Oleh: Fauzan Nur Ilahi
Surat Untuk Bapak dan Ibu dI Kampung
Ilustrasi : Ainul Yaqin

Hai, Bapak. Hai juga, Ibu.

Apa kabar kalian di sana? Kudengar, beberapa hari lalu salah satu di antara kalian ada yang sakit. Kabar yang tidak mengenakkanku, tentu. Namun, aku berharap kini kalian sudah membaik.

Untuk semetara waktu, jangan dulu keluar rumah. Fokus untuk sembuh. Fokus untuk membangun imun tubuh yang baik. Sebab di tengah situasi di kampung yang saat ini kudengar juga tidak baik-baik saja, imun tubuh dan do’a adalah dua hal yang mampu menolong kalian.

Pak, Bu. Aku memang tidak tahu pasti apa yang saat ini tengah terjadi di kampung kita. Tetapi pada beberapa informasi yang kudapat melalui akun medsos, kampung kita nampaknya memang tengah menghadapi ujian berupa penyakit. Entah penyakit apa, sebab masih belum ada tenaga ahli yang dengan serius meneliti, atau setidaknya mendiagnosanya. Hal ini sangat mungkin disebabkan keparnoan masyarakat terhadap wabah yang saat ini tengah meluas. Yakni, Covid-19.

Hingga hari ini, akun medsosku masih sesak dengan berita yang demikian. Berita orang meninggal, orang sakit, atau orang-orang yang mengeluh sebab memiliki gangguan indra penciuman dikuti dengan beberapa keluhan lain semisal demam, sakit kepala, sesak nafas, atau sakit lainnya. Kendati demikian, belum ada yang mampu menetapkan bahwa fenomena ini merupakan gejala Covid-19. Sebab seperti yang kubilang tadi, penelitian serius terhadap fenomena ini masih nihil.

Kondisi seperti ini memang cukup menyulitkan bagi kita. Sebab sukar mengambil langkah bijak jika tidak diadakan pengecekan yang teliti terlebih dahulu. Namun kondisi ini juga bisa kita mengerti, mengingat minimnya edukasi medis terhadap masyarakat, utamanya yang menyangkut virus Covid-19, akhirnya membuat masyarakat anti terhadap hal-hal yang berkelindan dengan Covid-19 semisal swab-antigen, PCR, vaksin, larangan berkerumun, serta hal-hal lainnya.

Tetapi biarlah. Orang boleh menganggap ini hanya efek pancaroba. Namun sebagai anak yang sayang kepada orang tuanya, aku meminta kepada Bapak dan Ibu untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Tetap memberlakukan pola hidup sehat.

Tak usah membeli omongan orang yang mengatakan bahwa Covid-19 hanya bualan. Tak perlu juga terlalu serius mendengar ocehan orang-orang yang, entah dapat ilham dari mana, tiba-tiba punya teori sendiri tentang kesehatan dan wabah. Pun tak perlu Bapak dan Ibu sibuk dengan berita-berita palsu yang hanya didapat dari akun TikTok, YouTube, atau link intenet yang belum jelas kebenarannya.

Mendengar ocehan mereka hanya akan mengurangi imun. Mendebat mereka juga tidak akan menambah imun. Jadi, biarlah mereka dengan keyakinan mereka sendiri. Bapak dan Ibu hanya perlu menjaga diri dan meyakini sesuatu yang sampai sejauh ini masih terbukti mampu menolong kita. Yaitu, ilmu pengetahuan atau hasil penelitian ilmiah.

Bapak dan Ibu mungkin sering mendengar ungkapan semisal ini, “Halah! Kalau udah waktunya mati mah mati aja. Mati itu urusan Allah!”

Ungkapan ini jelas menampik fakta lain bahwa Allah SWT juga punya hukum dan rumus yang perlu kita mengerti. Bukankah dalam kehidupan ini Allah SWT memberi ruang upaya kepada kita? Dan di ruang upaya inilah kita berjuang: berjuang untuk lebih pandai, berjuang untuk lebih kaya, berjuang untuk lebih sehat, berjuang untuk menjaga anugerah kehidupan yang telah Allah SWT berikan. Rumusnya sederhana: barangsiapa yang berjuang, potensi keberhasilannya juga lebih besar.

Poinnya adalah, mengingat usia Bapak dan Ibu yang rentan, saat ini kalian hanya perlu fokus saja pada bagaimana merawat kesehatan. Namun juga tidak perlu panik keterlaluan. Itu juga akan merongrong imun. Cukuplah berupaya dan berdo’a dengan maksimal. Ikuti apa yang sudah menjadi anjuran medis dan hasil penelitian ilmiah lainnya. Sisanya, biarlah kuasa Allah SWT yang menentukan.

Bapak dan Ibu yang begitu aku sayangi. Berdasarkan beberapa literatur yang kubaca, nampaknya virus ini akan tetap ada bersama kita hingga kelak. Sebagaimana Flu, TBC, atau lainnya, Covid-19 akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan umat manusia adalah berupaya untuk memperkuat imun sehingga mampu melindungi tubuh kita dari berbagai virus tersebut.

Mulai kini, sekali lagi, Bapak dan Ibu tidak perlu panik berlebihan. Ini adalah bagian dari proses kehidupan. Kemunculan virus jenis baru itu terjadi bukan hanya pada masa sekarang. Tetapi beriringan dengan sejarah Homo Sapiens itu sendiri.

Jadi, mari kita syukuri atas kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Menjaga tubuh tetap sehat, menghindari penyakit, berupaya untuk merawat lingkungan agar tetap menjadi tempat hidup yang nyaman bagi seluruh makhluk hidup, adalah bentuk syukur kita kepada Sang Pencipta. Aku berdo’a supaya Bapak dan Ibu sehat selalu. Itu saja yang aku ingin sampaikan dalam suratku kali ini. Sekian.
0Comments

Previous Post Next Post

ads