Oleh: Fauzan Nur Ilahi

Gambar: IDN Times


Status teman di aplikasi WhatsApp yang hanya satu paragraf menggelitikku, mengajak jari-jariku untuk segera menulis dan mengomentarinya. Dan mulailah aku menulis catatan ini.

Namun, sebelum menulis bagian komentar, akan kukutip kalimat yang terdapat dalam status tersebut agar dapat kalian baca. Begini bunyi statusnya:

“Aku mengenal beberapa orang yang saat ini sedang “gila”, tepatnya menggilai sesuatu. Ada yang menjalani harinya dengan “menulis” terus, apa pun ditulisnya. Ada yang menggilai “lukis” digital, objek apa pun dilukisnya. Ada yang terus berkutat dengan puisi, apa pun dihayati, direnungi. Mereka butuh “kegilaan” untuk melalui “proses” itu tanpa perlu terlampau dibebani pikiran hasil akhir dan pertanyaan yang bikin menghambat: untuk apa itu semua?”

Kalimat yang bertaburan tanda petik dan tak lebih dari 70 karakter itu bagiku menggelitik bukan karena enak dibaca. Tetapi karena di antara yang oleh Si Empunya status sebut “mereka”, aku ada di antaranya.

Mungkin saja susunan kata dalam kalimat tersebut presisi, aku tak tahu pasti perihal itu karena aku bukan seorang yang pandai bahasa seperti Ivan Lanin. Tetapi kalimat itu cukup untuk membuatku membuka notebook dan mulai menulis.

Baiklah. Aku akan masuk pada bagian komentar.

Aku sepakat dengan premis dalam status tersebut bahwa orang harus punya semacam “kegilaan” agar dapat melalui proses yang, jika ditilik dalam konteks manfaat praktis jangka pendek, kegiatan semisal menulis, melukis digital, dan berpuisi itu sama sekali tak menguntungkan. Apalagi ditinjau dengan tolok ukur materi a.k.a duit.

Hanya kegilaan yang akan membuat seseorang tekun. Dan hanya kegilaan yang menjadikan keuletan dalam bidang-bidang yang ditekuni memiliki umur yang panjang.

Tetapi bermodal kegilaan, juga tak menjadikan seseorang lantas bermutasi dan tak lagi menjadi manusia sebagaimana pada umumnya. Mereka masih dikepung oleh sejuta tuntutan hidup. Utamanya yang menyangkut kebutuhan ekonomi.

Mereka harus bertahan hidup dengan cara makan, membayar uang kosan, menutup tagihan semester, membiayai kebutuhan keluarga, membeli popok baru anak, atau sempak dan BH baru mungkin.

Intinya, kegilaan pada suatu bidang tertentu adalah satu hal. Dan kebutuhan untuk tetap bernafas adalah hal yang lain. Oleh karena itu, sepenggal kalimat dalam status itu yang menyatakan “tanpa perlu terlampau dibebani pikiran hasil akhir dan pertanyaan yang bikin menghambat: untuk apa itu semua?”, sejatinya berlebihan.

Kami, atau setidaknya aku pribadi, tidak betul-betul absen dari pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Kadang—bahkan mendekati sering, dalam pikiranku muncul pertanyaan semisal, untuk apa ini semua? Apakah aku mampu bertahan hidup hanya dengan berbekal kecakapan menulis? Jika iya, bagaimana aku harus bertahan dengan hanya bermodal kemampuan ini?

Hal seperti ini sejatinya wajar-wajar saja, menurutku. Sebab fokus kita terhadap sesuatu, kadang buyar ketika dihadapkan dengan kenyataan hidup berupa kebutuhan-kebutuhan yang menumpuk.

Seseorang boleh saja menggilai aktivitas menulis, melukis, atau berpuisi. Tetapi ia tetaplah manusia yang anatomi tubuhya masih menyimpan usus, lambung, otot-otot, serta organ tubuh lainnya. Pun mereka masih mahluk sosial yang masih memiliki ikatan dengan keluarga, serta kelompok di sekitarnya yang disebut masyarakat.

Sisi “kemanusiaan” inilah yang mustahil ditinggalkan. Serta sisi ini pulalah yang akhirnya melahirkan beberapa tanggungjawab (setidaknya tanggungjawab untuk bertahan hidup) dan sebuah pertanyaan: “untuk apa itu semua?”

Kegilaan dalam satu bidang tertentu dengan dasar suka atau cinta dengan bidang tersebut memang akan sangat menolong kita agar mampu menekuni bidang tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Namun juga tak bijak jika kita mengabaikan tentang seabrek kebutuhan yang diberikan oleh hidup.

Kupikir, memang begitulah hidup. Dalam sistem ekonomi, sosial, dan politik seperti saat ini, sedikit orang yang beruntung. Yaitu mereka yang bekerja sesuai dengan kesukaan dan kecintaan mereka. Mereka yang digaji atas apa yang mereka senangi.

Aku bisa saja menulis setiap hari. Menulis yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Menulis yang hanya demi kepuasan diri. Menulis dengan intim.

Aku juga mampu menghabiskan waktu hanya dengan membaca berbagai buku. Menikmati pagi hingga sore dengan menelan berbagai kalimat yang terdapat dalam buku-buku sastra.

Tetapi impian itu sontak sirna ketika Pak Kos datang mengetuk pintu kosan dan bertanya, “Kamu kapan bayar kosan, Nak?”
0Comments

Previous Post Next Post

ads