihat menerima keadaan. Tiap malam selama beberapa minggu, rumah Naim ramai dengan tamu. Terutama kawan-kawan dia, para tetangga dekat hingga yang jauh.

Mereka semua menghibur Naim. Mulla, kawan dan sekaligus senior Naim, datang juga pada suatu malam. Dia menyayangkan kenapa Naim tidak memberitahu.

“Maaf, kawan, aku lupa betul”.

“Ah tak apa, tapi aku kasih tau. Seharusnya kau tidak buru-buru maju. Situasi politik desa tidak cukup dinamis. Kesetiaan pada tokoh, kiai, cukup sulit untuk diotak-atik. Mereka ini sudah kadung punya modal politik yang kuat. Orang macam kau tak bakal menang. Kau tak punya modal itu”.

“Kalau begitu, aku harus bagaimana?”

“Kau harus membangun modal sosial politik dulu”.

“Caranya?”

“Kau harus jadi tokoh atau orang yang ditokohkan, seperti kiai misal”.

“Tapi aku tak punya modal untuk mengajarkan ilmu agama”.

“Kalo begitu...”

Mulla mendekatkan mulut ke telinga Naim dan berbisik-bisik.

“Kalo begitu, kau bisa jadi bajing”.

“Bangsattttt”.

Mereka pun tertawa-tawa.

0Comments

Previous Post Next Post

ads