Oleh: Melky Molle

Gambar: Naviri Magazine


Nikolai Lenin, gembong komunis yang kesohor itu pernah bilang: “Seandainya pada tahun 1917 itu di kota Petrograd ada beberapa ribu orang saja yang tahu apa yang mau mereka capai, kaum komunis niscaya tidak pernah berhasil menguasai Rusia.”

Kebanyakan tragedi dalam sejarah umat manusia tidak begitu saja terjadi oleh perbuatan maksiat kaum penjahat, melainkan juga karena kegagalan orang-orang yang bercita-cita tinggi, berbakat unggul dan berkepribadian baik namun enggan untuk berbuat sesuatu.

Mereka inilah manusia-manusia yang membiarkan gagasan-gagasan bagus tetap terpendam dalam benak mereka, bakat mereka tidak dapat diaplikasikan buat dunia sekitarnya dan kepribadian mereka tetap kering dari jasa bagi sesamanya. Akibatnya cita-cita mereka tetap tidak dikenal, bakat mereka sia-sia, dan kepribadian mereka tidak membahagiakan sesama.

Oleh kesalahan orang-orang semacam itulah banyak orang dibiarkan tinggal pasif tidak berbuat apa-apa, meski pun kehidupan mereka dalam bahaya. Oleh kesalahan orang-orang semacam itu dunia dibiarkan bergerak di bawah pengaruh manusia-manusia yang tidak bermutu, tidak cakap, bermental bobrok, berjiwa petualangan, yang memanfaatkan situasi kacau demi keuntungan mereka sendiri.

Hegemoni kekuasaan seperti ini dalam kondisi tertentu, bisa jadi bagian dari keburukan yang diulang-ulang sehingga menjadi kebenaran yang biasa disebut sebagai kekerasan epistemik. Karena itu dalam satu waktu Bertrand Russel menasehati para intelektual muda pada masanya dengan mengatakan: “Jangan pernah merasa aneh dalam mengungkapkan pendapat, karena semua pendapat yang sekarang diterima, dulu dianggap aneh.”

Kaum intelektual dalam kondisinya karena kesadaran pengetahuannya selalu memposisikan diri sebagai yang tak tahu apa-apa dari orang-orang yang selalu mengganggap diri bermutu dan banyak gagasan. Kaum intelektual, selain memposisikan diri seperti itu, juga selalu dianggap tak berguna bagi perubahan karena tak banyak bicara.

Karena itu, mereka yang banyak bicara dengan lantang di depan kekuasaan (loyalis) selalu dianggap bermutu dan pantas mendapatkan posisi empuk supaya mudah berkompromi. Kekuasaan akan selalu mencari orang-orang loyalis untuk dirangkul supaya berada pada pihak kekuasaan. Mereka yang bermutu dan berisi pengetahuannya selalu disadarkan oleh kesadaran pengetahuannya bahwa posisi adalah keniscayaan profesionalisme sesuai keilmuannya yang proporsional.

Eksistensi kaum intelektual adalah eksistensi isi kepala yang mengabaikan isi perut. Karena bagi kaum intelektual, gagasan itu keutamaan yamg paling hakiki, dari pada suara sumbang bermental puji-puji kekuasaan demi sesuap nasi untuk isi saku. Karena itu kaum intelektual lebih memilih diam dan merasa aneh terhadap realitas bobrok yang dimainkan oleh orang-orang tanpa kepala. Bagi kaum intelektual, sumbangsih gagasan melampaui kehasratan yang bicara posisi dan asas manfaat.

Karena itu, kaum intelektual selalu dianggap idealis dan hilang motivasi praksis yang tidak berguna bagi kekuasaan. Bukankah ilmu itu untuk kemanfaatan praksis hidup supaya sejahtera? Menurut platon: “orang yang hanya memikirkan soal makan tidak layak menjadi pemimpin". Ini aneh. Saya pun merasa aneh.
0Comments

Previous Post Next Post

ads