Ilustrasi: Ainul Yakin

Oleh : Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera, Maluku Utara Tobelo)

NATAL merupakan peristiwa besar. Yang membuat peristiwa itu menjadi besar karena yang datang adalah Allah sendiri untuk melawat umat-Nya.

Perjumpaan yang menyelamatkan itu terjadi atas inisiatif Allah karena kasih-Nya yang besar kepada manusia.

Dampak kedatangan-Nya tak hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya saja, tetapi seluruh bangsa akan turut menikmati tujuan kedatangan-Nya.

Karena itu, berkat dari kemurahan Allah atas inisiatif menjelma dan menjumpai manusia dengan menjadi manusia, dirasakan oleh semua, bahkan oleh segenap ciptaan tanpa terkecuali.

Hal ini terjadi sebagaimana tujuan dari kedatangan-Nya yakni untuk kesukaan, damai sejahtera, dan keselamatan. 

Lantas apa yang harus kita perhatikan sebagai orang-orang yang percaya pada kelahiran-Nya?

Bagi kita yang percaya dan berkenan kepada-Nya, kita dipanggil-Nya untuk menjadi saksi kelahiran-Nya sebagaimana para gembala. Menjadi saksi-Nya di setiap dimensi kehidupan kita dengan meninggalkan kefasikan dan fokus pada kehendak dan kemuliaan-Nya.

Nilai kesaksian dari setiap orang tergantung keeratan relasi dengan Tuhan. Ilustrasi yang sering dipergunakan dalam dunia Kekristenan adalah carang atau cabang anggur akan berbuah jika ia menempel pada pokok anggur.

Menarik untuk kita perhatikan pada ayat 20: “…Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah…” Setelah mereka berjumpa dan menyaksikan sendiri Kristus lahir, pulanglah mereka dengan memuji dan memuliakan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Allah selalu membuahkan pujian dan pemuliaan akan Allah, karena pada Allah, manusia menyaksikan kebesaran dan kemuliaan luar biasa serta merasakan kemurahan, kasih, dan rahmat yang besar.

Sepatutnya kita pun demikian, senantiasa menaikkan pujian hormat dan pemuliaan akan Allah yang dinyatakan dalam setiap situasi dan kondisi kehidupan, saat susah, saat senang, saat tegang, saat santai melalui segenap kehidupan kita. Karena bayi Yesus yang hadir dalam palungan di Betlehem menjadi terang dan sukacita bagi semua.

Memang Natal selalu menghadirkan tanya bagi kita: “Mengapa Tuhan mau melakukan itu semua demi kita?” 

Ia datang ke dunia yang rusak ini dengan tujuan: pemulihan, penebusan. Untuk siapa? Untuk kita. Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya siapa kita ini? Ibarat, jika kita punya HP, lalu HP itu rusak. Akan diperbaiki tapi harga perbaikannya tidak jauh beda jika dibandingkan dengan kita membeli HP baru. Apa yang akan kita lakukan? Mungkin sebagian besar di antara kita akan memilih lempar lalu beli baru.

Tidak mau pikir susah, tidak pakai lama. Tuhan, seharusnya bisa melakukan hal yang persis seperti itu terhadap kita. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan baik adanya, tetapi manusia merusaknya sedemikian rupa hingga parah. Seharusnya Tuhan tinggal “lempar lalu beli baru”, namun ternyata hal itu tidak dilakukan-Nya. Yang Tuhan lakukan itu aneh dari kacamata atau sudut pandang manusia.

Tuhan memilih untuk berjuang sekuat tenaga-Nya bagi kita yang sudah rusak parah ini supaya kita ini jadi pulih dan baik kembali supaya “…suatu saat nanti keadaan akan membaik dan sempurna kembali”. Ibarat manusia yang rusak itu, jatuh ke dalam sumur yang dalam, ia tidak bisa naik, untuk menyelamatkan dirinya, dan tidak ada seorang pun yang datang menolongnya.

Saat seperti itulah Yesus datang menyelamatkannya, dengan cara menggali lubang sumur yang baru di samping sumur yang dalam itu.

Ia tidak mengulurkan tali supaya manusia itu bisa diselamatkan, tetapi menggali sumur baru, sampai ke dasar sumur yang dalam itu untuk menemukan manusia yang jatuh tak berdaya, menyelamatkan manusia itu, dengan upaya dan inisiatif yang sungguh tidak masuk akal, mengangkatnya dan mengeluarkan manusia itu dari sumur yang dalam.

Itulah Yesus Kristus yang kita sembah, dan muliakan di saat ini, atas kelahiran-Nya ke dunia ini menebus dosa dan membaharui hubungan Allah dengan kita umat manusia. Kasih Allah sungguh besar, kasih yang mampu menggerakan manusia yang berdosa supaya juga mampu mengasihi sesama, seperti anak, istri, suami, saudara, dan seterusnya, tanpa batas karena kasih Allah nyata dan tegas sehari-hari. Demikianlah besarnya kasih Allah pada ciptaan-Nya.

Maka patutlah kita bersyukur dan bersukacita senantiasa serta menjadi saksi atas segala kebaikan-Nya.

Selamat Natal! Selamat menikmati hidup dalam kebersamaan dengan Allah, membangun kehidupan, mengupayakan kehidupan seturut rencana keselamatan-Nya!
0Comments

This is the first post Next Post

ads