Penulis: Tanpa Nama

Hai, namaku Mawar (bukan nama asli), usiaku bulan lalu baru saja beranjak 21 tahun. Usia yang menurut banyak orang sedang mekar-mekarnya. Banyak remaja seusiaku yang -mungkin - berbahagia dengan berbagai lika-liku perjalanan menapaki kedewasaan di dalam kehidupannya. Tapi tidak denganku. Aku? Ya, ini sekelumit kisah tentang sisi kelam jalan hidupku.

Sejak usia 10 tahun, aku berkali-kali menjadi incaran pria pedofil. Aku bahkan hampir diperkosa saat usiaku beranjak 12 tahun, oleh dua pria dewasa tak dikenal yang kala itu menawariku untuk nebeng di angkotnya sepulang sekolah. Tentu saja, aku berteriak sekencang-kencangnya kala itu. Untung Tuhan menyelamatkanku dengan mengirim seorang pengendara motor yang ndilalah motornya mogok di depan kami. Aku turun dari angkot brengsek itu, lalu berlari sampai rumah yang untungnya tak jauh dari lokasi pemberhentian. Kejadian ini tak hanya sekali, namun berkali-kali dengan orang yang berbeda.

Tak jauh dari rumah, ada tetangga yang sering menggodaku. Laki-laki hitam kurus itu beberapa kali mengintipku dari jendela belakang, yang berpapasan dengan kamar sempitku. Suatu ketika aku di rumah sendiri, dia mondar-mandir di depan rumahku. Aku yang sedari awal sadar, langsung kabur lewat belakang rumah. Untungnya, tak ada tragedi apapun setelah itu. Dan beruntungnya saat ini Tuhan memberinya hidayah sehingga tak mengusikku lagi.

Sampai usia 21 tahun ini, berkali-kali aku berpapasan dengan pria brengsek. Di bus Trans Jakarta, di MRT, dan parahnya di KRL. Aku ingat saat itu penumpang KRL jurusan Pondok Ranji ke Tanah Abang sedang ramai-ramainya. Aku berdiri, di sampingku bapak-bapak entah usia berapa. Aku sudah merasa tak nyaman, ada hal yang tidak beres. Benar saja, tangan kanan Bapak itu mencoba menggapai pantatku. Aku tak bisa bicara, shock. Langsung saja aku bergeser ke tempat yang menurutku agak lebih aman. Pria itu menatapku dengan tak biasa, aku mencoba untuk bersikap bodo amat.

Aku pernah menjadi korban pelecehan seorang ustad pesantren, dan seorang ‘Gus’ yang ku percaya karena kelihatannya orang yang sangat baik dan sangat peduli terhadapku. Tak sampai jauh, tapi cukup membuatku trauma dan kecewa.

Serangan pelecehan yang datang hampir bertubi-tubi selama kurang lebih sebelas tahun ini, membuat pikiranku sangat kacau. Belum lagi masalah keluarga yang menghampiri sejak aku kecil. Aku mengenal KDRT sejak kecil. Ibu (almarhumah) sering sakit-sakitan, fisik maupun batin. Secara fisik, Ibu kurus kering karena serangan diabetes yang dia rasakan sejak aku baru lahir. Secara batin, aku tahu keresahan dan kekecewaan hati Ibu terhadap sikap Bapak. Main judi, pulang malam, suka ‘jajan’, suka berbohong, dan sering memarahi, membentak, bahkan melukai Ibu. Sebagai sesama perempuan, aku paham betul bagaimana perasaannya kala itu.

Saat usiaku dua belas tahun, Ibu meninggal dengan luka bertubi-tubi. Tak terlihat, tapi aku tahu betul rasanya. Aku kehilangan figur panutan. Empat bulan setelah kepergian Ibu, Bapak menikah dengan perempuan bangsat. Ia bahkan tak pernah mengakui aku sebagai anaknya. Aku yang kala itu berada di pesantren, mengalami frustasi berat. Tak jarang aku mencoba bunuh diri dengan loncat dari gedung lantai tiga (tak berhasil karena berkali-kali dihadang oleh kawan sekamarku), meminum obat-obatan warung jenis apapun sebanyak-banyaknya, parahnya aku pernah juga minum larutan detergen di kamar mandi karena saking frustasinya. Dampaknya, dewasa ini lambungku kerap kambuh. Dampak panjangnya sangat berbahaya, dan perlahan aku mulai merasakannya. Menyesal? Tentu tidak. Aku masih sering mempraktikkannya tatkala sedang kambuh.

Berkali-kali percobaan bunuh diriku gagal. Tak ada satupun keluarga yang tahu, namun selalu orang lain yang menegurku. Aku sering kesepian, tak ada teman, tak ada yang peduli. Berbicara dengan tembok, boneka, dan guling adalah keseharianku. Mereka memang tak bisa bicara, tak akan bisa memberi solusi atas beragam masalah pelik dalam hidupku, tapi setelah bercerita kepada mereka setidaknya aku merasa lega.

Aku gila? Ya, memang gila. Sekilas terlihat tegar, namun percayalah, hatiku ambyar seambyar-ambyarnya!

Kondisi fisikku bermasalah, dampak overdosis obat-obatan yang ku konsumsi sejak kelas 2 SMP Ketika sedang di puncak kegilaan. Jangan tanya kondisi psikisku. Aku sering menangis sesenggukan tatkala malam. Marah melihat foto diriku sendiri. Marah melihat komentar buruk tentang diriku. Insecure terhadap diri sendiri. Parahnya, aku selalu berpikir untuk segera mengakhiri hidupku yang brengsek ini. Baru belakangan ini aku mulai tak nyaman, aku segera mencari bantuan. Ternyata hidup dengan luka bertubi-tubi memang tak menenangkan dan tidak menyenangkan. Ku kira luka itu akan segera hilang, rupanya semakin hari semakin parah, ditambah luka-luka baru yang tak terlihat.

Aku bersyukur masih bisa bertahan hidup sampai detik ini. Berat, sangat berat. Luka fisik bisa diobati dengan mudah, namun luka batin tak akan bisa hilang sempurna meski telah berkali-kali kita memulihkannya.

Saat ini, aku tengah berada di puncak dilema. Luka lamaku kembali kambuh, tak ada satupun ruang curhat yang aman, kecuali lewat tulisan dengan nama yang disamarkan. Lelah. Lelah memendam masalah sendirian, terlalu dalam. Lelah berbicara dengan orang sok bijak yang selalu mencoba menasehati tanpa memberikan satu solusi yang kongkrit. Aku lelah. Tolong beri aku ruang aman untuk berkisah…

T O L O N G. . . . .
0Comments

This is the first post Next Post

ads