Oleh: Sulaiman

(Ilustrasi: Ainul Yaqin)


Hari ketika Marno kentut, hanya ada lima orang di warung kopi bu Samin. Semula segalanya berjalan biasa. Ngopi. Ngerokok. Ngobrol. Tapi begitu ada siulan pendek-pendek, disusul dengan pet-pret-pet-pet. Semua orang langsung menatap Marno, sumber suara kentut itu. Yang ditatap tak merasa bersalah. Kentut adalah hal biasa, begitu bagi Marno.

“Marno, itu suara kentut”.

“Lah, siapa yang bilang suara mercon”.

Orang-orang makin jengkel. Bukan karena sikap Marno yang cuek dan biasa-biasa saja. Tapi lama-lama kelamaan, kentutnya yang tertahan di warung itu, dan mungkin berputar-putar senakal Marno, mampir (dan sudah pasti mengganggu) hidung para pengopi lainnya. Baunya seolah membawa bangkai. Kau bayangkan saja kentut dengan aroma bangkai.

Ibu Samin terkenal pendiam seribu bahasa. Tapi hari itu, ia ikut protes. Seakan-akan kentut Marno yang tidak sopan mampir ke hidungnya sudah tak bisa didiamkan lagi. Tak ada maaf bagi kentut yang semacam itu.

“Marno, kau makan bangkai apa?”

Orang-orang sejenak melupakan kentut Marno. Semua mata tertuju ke bu Samin. Mereka kaget dengan reaksi bu Samin. Saat akhirnya orang kembali ke masalah kentut Marno, dan hidung mereka aktif kembali menerima sapaan dari bau yang tak bersahabat, mereka ramai-ramai mengusir Marno, si pemilik kentut.

“Soal kopi itu gampang. Saya yang bayarin. Sekarang kau pulang dulu. Periksa perutmu isinya apa”.

Tak ingin menerima pengusiran yang lebih keras dari orang-orang yang makin ramai, akhirnya Marno menyerah juga dan pergi.

Di sepanjang jalan, ia berpikir keras. Sesekali ia menepi dan membiarkan pantatnya ditopang apa pun yang bisa diduduki. Dalam duduk, ia sedikit membungkukkan tubuhnya, kepalanya agak ditundukkan, dan tangannya menopang dagu. Ia berlagak berpikir keras seperti patung Rodin (ia hanya pernah melihatnya di buku, itu pun sekali waktu saat ia pernah tergila-gila untuk menjadi pembaca yang lahap).

*
Kata kawannya yang seorang perawat, Marno mengalami anosmia. Itu kondisi wajar. Marno beberapa hari lalu kedapatan demam, seluruh tubuhnya seperti ditusuk-tusuk, tenggorokannya sakit, ia juga batuk-batuk. Ia membutuhkan 10-14 hari untuk sembuh total. Di hari ketujuh, ia mulai tak bisa mencium apa-apa. Tapi Marno tak curiga itu gejala apa. Ia pikir dunia memang sedang tak beraroma.

Andai kawannya yang perawat tak segera menjelaskan penyakit itu, mungkin Marno sudah yakin penyakit itu pasti kiriman dari orang-orang yang membencinya. Pikirannya segera tertuju kepada sesama lawan kentutnya.

“Itu gejala biasa Marno”, kata sang dokter. “Itu adalah …”, sang dokter menghentikan sejenak apa yang ingin dikatakan.

Marno terdiam. Tapi Marno tidak percaya.

“Itu penyakit biasa. Tak penting namanya”, ulangnya.

*
Saat itu, seluruh dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Pemerintah di negeri Marno – dari pusat hingga daerah – sedang sibuk (jangan katakan bingung) mengatasi masalah ini. Seluruh negeri tak punya kepastian prediksi kapan pandemi ini akan berakhir.

Tapi di daerah Marno, penyakit yang semacam ini, yang melanda orang-orang, dengan gejala-gejala yang sama, tak memiliki nama. Tepatnya orang-orang punya nama lain: penyakit yang semacam itu, penyakit seperti orang-orang, penyakit yang sedang kaprah. Itulah kira-kira nama dari penyakit itu atau orang-orang menyebutnya.

Siapa yang pertama kali memberi nama pada penyakit itu? Tak pernah ada yang tahu. Tiba-tiba begitu saja orang-orang menyebutnya. Seolah ada kuasa bahasa yang mengatur bagaimana penyakit itu diucapkan oleh masyarakat. Media-media boleh saja menyebutnya sebagai Covid-19. Ilmuan boleh saja terus menganalisis penyakit itu dengan segala macam cara. Tak peduli pemerintah pusat berbagai macam membuat berbagai protokol kesehatan. WHO boleh saja berbingung-bingung dengan segala taksirannya kapan pandemi itu selesai.

