Oleh: Fridol Soroway (Pemerhati Politik)

76 tahun kita merdeka. 76 tahun usia Republik Indonesia. Tidak lagi muda, andai itu manusia. Mungkin sudah renta. Tua bangka.

Kita pun harus sadar sejarah. Kemerdekaan ini tak datang dari langit. Ia lahir dari jerih perjuangan pendahulu kita. Kita tak dapat mengingatnya satu-satu. Sebab di medan perang, mereka menenteng senapan. Bukan buku catatan.

Tapi usia 76 tahun, tak cukup panjang untuk NKRI kita. Sebab, kita masih jauh dari cita-cita yang diinginkan kemerdekaan. Kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia masih sebuah hal yang mesti diperjuangkan. Terus-menerus.

Kita masih menyaksikan ketakmakmuran di mana-mana. Wajah-wajah mengibakan di jalanan. Tangan-tangan yang menadah di jalanan.

Pada saat yang sama, kita mendapatkan tontonan elit-elit yang sekedar mengejar elektabilitas. Ironis sudah pasti. Saat ini tengah pandemi. Gawat pula. Kok masih sempat-sempatnya ‘majang’ muka demi strategi raup suara.

Tak melebih-lebihkan, tapi benar adanya: wajah Ketua DPR RI Puan Maharani terpajang di mana-mana. Ironis tentu saja. Bukan pajangan seperti itu yang kita mau, tapi bantuan langsung di tengah pandemi.

Banyak lagi pajangan-pajangan ironi.

Setarikan nafas dengan tingkah elit-elit pusat, di sini, di utara Pulau Halmahera, kebijakan pembantu bupati – tepatnya Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Pemkab Halut– mengotak-atik izin pangkalan minyak dengan mecabut izin tersebut bagi masyarakat yang memiliki ijin pangkalan minyak tanah.

Padahal baru seumur jagung Pemerintahan Frans - Mulis melakukan aktivitas yang harusnya lebih fokus pada penanganan Covid-19, serta menjawab visi dan misi menuju Halmahera Utara yang MANTAP.

Hari ini, 76 tahun kita merdeka. Kita berharap pemerintah hadir menjawab kebutuhan rakyat. Lewat kebijakan yang tepat sasaran guna mencapai cita-cita bangsa yang sesungguhnya.

Merdeka!
0Comments

Previous Post Next Post

ads