Oleh: Melky Molle

Gubernur Ganjar menghadiri hajatan keagamaan (STQ) Nasional yang dipusatkan di propinsi Maluku Utara. Kesempatan itu datang setelah Ganjar diundang menghadiri Seleksi Tilawatil Quran Nasional XXVI di Kota Sofifi.

Ganjar pun memutuskan menyisihkan waktu tiga setengah jam perjalanan dari Sofifi menuju Tobelo.

Alasan mendasarnya adalah "Saya bersama istri merasa bangga bisa hadir di tengah masyarakat Halmahera Utara (Tobelo)". Menurutnya kehadiran beliau bersama istri merupakan cara Tuhan mempertemukan Ganjar dan masyarakat Halmahera Utara dalam momen keagamaan. Dan inilah cara kita merawat Indonesia," kata Ganjar.

Kehadiran Ganjar bersama istri disambut oleh tokoh-tokoh adat, pemerintah, dan tokoh masyarakat. Penyambutan melalui prosesi ritual adat menjadi pesona penyambutan Ganjar. You Yaihoro atau upacara pencucian kaki ini adalah ekspresi suka cita hati kami (menurut tuturan tokoh adat Tobelo, Yesayas Banari).

Menurutnya You Yaihoro hanya diberikan pada orang-orang khusus untuk menegaskan penghargaan kami kepada beliau, karena kehadiran Gubernur Ganjar di hari ini di rumah adat bersama (Hibualamo) sekaligus Ganjar diangkat menjadi bagian dari keluarga Tobelo. Dan dia tidak menyangka, hari ini, Sabtu (16/10/2021). Sejarah perjumpaan pemimpin yang peduli dengan budaya bisa menyapa kami dengan hangat penuh kekeluargaan.

Tak hanya sebagai keluarga, Ganjar siang itu juga diberi Pakaian adat, Parang dan Salawaku. Semacam alat perang yang mengandung arti pengangkatan Ganjar sebagai kesatria Tobelo. Ganjar "Wonauru" bahasa Tobelo ( laki-laki pemberani).

Kehadiran Ganjar mengunjungi negeri para kapita, Tobelo Halmahera Utara, merupakan ekspresi merawat keindonesiaan dan ini patut diberikan apresiasi sebagai pemimpin yang masih melihat budaya sebagai perekat kesatuan keindonesiaan kita. Jika budaya masih menjadi perekat keindonesiaan kita, maka budaya harus dilestarikan sebagai proses merawat karakter penerus bangsa.

Ganjar Wonauru, dapat diartikulasikan sebagai representasi laki-laki pemberani melawan arus peradaban yang membabat habis tradisi atau budaya sebagai nafas kelestarian alam yang dieksploitasi oleh kekuatan korporasi. Kekuatan korporasi tidak dapat dilawan pada prakteknya, tetapi pada prinsipnya budaya adalah garda terdepan mengantisipasi kepunahan budaya sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Ganjar Wonauru, juga dapat dideskripsikan sebagai sikap pemimpin yang berani menembus batas, melampaui sekat-sekat primodilisme dan sikap komunalisme sehingga budaya seharusnya dikonsolidasikan sebagai keniscayaan nilai yang termanifestasi dalam perilaku pemimpin, untuk Indonesia yang tergabung dari banyak suku, golongan, agama dan ras. Pemimpin pemberani harus mampu mengangkat nama baik bangsa dengan melestarikan budaya bangsa sebagai kekayaan yang tidak bisa diangkat dan dihargai oleh karena kepentingan sesat dengan nilai-nilai kapital.

Ganjar Wonauru, adalah pemimpin yang dilahirkan oleh konteks kebudayaan keuletan, kerja keras, dan berani mengatakan tidak karena pemimpin sekarang terlalu banyak mengatakan ya, terhadap KKN: Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Pemimpin yang berbudaya adalah pemimpin kesatria yang diimpikan oleh banyak orang di bangsa ini. Semoga.
0Comments

Previous Post Next Post

ads