Oleh: Fauzan Nur Ilahi

(Ilustrasi oleh: Ainul Yakin)
 

Jika ada jin yang keluar dari botol dan memberikan saya tiga permintaan, yang saya minta pertama kali adalah ini: media sosial musnah dari muka bumi.

"Lha, emang kenapa? Medsos 'kan memberikan manfaat."

Oke. Jika Anda merespon demikian, silahkan sebutkan. Apa sih fungsi medsos selain untuk wadah show off?

"Banyak, kok. Bisa buat share informasi. Bisa buat bisnis. Ya banyak dah pokoknya."

Oke. Jika Anda merespon demikian, sekarang berapa persen yang menggunakan medsos buat share informasi dan bisnis? Bandingkan dengan yang hanya menggunakan medsos sebagai wadah show off, alay-alayan, dan saling umpat.

"Tapi kan gak bisa kita menolak atau membuang medsos hanya karena banyak yang menggunakannya sebagai wadah hal-hal negatif. Banyak juga tuh yang menggunakannya sebagai wadah hal positif. Kita tidak bisa melarang pisau hanya karena banyak orang menggunakannya untuk membunuh."

Oke. Jika Anda merespon demikian, sekarang apakah persoalan yang banyak muncul dari medsos lantas dibiarkan begitu saja? Medsos tentu tak bisa sembunyi tangan perihal ini. Saya tahu bahwa ada banyak upaya yang dilakukan dari pihak platform medsos untuk memperbaiki segala kekurangan. Tapi sampai jauh ini, saya lihat masih jauh dari cukup.

Sekarang mari kita lihat, apa saja sih problem yang muncul dari medsos ini. Setidaknya dari apa yang saya amati walaupun tidak berdasarkan penelitian serius nun ilmiah, medsos berhasil dalam melahirkan jenis generasi yang gampang insecure, mudah menyalahkan, dan gampang tidak percaya diri.

Sebabnya, para pengguna medsos cenderung membanding-bandingkan kehidupan mereka dengan orang lain serta terjebak pola pikir yang dibentuk oleh algoritma medsos. Bahkan konyolnya, hal ini juga akhirnya membentuk pola pikir yang menjadikan jumlah like, comment, dan follower sebagai sebuah tolok ukur pencapaian. Hal-hal receh seperti ini akan membuat manusia yang doyan medsos akut, bisa stres jika jumlah dari hal-hal yang saya sebut tadi tidak sesuai ekspektasi. Hal yang tidak ada pengaruhnya langsung terhadap kehidupan kita, akhirnya menjadi tolok ukur pencapaian hidup.

Agar terkaan saya tak dianggap mengada-ada, saya akan beberkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Irischa Aulia Pancarani (Anda bisa mengakses hasil penelitian ini di Kumparan.com). Irischa dengan menggunakan penelitian kuantitatif-deskriptif berhasil menguak betapa medsos itu sangat berpengaruh pada tingkat insecurity seseorang (dalam hal ini terhadap remaja). Eksistensi mayoritas pengguna medsos sangat bergantung pada penilaian yang lahir dari medsos itu sendiri. Apa tolok ukurnya? Yap! Sebagaimana saya bilang tadi: like, comment, dan follower.

See? Betapa dangkal pola pikir seperti ini. Jadi, alasan mengapa saya meminta medsos hilang dari muka bumi kepada jin botol tadi, ya sangat sederhana: karena saya ingin kemampuan menghargai diri sendiri tak hanya digantungkan pada sebuah produk manusia bernama medsos. Praktik membandingkan hidup kita dan orang lain adalah pekerjaan tolol. Sebab manusia memiliki kemampuan beragam, sehingga perihal pencapaian juga tak bisa diseragamkan.

Persoalan lain misalnya adalah perihal privasi. Pembahasan mengenai privasi ini memiliki cakupan yang panjang dan luas. Sehingga saya persingkat saya pada korelasi antara medsos dan privasi.

Begini. Medsos, sebagaimana saya sebut di awal sebagai media show off, media umbar-umbar, tentunya membuat kajian mengenai privasi perlu diketengahkan kembali. Wilayah privat mungkin memiliki definisi yang berbeda pada masing-masing manusia. Bagi para selebgram yang ingin berak saja wajib diupload ke medsos, ruang privat mungkin hanya sekecil lubang jarum.

Persoalannya adalah, banyak di antara para pengguna medsos yang dibuat terkenal karenanya (yutuber, selebgram, selebtwit, tiktokers, influencer, content creator, atau apalah istilah lainnya), serta pengguna medsos yang biasa-biasa saja, seringkali terganggu ketika ruang privasi mereka diulik. Di satu sisi dengan pikiran sadar dan penuh pertimbangan mereka mengumbar apa pun ke medsos, tetapi ketika respon yang muncul tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, yang lahir adalah depresi, merasa hidup percuma, dan ujung-ujungnya mengutuk diri.

