Oleh: Fauzan Nur Ilahi


(Ilustrasi oleh: Ainul Yakin)

Jika Anda adalah peserta atau calon peserta pelatihan poligami yang diampu oleh KH Hafidin (selanjutnya Hafidin), si ahlul poligami yang pamfletnya sudah tersebar ke delapan penjuru mata angin itu, Anda perlu membaca tulisan ini. Kenapa? Sebab Anda akan mendapat solusi tanpa harus ribet dan keluar kocek banyak dengan melakukan poligami. Bahkan tanpa harus berurusan dengan manusia. Apa itu? Jawabannya adalah Sex doll.

Buat yang tidak tahu apa itu ‘sex doll’, silahkan gunakan mesin pencari di gadget atau PC Anda. Intinya, ini adalah alat yang dirancang khusus untuk Anda yang ingin melampiaskan hasrat seksual tanpa harus ribet merayu, keluar duit banyak, apalagi sampai menikah. Cukup pesan di marketplace, Anda sudah mampu mendapat “istri” dengan kriteria sempurna, sesempurna kriteria istri menurut Hafidin: patuh dan tunduk pada kemauan suami, dan tentunya, dapat menampung seluruh libido Anda.

Saya tak lagi membual dalam tulisan ini. Berdasarkan hasil reportase investigatif yang dilakukan oleh Anisya (reporter Narasi), rata-rata (kalau tidak mau dikatakan semua) alasan para penyokong pelatihan poligami yang seminarnya berdurasi 9 jam itu, tak lain dari libido mereka yang memuncah. Begitu ucap Hafidin yang khas dengan kopiah, kacamata anti radiasi, dan jenggotnya yang aduhai itu. Sehingga pilihan yang mereka ambil adalah dengan mengikutsertakan istri atau calon istri mereka (hal ini dilihat dari peserta pelatihan yang semuanya perempuan) untuk ikut training Hafidin dengan maksud, tentu, agar mereka melihat poligami dari perspektif lain: perspektif yang justru me-nomordua-kan mereka.

Hafidin ini bak superman bagi para penyokong poligami. Dia lihai dalam menyampaikan betapa poligami itu indah tanpa cela. Meminjam istilah Muhidin M. Dahlan, Hafidin ini ahli nyangkem; ahli nyongor. Ketika menyampaikan materi, dia lugas. Tidak patah-patah.

Namun itu hanya soal gaya. Perihal premis dari segala apa yang dia sampaikan, jelas problematis dan banyak yang irasional.

Misalnya, dia mengatakan bahwa aktivitasnya dalam mempromosikan poligami, tidak lain dari upayanya untuk memperbaiki umat. Dia bahkan yakin bahwa keputusan untuk berpoligami akan semakin meningkat di masa yang akan datang. Alasan mengapa dia bilang demikian adalah berdasarkan keyakinannya bahwa Islam saat ini sudah kembali jaya. Ya, semacam enlightment begitu mungkin maksudnya. Tetapi yang bikin mulut saya susah mingkem, adalah barometernya yang merujuk pada kemenangan Taliban di Afghanistan. Alamak! Islam kok representasinya Taliban gitu loh.

Itu contoh pertama. Selanjutnya, Hafidin juga menganggap bahwa tugas seorang istri hanya satu, yakni patuh terhadap suami tanpa tapi. Suami salah, istri manut. Suami mau nikah lagi, istri manut. Suami marah tak jelas, istri tak boleh marah. Suami ngoceh, istri tak boleh menimpali. Intinya patuh! Bahkan saat Anisya bertanya bagaimana tanggapan jika anak perempuan Hafidin yang berumur 20 tahun diajak poligami oleh salah seorang lelaki? Jawabnya, tidak apa. Justru itu merupakan bukti bahwa istri dan anaknya melanjutkan perjuangannya.

Apa yang keliru dari premis ini bukan pada tindakan poligaminya. Tetapi pada sikap acuh terhadap perempuan. Baik dari sisi psikologisnya, sosialnya, atau lebih jauh, terkait nasib dari dari para perempuan.

Sebagai sesama mahkluk berspesies Homo Sapiens, perempuan (baik itu jomblo atau sudah bersuami) sama seperti lelaki yang tidak absen dari emosi dan perasaan. Dia juga bagian dari masyarakat sehingga tidak luput dari norma, kultur, dan budaya yang berkembang. Pikiran atau tindakan yang menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki, tidak lain dari tindakan yang menolak fakta dan realitas yang ada.

Hafidin boleh saja mengglorifikasi diri dengan mengatakan dirinya adalah prototipe lelaki yang sukses berpoligami. Tetapi apa tolok ukurnya? Apakah pernah cerai dua kali adalah barometer kesuksekan poligami? Atau keputusan menikah tanpa pamit kepada istri sebelumnya terlebih dahulu adalah variabel kesuksekan poligami? Apakah keputusannya untuk poligami tidak menghambat perkembangan para istri-istrinya baik dalam pendidikan, ekonomi, atau aspek lain? Bukankah salah satu istrinya yang  bernama Amira Salsabila sebagai istri ketiga, juga menuturkan bahwa andai dirinya memilikin pilihan, dia tidak akan memilih poligami, tetapi hanya atas dasar syariatlah dirinya mau dipoligami?!

