Oleh: Fauzan Nur Ilahi


(Ilustrasi oleh: Ainul Yakin)

Di awal Desember, pada penghujung tahun 2021, masyarakat Indonesia setidaknya disuguhi dua berita pilu: meletusnya Gunung Semeru, dan kasus kematian Novia Widyasari.

Bagi manusia yang aktif bermedsos, atau mereka yang tak absen dalam mengikuti kabar terbaru melalui koran atau sejenisnya, rasa-rasanya dua peristiwa di atas tak lagi asing.

Sebagai disclaimer awal, tulisan ini tidak hendak mengupas dua peristiwa tersebut, melainkan hanya satu saja: kasus Novia Widyasari.

Kendati Ibunda dari Novia sudah meminta agar kematian anaknya tak lagi dibesar-besarkan, namun bagi saya, memilih untuk berhenti membahas hal ini adalah pilihan yang kurang baik. Alasannya, akan saya tunjukkan di penghujung tulisan ini.

Untuk itu, supaya para pembaca yang belum mengetahui kasus ini bisa nyambung, izinkan saya bercerita ringkas mengenai bagaimana peristiwa ini terjadi (untuk versi detailnya, pembaca bisa mengakses koran atau situs online terpercaya).

Begini...

***

Usia Novia baru 24 tahun. Dia mahasiswi di Universitas Brawijaya, Malang. Minuman kesukaannya adalah varian red velvet. Saking sukanya, bahkan dalam akhir hayatnya, minuman inilah yang menemani sekaligus mengantarkannya menjadi manusia tak bernyawa. Selain kuburan ayahnya, tentu (dia bunuh diri di samping kuburan ayahnya).

Novia memiliki struktur tubuh ideal. Dipadu dengan wajah yang ayu, memang sangat mampu membuat lelaki takjub. Salah satu di antara banyak lelaki yang tertarik adalah Randy Bagus Hari Sasongko, seorang lelaki anggota polisi dengan pangkat cukup mentereng: Brigadir Dua (Bripda). Keduanya bertemu pada sebuah momen dan tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk membangun suatu hubungan emosional.

Sayangnya, Randy tak hanya seorang polisi. Dia juga seorang biadab dan pecundang yang tak mengerti cara bertanggungjawab. Buktinya, Novia dua kali mengandung anak Randy yang dihasilkan dari peristiwa hubungan seksual paksa a.k.a pemerkosaan. Dua-duanya digugurkan, juga secara paksa.

Janji keluarga Rendy untuk menikahkan keduanya tak lebih dari isapan jempol belaka. Bukannya bertanggungjawab dengan cara merawat, Novia justru mendapat teror entah dari mana, serta paksaan untuk segera aborsi dari pihak Rendy dan keluarganya.

Rentetan peristiwa ini, menumpuk dalam diri Novia dan tentu saja berpengaruh pada tingkat depresi yang dialaminya. Inilah alasan mengapa pihak kepolisian akhirnya menyeret Rendy sebagai tersangka dalam kasus kematian Novia.

Dari cerita ringkas di atas, sejatinya tak perlu banyak cangkem untuk sekadar membuktikan bahwa apa yang diperbuat Randy ini biadab dan memiki relasi kuat terhadap kematian Novia. Begini saja, suatu hubungan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan keduanya, adalah tidak lain dari sebuah pemerkosaan. Belum lagi ditambah dengan paksaan aborsi yang dilakukan sampai dua kali.

Berbekal temuan neurosains dan kajian psikologi, kita tahu bahwa secara biologis, tindakan pemerkosaan dan praktik menggugurkan janin itu menguras segala-galanya bagi pihak korban: tenaga, kesehatan, kerusakan rahim, bahkan juga nyawa.

Sedangkan dalam konteks psikologis, adalah pasti bahwa setiap korban pemerkosaan dan praktisi aborsi paksa memiliki semacam pasca-trauma yang tak dapat dihindari. Bisa jadi sikap anti terhadap praktik pernikahan, anti dengan hubungan seksual, mengandung, anti dengan lawan jenis, atau efek depresi tak berkesudahan.

Beberapa efek inilah yang akhirnya menuntun Novia untuk memilih menyudahi seluruh penderitaan hidup dengan cara bunuh diri.

Permintaan Ibunda Novia kepada masyarakat agar tak lagi membesar-besarkan kematian anaknya, memang pantas dimaklumi. Sebab hal itu tak ayal akan menambah luka menganga akibat ditinggal seorang anak.

Namun itu tak berarti bahwa kita harus berhenti dalam memerangi sikap kesewenang-wenangan. Kita tak boleh berhenti dalam melawan segala bentuk tindakan yang turun dari diskursus besar patriarki. Kita juga tak boleh abai dengan sikap pecundang yang menindas hanya karena seragam, jabatan, jenis kelamin, atau apa pun. Sebab tidak ada alasan apa pun bagi manusia dapat menindas manusia lainnya!

Pun, kita harusnya berhenti mengglorifikasi seragam, jabatan, jenis kelamin, atau hal apa pun, seolah-olah hal itu menjadi satu-satunya kriteria kesempurnaan manusia. Seakan kriteria pasangan yang ideal itu hanya yang soal tampan/cantik, atau yang berseragam, atau yang berjabatan tinggi, atau yang kaya raya.

Saya tak hendak mengatakan bahwa jabatan, seragam (pekerjaan), kekayaan, atau paras itu sama sekali tak penting. Tetapi jika hal itu dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur, kita akhirnya abai pada kriteria lain semisal: pemahaman mengenai kesetaraan; bagaimana seseorang itu  memahami tentang hak dan nilai kemanusiaan; bagaimana seseorang melihat ketimpangan gender; atau bagaimana prinsip seseorang dalam hidup berkeluarga serta bermasyarakat. Ini kan lebih substansial dan bahkan jauh lebih penting dari sekadar urusan tampang dan seragam!

Novia mungkin tiada. Tetapi semoga (dan saya yakin) kematiannya tak sia-sia. Peristiwa ini harus menjadi alerta kepada seluruh umat manusia (tanpa melihat apa jenis kelaminnya), bahwa ketimpangan gender adalah persoalan sepanjang sejarah Homo Sapiens, dan karenanya upaya untuk membangun kesetaraan menjadi barang mutlak untuk selalu digaungkan dan direalisasikan.

Sekian. (Bung)

0Comments

Previous Post Next Post

ads