Ilustrasi Ainul Yaqin

Puisi Moh. Alim

Untuk Nyonya

Ketika dipaksa pulang jalan kaki
Sungguh aku bekerja paksa dengan rantai di kaki
Namun tempat jauh dari kota bersama kaum pemabuk
Punggung dan nafasku telah aku serahkan untuk Nyonya.

Sebuah tambang telah aku hampiri, dan kemudian berpikir begini:
Besi-besi yang aku angkut ini, besi ini, yang aku cuci,
dan itu besi bakal jadi kapak untuk Nyonya.

Seandainya di hadapanku gadis-gadis desa
berlutut mesra. Tentu aku lebih suka
memilih seorang wanita Tartar
sehingga darahku mengalir dan
melahirkan seorang anak Algojo untuk Nyonya.

Bila nanti aku menjadi petani akan menjelma bibit rambut putih,
apabila ajalku telah tiba, kepada Nyonya aku simpan ribuan tali.

Serat putih tampaknya abu-abu akan terus
melumuri jari-jemariku, dari pada terdengar jeritan
karena Putriku, Untuk Nyonya…… untuk Nyonya… Aku masih hidup.

(2021)
0Comments

Previous Post Next Post

ads