Ini bukan hanya sangkaan saya. Pembaca bisa menelaah sebuah jurnal yang ditulis oleh Ester Krisnawati dengan judul, “Mempertanyakan Privasi di Era Selebgram: Masih Adakah?”. Pembaca di sana dapat melihat betapa privasi bagi manusia itu penting, serta bagaimana medsos punya potensi untuk merongrongnya.

Saya merasa, maraknya mental illness nampaknya juga, salah satu faktornya, disebabkan oleh medsos ini. Bayangkan. Setiap ada influencer atau konten-konten yang memuat bahwa bahagia itu cirinya adalah blablabla, hubungan antar pasangan itu harus blablabla, sesama teman itu harus blablabla, pemimpin itu harus blablabla, kemudian oleh pengguna medsos yang tak kritis, paradigma tersebut dijadikan standar mereka dalam melihat kehidupan. Apa yang diucap oleh idola, influencer, atau siapa pun, seakan dianggap kredo agama. Padahal kan kehidupan manusia itu unik. Tak bisa distandarisasi begitu.

Ketika materi medsos yang penuh kepura-puraan dan kedangkalan tersebut dianggap sebagai standar, namun realitas kehidupan yang kompleks ini tak sesuai dengan standar mereka, yang muncul adalah kekecewaan. Mereka menganggap bahwa merekalah manusia paling malang di seluruh muka bumi. Sehingga jangan heran saat kalian menemukan banyak sekali ungkapan di medsos semisal, "semua cowok sama saja"; "semua cewek sama saja"; "manusia itu hanya peduli diri sendiri"; "tak ada ibu/ayah tiri yang baik"; "tak ada yang lebih menderita daripada aku yang tengah patah hati", atau ungkapan lain yang sifatnya mengeneralisir.

Dalam kajian media, hal semisal ini disebut sebagai echo chamber. Yaitu, situasi di mana suatu informasi hanya seputar itu-itu saja, tak ada informasi alternatif, berlangsung dalam ruang sistem tertutup, sehingga yang mainstream dianggap sebagai kebenaran.

Echo chamber melahirkan informasi yang kurang beragam. Dan akhirnya, kesempitan dalam melihat, kedangkalan dalam menelaah, serta minimnya wawasan dan pengetahuan akan membuat seseorang cepat kecewa.

"Oke medos penuh dengan permasalahan. Namun apa lantas kita harus membuangnya? Bukankah menolak medsos bak menghadang ombak di lautan? Lagipula jika medsos dibuang, berapa banyak orang yang dirugikan karena penghasilan mereka yang berasal dari medsos?"

Baiklah. Saya paham betul bahwa medsos sebagai anak kandung teknologi dan sains, sukar bahkan mustahil dilawan, apalagi oleh orang remeh-temeh macam saya. Medsos sudah kadung memenuhi sela-sela kehidupan kita. Akun medsos saya juga berjejer. Ia sudah menjadi bagian dari pekerjaan kita, masuk ke dalam urusan rumah tangga kita, studi kita, serta seluruh aspek kehidupan umat manusia.

Ditambah dengan kenyataan bahwa sejatinya kritik saya ini lebih banyak  menyasar pada perilaku pengguna, daripada medsos itu sendiri.

Namun jika saya ditanya “apakah perlu sampai meminta kepada jin botol untuk menghapus medsos?”, sejauh ini, jawaban subjektif saya untuk pertanyaan tersebut adalah iya, sampai kita menemukan cara agar pengguna medsos bisa kritis terhadap medsos itu sendiri.

Mungkin banyak yang menilai bahwa saya terlalu naif. Saya buta realitas. Tak apalah. Sekarang memang sudah zamannya orang keranjingan medsos, seolah-olah paru-paru kita tak berfungsi tanpanya. Kita sudah masuk pada budaya audio-visual. Sehingga kalaupun ada di antara para pembaca yang menganggap bahwa menghapus medsos itu mustahil dan esai ini tak lebih dari sekadar omong kosong, setidaknya kita harus sepakat bahwa yang harus kita upayakan sekarang adalah ini:

Pertama, kita harus insyaf bahwa algoritma medsos itu tak memungkinkan keutuhan. Informasi yang ada di dalamnya hanya sepenggal. Mengetahui informasi secara utuh itu susah (jika tidak mau dikatakan mustahil). So, berhenti menjadikan materi-materi konten di medsos sebagai dogma. Kehidupan terlalu kompleks untuk hanya dijelaskan dalam satu quote!

Kedua, medsos tak layak untuk dijadikan sebagai patokan hidup. Menjadikan like, comment, atau follower sebagai tolok ukur kita dalam mengukur pencapaian diri adalah setolol-tololnya pekerjaan. Hidup kita terlalu luas dan unik untuk hanya diukur selebar layar laptop/HP, atau berdasarkan algoritma medsos.

My point is: social media isn't a holy book! (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

ads