Foto diambil dari akun twitter @OfficialASRoma
 
Ditulis oleh: Sulaiman
 
Bola jatuh di dada Zaniolo, lalu ia kontrol sebentar dan dengan sentuhan kakinya yang jenius, ia cungkil sehingga bola terangkat, melayang di udara depan gawang, dekat kepala sang kiper lawan yang berusaha merebut bola tapi terkecoh dan terperangah dengan dua tangan yang sekedar menepis angin.

***
Setelah penantian begitu lama, akhirnya aku kembali melihat Roma, klub serigala asal ibu kota Italia yang aku dukung sejak kecil, kembali mengangkat tropi. Ini memang hanya kasta ketiga dalam kompetisi Eropa. Dalam urutannya, UCL teratas, lalu UEL (yang sering diledek piala malam jumat) dan terbawah UECL (nanti ledekan apalagi untuk kompetisi Eropa kasta terbawah ini haha).

Tapi bagaimana pun, ini tropi yang patut dirayakan 7 hari 7 malam oleh fans AS Roma. "Penantian yang begitu lama", rasanya ini frase yang tepat untuk menggambarkan kesabaran para pendukung Roma saking lamanya klub ini menjalani tirakat dan "puasa" gelar. Dan kedatangan Mourinho - aku berterima kasih kepada Tottenham yang memecatnya dan akhirnya Mou berlabuh ke Roma - menjadi berkah yang mengangkat tim ini untuk kembali ke jalur juara.

Bagi Roma dan fansnya, ini terasa "spesial", selain tropi ini menandai kalo Roma sudah buka puasa gelar, ini juga UECL edisi perdana. Roma menjadi klub pertama yang menjadi juara UECL edisi pertama. Semoga bertahap, ke depan naik kasta jadi juara UEL dan UCL (tak ada salahnya meletakkan harapan dulu, apalagi sekarang Roma di tangan pelatih yang berjuluk The Special One).

Dan bagi Mourinho, kemenangan ini melengkapi tropi kompetisi Eropa sebagai pelatih: 2x UCL, 2x UEL dan 1x UECL. Selamat Mou!!!

Sebagai fans AS Roma, terakhir kali aku merasakan euforia kemenangan dari klub ini adalah masa-masa diperkuat ada Vincenzo Montella (dengan selebrasi ikoniknya bak pesawat terbang), Gabriel Batistuta (yang sudah tak muda lagi tapi tetap bikin lini depan Roma tajam dan shoot-shootnya bikin kiper lawan bergidik ngeri), Francesco Totti (pangeran Roma, yang bukan hanya punya loyalitas tapi perannya vital bagi Roma maupun Italia), Delvecchio (si striker jangkung), Tomassi (si gelandang kribo dengan wajah dibungkus jenggot), Candella, Cafu, Aldair, Zebina, Samuel, Nakata (ku ingat gol jarak jauhnya yang membobol Juventus). Itu saja yang aku ingat. Eh ada sosok kiper Antoniolli yang menurutku biasa saja penampilannya. Dan aku inget ada nama Assunsao yang suka jadi andalan tendangan bebas.

Pesta terakhir di depan layar tv yang aku ingat adalah saat Roma mengandaskan Parma 3-1 (atau 3-0 ya?) yang membuat Roma juara scudetto musim 2000/2001. Tak ada minuman apapun di depanku. Tak ada kopi, rokok, atau apalah yang bisa menemani pesta kemenangan saat itu. Tapi begitulah yang kurasa: begitu wasit meniup pluit, pendukung Roma tumpah ke lapangan. Kebahagiaan kota Roma mengalir jauh hingga ke Janten, kampung kelahiranku, setidaknya pada diriku saat itu.

Parma yang saat itu diperkuat kiper legenda Italia, Buffon, tak mampu menjaga gawangnya dari ketajaman trio Montella, Totti, dan Batistuta yang masing mempersembahkan satu gol untuk Roma. Buffon - kiper yang harus mengalami tiga kebobolan trio striker Roma itu - hanya pasrah menerima kekalahan. Di akhir laga, Buffon terlihat hanya memakai celana dalam, sepatu, dan sarung tangan. Kostum Parma yang dikenakannya sudah dicopot entah oleh siapa - mungkin para fansnya. Ini juga terjadi pada beberapa pemain Roma yang lain.

Roma memang juga sempat menjuarai Coppa Italia pada musim 2007/2008dan Super Cup pada 2007/2008 tapi waktu itu adalah saat-saat aku tak menontonnya. Jadi, aku tak merasakan euforia itu. Lagi pula, kemenangan masa itu hanyalah percik kemenangan kecil yang tak menghindarkan Roma dari masa-masa suramnya, statusnya sebagai klub medioker, sebagai pelengkap kompetisi domestik dan Eropa (alias badut) seakan membuatku tak bersemangat. Pelatih berganti pelatih, tapi dengan skuad yang apa adanya - dan sekali ada bintang seperti Allison Becker dan Mo Salah, dijual demi cuan haha.

Dan pada pagi ini, 26 Mei 2022, di depan layar tv kuno, saat menyaksikan Roma mengangkat tropi UECL, usiaku sudah tak lagi muda. Anakku - yang tengah pulas di kamar bersama ibunya - sudah berusia 3 tahun 5 bulan. Mereka tak akan mendengar teriakanku (aku hanya teriak dalam hati) saat melihat tayang ulang umpan lambung dari ... (siapa sih tadi yang kirim assist ke Zaniolo), bola jatuh di dada Zaniolo, lalu ia kontrol sebentar dan dengan sentuhan kakinya yang jenius, ia cungkil sehingga bola terangkat, melayang di udara depan gawang, dekat kepala sang kiper lawan yang berusaha merebut bola tapi terkecoh dan terperangah dengan dua tangan yang sekedar menepis angin. Dan alhasil, tak ada lagi yang dapat menahan bola meluncur santuy ke gawang Feyenord. 1-0 untuk keunggulan Roma hingga akhir (bukan zaman tapi) babak kedua. Saat sang kiper menoleh, nasib sudah tak dapat ditarik lagi: bung Justin Bijlow, anda kebobolan.

Zaniolo jadi pahlawan kemenangan untuk Roma!
0Comments

Previous Post Next Post

Iklan feed

ads