Penulis: Azhar Azizah

(Ilustrator: Ainul Yaqin)

Dalam setiap aspek kehidupan yang tak lekang oleh waktu, kita tak bisa melepaskan diri dari budaya patriarki yang ada. Hal itu sudah mengejawantah dan mendarah daging dalam diri kita. Kita dibentuk dari segi pemikiran, tata cara kelakuan, tata cara menyikapi, dan lain sebagainya. Ambilah sebuah contoh, sejak masih dalam kandungan atau sejak kecil, kita sudah diajarkan, didoktrin dan dibeda-bedakan oleh orang tua kita sendiri bahwa, "kalau kamu adalah seorang perempuan, maka kamu harus main boneka, pintar mengolah dapur, dll." Dan "jika dirimu adalah seorang laki-laki, maka kamu harus bermain mobil-mobilan, action figure, menjadi pekerja keras" dan segudang simbol-simbol lainnya yang menjurus pada masing-masing jenis kelamin. Pembedaan seperti itu, akan menjadi dikotomi yang berbahaya, apalagi hingga terjadi pemisahan yang ekses. 

Aku tak akan bicara soal feminisme. Terlalu luas konteksnya. Mungkin kalian bisa membaca dan mencari taunya sendiri. Namun, dalam tulisan ini aku hanya akan berbicara mengenai eksesnya budaya seksisme atau orang-orang yang toxic dan melakukan seksisme atas nama jenis kelamin. Seks seolah-olah telah kehilangan harga dirinya saat ditinjau menjadi aspek pedoman kehidupan. Benih budaya seksisme itu akan selalu ada, selama budaya patriarki masih berdiri tegap, dan menurut para feminis marxis, "budaya patriarki pun akan selalu ada, selama akar dan dalang kapitalisme masih bertahan dan berdiri tegap." Inilah yang kemudian menjadikan seksisme berasal dari akar rumput patriarki. Pertanyaannya, budaya patriarki macam apa yang akhirnya melahirkan budaya seksisme?

Mari kita beralih pada konsep laki-laki dan perempuan dalam budaya patriarki. Secara realita, kita akan selalu relevan, hidup berdampingan, dan membutuhkan lawan jenis dalam kehidupan kita sehari-hari. Ekofeminisme telah mengajarkan ini dalam teori Sachiko Murata yang mengatakan bahwa, "dalam setiap unsur kehidupan, termasuk alam semesta sekalipun, antara langit dan bumi akan selalu hidup secara berdampingan. Langit diibaratkan sebagai karakter maskulin, sedangkan bumi adalah sebagai karakter feminim". Artinya apa? Bahwa dalam setiap kehidupan, kita akan selalu menemukan warna yang kontras, akan menemukan perbedaan yang sengaja telah dibentuk. Masalahnya ada dua, pertama, adanya budaya patriarki yang tidak ekses seperti yang tertera dalam konsep teori Yin dan Yang, yakni konsep dalam filosofi Tionghoa yang digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan, berlawanan, serta saling membangun satu sama lain di dunia ini. 

Hal ini maka tak lain lagi, Yin dan Yang, langit dan bumi adalah perwujudan antara laki-laki dan perempuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain, bahkan mungkin akan saling menguntungkan. Dan dalam konteks negara kita yang seperti ini, bagi Etin Anwar dan Nina Nurmala, "kita tak bisa menjadi phobia terhadap lawan jenis kita." Kita tak seperti di barat, para feminis radikal yang menyerukan kesetaraan untuk bisa hidup dengan menolak salah satu lawan jenis yang sejatinya sudah kodrati ini. Kita tak bisa mengelakkan kehadiran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan kita secara pribadi maupun sosial. Inilah yang kemudian disebut sebagai budaya patriarki yang tidak ekses, tetapi lebih menciptakan kesetaraan dan keselarasan. 