Di tengah berbagai kerancuan dari pemaparan Hafidin, para peserta yang ikut dalam pelatihan ini nampak tak ada yang mengkritik. Entah memang tak ada, atau kebetulan saja ketika reportase ini berlangsung tidak ada peserta yang mengkritik. Sebab kerancuan itu teralu jelas, sangat mudah ditangkap oleh orang-orang waras.

Namun saya punya hipotesis lain mengapa tak banyak (atau bahkan mungkin tak ada) kritik dari para peserta pelatihan poligami tersebut. Alasan yang utama dan paling logis menurut saya adalah kemampuan Hafidin dalam membungkus premis-premisnya dengan dasar-dasar agama. Hal ini dapat kita lihat misalnya, pada alasan Hafidin (yang saya kutip di atas secara verbatim) mengapa akhirnya memilih menjadi pelatih poligami: “untuk memperbaiki umat”. Atau ketika menggambarkan kepatuhan total istri kepada suami adalah sama artinya dengan kepatuhan kepada Allah SWT. Atau ketika memutuskan untuk menikahi santrinya yang kini jadi istrinya yang keempat dengan dasar mimpi setelah melakukan shalat dua rakaat. Sungguh penjelasan yang subhanallah, bukan?!

Hafidin nampaknya paham betul dengan pola pikir mayoritas masyarakat kita yang gagap terhadap sesuatu yang dikait-kaitkan dengan agama. Sebagaimana investor bank dan perancang model pakaian yang semuanya harus berlabel syar’i (bahkan mungkin nanti akan muncul sempak syar’i), Hafidin juga menggunakan pola yang sama agar mampu membius para peserta pelatihannya (baca: konsumen).

Tanpa berpretensi untuk menyoal dasar-dasar agama, bagi saya upaya penafsiran yang dilakukan untuk melegitimasi libido atau perilaku negatif lain yang sejatinya tak ada kaitannya dengan agama, adalah suatu tindakan hina. Tidak hanya menghinakan diri, tetapi juga menghinakan ajaran agama itu sendiri. Ini tak lebih dari tafsir sempit yang sejatinya tidak merepresentasikan ajaran agama yang dianut. Ini murni hanya ego pribadi belaka yang dipaksa selaras dengan kredo keagamaan guna pembenaran.

***

Berbagai premis yang problematis bahkan kontradiktif dapat pembaca telaah dalam video yang diunggah oleh Narasi Newsroom dalam platform YouTube. Tulisan ini bukan perpanjangan lidah Narasi, tetapi justru ingin melengkapi hasil reportase investigatif yang menurut saya tidak lengkap (karena tak ada kritik dan sanggahan di sana kecuali pemaparan Komnas Perempuan dan PP Nasyiatul Aisyiyah yang menurut saya juga tidak on point). Hal ini sangat dimaklumi sebab seorang reporter tak mungkin melancarkan kritik habis-habisan dengan cara “main gebuk” karena masih ada etika jurnalistik di sana. Singkatnya, tulisan ini akan mencoba mengurai berbagai ungkapan Hafidin yang bagi saya “mengundang” dan memang perlu dikritik. Atas dasar itulah beberapa catatan di atas saya tulis.

               

Pada akhirnya, praktik poligami atau promosi poligami dengan mengacu pada penuturan praktisi, promotor, perempuan yang dipoligami, atau minimal dari mereka yang mendorong praktik ini, poligami tidak lebih dari urusan biologis yang kemudian dicarikan nilai-nilai agama sebagai mendukung. Simpelnya, agama dijadikan penopang pembenaran.

Dari penuturan Hafidin dengan merujuk pada jawaban dari beberapa orang yang menemuinya untuk belajar “ilmu poligami”, hal yang mendasari keinginan mereka untuk poligami sangat singkat dan sederhana: libido.

Di sisi lain mereka juga dikepung oleh nilai agama, hukum positif, dan norma sosial yang membuat mereka tak dapat menabur libido sekehendak jidat, sehingga mereka butuh dasar yang mapan guna menopang keinginan untuk menikah lagi. Ditemukanlah satu penopang yakni tafsir serampangan atas ajaran agama yang mengatakan bahwa istri harus patuh dengan suami, serta suami representasi dari Tuhan: istri patuh kepada suami sama dengan istri patuh kepada Tuhan.

Untuk itulah saya menawarkan, jika hanya ingin seorang pasangan yang diperuntukkan menampung seluruh libido Anda yang meledak-ledak itu, atau sekadar menginginkan pasangan yang patuh tanpa ada kemungkinan melawan Anda, tak usah bikin repot anak orang. Apalagi merusak nasib dan masa depannya. Cukup dengan buka Amazon, cari ‘sex doll’, beli, dan selamat menikmati! (Bung)

0Comments

Previous Post Next Post

ads