Oleh: Fauzan Nur Ilahi

Gambar: inews.id



Begini. Saya awali tulisan ini dengan sebuah disclaimer bahwa saya sebetulnya termasuk orang yang kurang suka berdebat perihal kopad-kopid (Covid-19). Meskipun saya termasuk orang yang percaya, tapi tak ada sedikit pun pretensi untuk membuat orang lain ikut percaya. Bagi saya, dulu, itu urusan mereka.

Hingga sampai hari ini, di mana banyak sekali tetangga, guru, kerabat, serta masyarakat sekitar yang meninggal dunia dengan gejala yang hampir mirip, dan lebih banyak lagi masyarakat sekitar yang sakit dengan keluhan yang juga hampir mirip, membuat saya gerah untuk menulis.

Pasalnya, di tengah situasi semacam ini, masih saja ada kelompok atau golongan yang menganggap bahwa pandemi ini lelucon belaka. Mereka, berbekal informasi yang didapat entah dari mana, dengan sok bilang tak penting itu protokol kesehatan. Mati ya mati saja. Semua sudah ketentuan Tuhan.

Bak seorang ahli, mereka mengutip sumber-sumber dari mulai Facebook, YouTube, internet, sampai TikTok untuk mengukuhkan argumen bahwa wabah tidak nyata.

Tak guna tenaga medis yang bertahun-tahun menghabiskan waktu penelitian di laboratorium, serta ribuan buku yang telah dihabiskan di bangku-bangku perguruan tinggi jika berhadapan dengan ahlul-hoax seperti mereka.

Andai saja, manusia sejenis ini mengkonsumsi hoax untuk diri mereka sendiri, itu masih bisa ditolerir. Tetapi ketika mereka memaksa yang lain untuk ikut juga menolak prokes, menolak segala saran dari tenaga medis dan pemerintah, serta menyebarkan informasi-informasi yang belum jelas validitasnya itu, muncullah persoalan. Tak heran jika penularan penyakit terus berjalan dengan jumlah korban yang juga terus bertambah.

Lingkaran setan ini harus kita benahi. Berharap tindakan dari pemerintah rasanya terlalu jauh. Apalagi saya juga agak pesimis jika sudah menyangkut urusan administrasi/birokrasi khas pemerintah. Lebih baik kita susun rencana yang mudah dilaksanakan saja. Sebab, bagi saya ini adalah persoalan mendesak.

Pertama dan ini mutlak harus dilakukan adalah, harus ada corong yang mampu memberikan edukasi terhadap masyarakat mengenai bahaya wabah dan pentingnya mengikuti prokes. Istilah kerennya influencer. Ya, kita butuh influencer.

Di kampung atau desa, kita tak punya artis atau buzzer. Oleh karena itu, kita butuh sosok yang sekiranya mampu didengar perkataannya oleh masyarakat.

Sosok ini bisa dari segala lapis profesi di dalam masyarakat: bisa kyai, gus/lora, guru ngaji, ustadz, PNS, tokoh masyarakat, atau siapa pun yang sekiranya mampu meng-influence masyarakat.

Kita tahu, bahwa kepanikan dan sikap anti yang muncul dari masyarakat adalah karena ketidaktahuan. Maka langkah pertama untuk mengakhiri segala kegaduhan ini adalah dengan memberi edukasi yang tepat kepada masyarakat.

Jika masyarakat (setidaknya sebagian) sudah teredukasi, maka langkah selanjutnya baru harus segera diupayakan penelitian lebih lanjut. Entah dengan diagnosa, pengecekan massal, atau langkah apa pun yang sekiranya mampu mendeteksi apa yang sedang terjadi.

Langkah ini bisa diinisiai oleh pemerintah, baik dalam lingkup kabupaten, kecamatan, atau desa. Atau bisa juga diinisiasi oleh tenaga medis setempat dengan meneliti para korban. Atau bisa juga dilakukan oleh keduanya dengan cara bekerjasama.

Saat ini kita mungkin curiga terhadap virus Covid-19 sebagai dalang dari kegaduhan ini. Tetapi itu juga belum pasti. Bisa saja ini hanya flu biasa, atau bisa juga ada virus lainnya. Kita tidak tahu sama sekali.

Saat ini, kita ibarat berada di tengah hutan belantara tanpa kompas, atau alat navigasi lainnya. Sehingga kita tak tahu ke mana harus menuju. Sedang kita juga tak punya pengetahuan yang memadai tentang isi hutan tersebut.

Oleh karena itu, riset lebih lanjut mengenai apa yang tengah terjadi ini juga penting dilakukan. Sebab hanya dengan langkah inilah kita akan tahu bagaimana langkah selanjutnya yang akan kita ambil.

Kita sama-sama berdo'a dan berharap kegaduhan ini segera berakhir. Tetapi jika tak ada upaya lebih lanjut, atau hanya menganggap bahwa penyebaran penyakit yang begitu masif serta kematian beruntun ini adalah fenomena biasa, maka jangan harap do'a dan harapan tersebut bisa tercapai. Sekian. (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

ads