Adapun budaya patriarki yang ekses, adalah budaya yang pada akhirnya membawa dan melahirkan budaya seksisme. Ini adalah pekerjaan dan kebiasaan kita dan masyarakat sekitar yang tak lekang oleh waktu. Misalnya kemunculan feminisme sendiri, seringkali mendapatkan  eksistensi dan pengertiannya dengan stigma yang negatif. Bahkan aku pernah mendengar salah satu seorang laki-laki berkata bahwa, "feminisme adalah perempuan-perempuan yang suka melawan laki-laki". Kata 'suka' dan 'melawan' seolah-olah dilekatkan dengan perspektif yang menjurus ke hal yang negatif. Dari pikiran dirinya yang oksidental itu, dilekatkan bahwa "semua perempuan feminis adalah perempuan yang melawan laki-laki" karena berasal dari Barat yang dalam pikirannya selalu dilekatkan ciri khas yang negatif. Bagiku, orang macam dia ini hanya asal menyimpulkan saja tanpa mengkaji lebih luas. Atau mungkin banyak orang-orang, yang sekalipun ia adalah orang yang paham pro-kesetaraan, tetapi benih-benih patriarki itu pasti masih ada tertanam dalam dirinya. Misalnya, sekalipun Soekarno menulis banyak hal tentang sosial justice bagi perempuan dalam buku Sarinah, Soekarno tak bisa mengelakkan perspektif patriarkinya dalam isi buku tersebut, hal ini tentu baik jika digunakan sebagai komparasi yang seimbang antara kedudukan perempuan dalam budaya yang didominasi oleh perspektif yang patriarki, tapi jika digunakan sebagai sarana metode komparasi, maka bagiku, ia sudah tak baik dan masuk ke dalam wilayah seksisme.

Ketika budaya seksisme telah hadir, maka tak menutup kemungkinan juga akan melahirkan budaya misoginis, misandri. Bagiku kalau sudah seperti itu, maka sudah ekses. Kita akan cenderung menilai orang dari satu sudut pandang saja. Dunia hanya mendasarkan pada "siapa kamu?" dan "apa jenis kelaminmu?". Aku tak peduli, seberapa cerdas, seberapa pintar bahkan sekalipun ia pro-kesetaraan, tapi kalau masih selalu melekatkan paradigma dalam pikirannya: "lu kan cewek, lu kan cowok". Nihil sudah! Tak ada apa-apanya. Sepertinya, punya alat kelamin saja masih saja menjadi stigma negatif. Apakah kita harus tak punya alat kelamin dulu untuk sungguh dianggap manusia? Sungguh sangat mustahil. Kalau dunia ini memang menjadi seksisme secara total, maka, semuanya akan nihil, saat kita cenderung melakukan superioritas dan inferioritas terhadap sebuah label dalam setiap aspek kehidupan. Semua juga akan nihil, saat kita memandang seseorang terus-terusan menggunakan perspektif "lu cewek, gua cowok". 

Betul, ini harusnya menjadi PR bagi kita yang mengerti. Pekerjaan merubah adat-istiadat, tradisi ataupun budaya adalah pekerjaan berat, sekaligus perjalanan lelah yang tak lekang oleh waktu. Kita tampaknya harus hati-hati melangkah saat kita ingin membawa pemikiran ke tengah-tengah masyarakat. Kita harus melihat proporsi mengenai situasi, keadaan atau konteks budaya yang ada di sekitar. Bagiku, masyarakat apalagi yang masih kental dan masih diselimuti hangat dengan adat dan budaya patriarki, seksisme, misoginis hingga misandri akan cenderung sulit dilakukan pendekatan gamblang, apalagi tentang kesetaraan gender, terkhusus masyarakat desa pada umumnya. Sehingga pendekatan pun tak cukup dilakukan sekali. Maka sebab itu, cara praktis pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan secara inter-personal, touch to touch dengan jaminan yang meyakinkan untuk merubah keadaan yang lebih baik melalui pendekatan sosial justice. Sehingga tak ada lagi budaya yang melihat seseorang berdasarkan jenis kelamin, bahwa "elu cowok, gue cewek", atau sebagai budaya yang lekat melabelkan dan mengsahkan siapa yang benar-benar terlihat superior dan siapa yang benar-benar terlihat inferior. 

Sekian.

1Comments
  1. Catatan Sang Perantau
    Catatan Sang Perantau
    Mantaapppp

Previous Post Next Post

ads