Mengawasi Pilkades
Rontal.id - Mengawasi hajatan demokrasi adalah kewajiban kita semua. Sekecil-kecilnya lingkup hajatan itu. Mau tingkat desa atau presiden. Sebab itu, partisipasi politik hendaknya tak dimaknai secara sempit: sekedar ‘nyoblos’ (di bilik suara), lalu pulang.

Tapi ada tugas yang tak kalah penting: mengawasi. Mengawasi. Suara-suara (votes) yang kita salurkan di bilik suara, betapa pun rahasianya, kita tak pernah tahu, ke mana akan berlabuh?

* * *

29 April 2018, Karni Ilyas membuat cuitan: “Orang-orang yang memberikan vote (suara) tidak menentukan hasil dari pemilu. Namun orang-orang yg menghitung vote itulah yg menentukan hasil dari pemilu”.

Karni Ilyas tak menyebut ini sebagai kata-katanya sendiri. Melainkan ia mengutip dari seorang pemimpin besar Uni Soviet, Joseph Stalin. Apakah kiranya yang dimaksudkan dengan cuitan itu?

Karni Ilyas tak memperpanjang kalimat itu. Seperti biasa, kata-kata itu hanya ia kutip sebagai bagian dari tema diskusi ILC, dan tak ada rincian yang detail yang bisa menolong pendengar untuk mendapatkan pesan yang kontekstual dari kalimat itu. Tapi penonton ILC yang mengikuti saat itu, mungkin bisa memahami. Bila saya tak keliru, saat itu mengangkat soal pemilu. 

Kalimat itu - meski pun sebagai sebuah potongan saja - sebenarnya nampak mudah kita pahami. Apalagi bila kita kaitkan dengan dinamika politik praktis yang terjadi di masyarakat dalam momen-momen penentuan suara - mulai dari tingkat desa hingga pemilihan presiden.

* * *

Apakah ini berarti bahwa pilihan kita - suara kita yang penting, yang begitu dirahasikan di bilik suara - menjadi rentan sekali hilang? Dicuri jin? Jadi mubazzir?

Saya tak bisa memberikan kesimpulan yang meyakinkan sebagai “ya” untuk pertanyaan itu. Tapi mari jadikan pertanyaan itu sebagai sebuah ‘alarm’ kesiagaan. Mengapa? Sebab, hal-hal kecurigaan atas masalah itu, meskipun begitu mudah muncul sebagai desas-desus, tanpa kuatnya kita pada akses bukti yang meyakinkan, pada akhirnya menjadi masalah yang rumit yang bisa saja mengakibatkan tuduhan fitnah dan lain-lain.

Tetapi masalah seperti ini mesti terus dipersoalkan supaya partisipasi politik kita, pemberian suara kita di bilik suara, dapat lebih terjaga dan terawasi. Terutama saya berbicara ini dalam konteks pilkades. Sebab di tingkat terbawah ini, cakupannya lebih kecil, dan kita lebih mudah mengawasi.

* * *

Pilkades adalah momen yang sama pentingnya dengan pil-pil yang lain. Di tingkat ini, suara kita dipertaruhkan untuk memilih orang yang tepat sebagai kepala desa (Kades). Ketimbang pemimpin pusat yang jauh, Kades adalah jembatan pemerintahan paling dekat dengan rakyat yang dilayani (bukan diperintah). Sehingga apabila pengelolaan pemerintahan di tingkat desa kurang optimal, amburadul, maka dampaknya lebih terasa di masyarakat.

Poinnya: pengawasan, pengawalan. Saat ini, nyaris perangkat teknologi cerdas sudah begitu mudah diakses. Melimpah ke desa-desa, gawai-gawai cerdas. Orang-orang, terutama anak-anak muda, demikian akrab dengan perangkat itu, terkoneksi dengan internet, terkoneksi dengan dunia yang luas, dengan orang-orang, dan mudah sekali untuk saling berbagi komunikasi.

Pada titik ini, momen pilkades menjadi begitu mudah dipantau dan diawasi. Titik-titik persebaran bilik suara (TPS) tak banyak - bahkan yang lumrah terpusat di satu tempat. Meskipun begitu, kelengahan tentu saja selalu terbuka, terutama bila kita tak memiliki komitmen untuk pengawasan ini.

Sehingga yang perlu didorong di sini adalah menjadikan momen pilkades ini sebagai ajang untuk memperoleh pemimpin yang berkualitas, yang hanya bisa diperoleh melalui partisipasi kita melalui pemberian suara dan pengawasan atas proses hingga hasilnya. Dalam tugas ini, anak-anak muda tentu punya ‘privilege’ yang lebih ketimbang yang lain, terutama mereka yang punya kesadaran politik, punya pengetahuan dan akses atas perangkat cerdas dan media-media sosial.

Dengan cara pengawasan semacam ini, maka segala apapun terkait dinamika berlangsungnya hajatan demokrasi, dapat terkomunikasikan ke publik, melalui teknologi, media sosial yang ‘realtime’ dan bisa diikuti oleh banyak mata. Hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di dalam hajatan demokrasi, yang bisa merusak kualitas demokrasi, bisa ditekan sedemikian rupa lewat mata publik.

Poin terpenting dari ini, kita turut mengawasi suara-suara politik supaya mengalir ‘benar’ ke pihak yang memang kita dukung. Satu suara begitu penting. Satu suara yang berubah - yang mungkin diakibatkan dinamika politik yang tidak dibenarkan (penghilangan atau pencurian suara) - tentulah merugikan.

Sebab itu, mengawasi hajatan demokrasi adalah mengawasi kemana suara-suara kita mengalir. Dan peringatan Stalin - yang dikutip Karni Ilyas - di atas begitu relevan. Kita inginkan bahwa yang menjadi penentu kemenangan adalah orang-orang yang memberikan suara (vote) politiknya, bukan orang-orang yang menghitungnya.

 

(Ilustrasi: Ainul Yaqin)

0Comments

Previous Post Next Post

Iklan feed

ads