Tapi di tempat Marno, orang-orang tak mempedulikan nama itu. Oh, mungkin saja diam-diam per individu memiliki pikiran untuk menamainya itu dengan Covid-19, terlebih makin banyak orang-orang mati dengan diawali gejala-gejala itu. Tapi secara kolektif, masyarakat di sana tetap kokoh dengan penamaan sendiri: penyakit yang umumnya itu.

*
“Setiap orang pasti mati pada waktunya”.

Kalimat itu seringkali terdengar di tempat Marno. Tak perlu orang bijak untuk mengatakan itu. Di tempat ini, tiap orang semuanya fasih menyitir kalimat itu. Kawan Marno berkelakar: orang-orang di sini lebih siap menyambut kematian ketimbang daerah lain. Kawan Marno yang lain: di sini orang-orang menganggap kematian adalah hal yang tak perlu diributkan.

Sudah pasti kalimat bijaksana itu tak mengubah fakta apapun. Gejala itu terus menjangkit orang-orang di mana-mana. Hampir semua masyarakat di tempat Marno mendapati penyakit itu. Sebagian tetap bisa pulih kembali. Sebagian lagi harus mengalami masa yang lebih sulit. Dan sebagian yang lain lagi tak dapat bertahan.

Tapi kematian seolah tak meninggalkan dampak apapun pada masyarakat. Semua seperti biasa.

*
Marno masih terdiam.

“Tenang, kawan. Jelaskan kepadaku apa nama penyakit itu”.

Sebenarnya, sang perawat sudah berusaha menjelaskan berkali-kali ke orang-orang. Ia juga menghimbau agar orang-orang menaati protokol kesehatan. Tapi suaranya tak mampu melawan suara kolektif yang tak mendukung pikirannya. Jadilah ia seperti tukang dakwah yang tak laku. Orang-orang mendengar apa yang dikatakannya, tapi lalu membiarkannya seperti angin lalu.

*
Sejak itu, Marno menjadi tampil mencolok. Di warung kopi, ia pun jadi pusat perhatian. Apalagi masker yang dipakainya, tertempel gambar bibir yang memamerkan sebarisan gigi. Jadi di mata orang-orang, dengan masker itu, Marno terlihat selalu tersenyum. Siapa pun yang bertemu dengan Marno, sudah tentu tak bisa melewatkan momen tanpa tersenyum ke arahnya.

Ia kembali duduk di antara orang-orang di warung itu.

“Janji. Saya ngga kentut lagi. Jadi, saya minta maaf ke masyarakat penghuni warung kopi ini”, ia memulai seperti seorang pendakwah, dan seperti biasa, kakinya dinaikkan ke tempat duduknya, dan sesekali lututnya jadi penopang dagunya di tengah-tengah ia bercerita.

“Jadi kemaren itu, aku khilaf. Kukira kentutku tidak bau. Dan memang aku tak mencium bau dari kentutku”.

Ia lalu bercerita. Betapa pun cerita itu tak masuk akal, orang-orang tetap harus mendengarnya.

*
Saat itu, Marno sedang duduk di WC. Onggokan tahinya sudah berkali-kali memenuhi kloset, dan sudah berkali-kali disiram. Tapi ia lalu seperti seorang yang memperoleh suatu yang ajaib: seakan ia diarahkan untuk memikirkan sesuatu. Marno tentu saja memang sosok yang agak lemot. Tapi kali ini, ia jauh lebih lemot dari biasanya.

Aha. Aku terpikir tentang tahi (bacalah dengan santai: tai). Tapi apa yang penting tentang tahi? Ia kan hanya sisa sampah atau ampas perut yang harus ditembakkan dari lobang pantat ke lobang kloset. Tak lama, keajaiban lain memandunya, dan segeralah ia terpikir tentang tahi yang tak bau. Kecurigaan itu membuatnya bertanya-tanya. Lagaknya seperti seorang filsuf, Marno sedikit membungkuk, sedikit menundukkan sedikit kepalanya, dan mencoba menghirup aroma dari sisa onggokan yang belum disiram.

“Benar-benar dunia tak berbau”.

Saat itu, ia segera mengakhiri momen buang hajatnya. Ia segera berusaha untuk mencari bau-bauan yang lain. Ia cium seluruh benda yang ia temui. Andai dibolehkan, ia juga akan mencium ketiak semua orang yang ditemuinya.

“Hari itu”, sesekali ada yang tak mendengarkan dan membiarkan Marno berceloteh sendiri, “tolong dengarkan, tahan dulu rokok kalian, dengarkan. Hari itu, dunia seperti tak beraroma. Dan yang ajaib semua masalah ini juga berakhir di kamar buang hajat”.

“Maksudnya?”

“Bila aku pertama kali menyadari hilangnya bau di WC, maka hidungku pulih kembali di WC. Tahiku yang mula-mula membuat hidungku dapat berkedut-kedut lagi”.

Saat itu, Marno menyanjung-nyanjung tahi, sebau-baunya barang yang kau hindari, tetap juga ada gunanya.
0Comments

Previous Post Next Post

ads