Oleh: Fauzan Nur Ilahi
(Ilustrasi oleh: Ainul Yakin)

Mengapa kita suka merenung, berkhayal dan berimajinasi di kamar mandi?

9 dari 10 orang yang kutemui, mengaku suka aktivitas ini. Pertanyannya adalah mengapa demikian?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin perlu penelitian kuantitatif/kualitatif. Perlu dilihat seberapa banyak orang yang suka merenung, berkhayal dan berimajinasi di kamar mandi, serta apa alasannya.

Namun sebelum menunggu orang yang melakukan penelitian semacam itu, aku ingin membahas persoalan ini dari perspektif pribadi. Sebab aku adalah satu di antara sekian banyak manusia yang doyan berkhayal dan berimajinasi di kamar mandi.

Ada beberapa alasan mengapa kamar mandi merupakan tempat ternyaman untuk merenung, berkhayal dan berimajinasi. Tentu saja ini alasan pribadi.

Pertama, kamar mandi adalah ruang privat. Sebagai manusia waras, kita tak berminat untuk mengajak orang lain ikut ke kamar mandi (kecuali untuk beberapa alasan). Lebih-lebih saat kita buang air besar. Dan karena itu, kamar mandi menjadi tempat atau ruangan paling privat. Dalam ruang privat itulah kita bebas melepas segala khayal dan imajinasi paling liar sekalipun.

Tak ada hakim di kamar mandi. Tak ada komentator yang siap mengkritik suara nyanyian kita, sekalipun suara kita lebih mirip kambing mengembik. Pun tak ada yang akan mencap kita sesat karena telah merenung mengenai bagaimana Tuhan mencipta dunia? Apa benar Dia yang menciptakannya? Apa manusia pertama itu tergolong Homo Sapiens? Hidup itu sejatinya kebetulan atau bukan sih? Bukankah jika kita merujuk teori evolusi, semua kehidupan adalah serba "kebetulan"? Serta banyak pertanyaan lain yang sukar dan nyaris tak mungkin kita tanyakan di ruang publik (kecuali kita berniat dikeroyok massa).

Di kamar mandi, kita memiliki kebebasan untuk menanyakan berbagai hal. Kita tak dilarang untuk melepas pikiran sejauh-jauhnya. Kita tak dikelilingi oleh masyarakat yang penuh norma dan budaya. Kita sendirian!

Selanjutnya, mari kita masuk ke alasan kedua. Di dalam kamar mandi, lebih-lebih ketika kita buang air besar, tak banyak aktivitas yang bisa kita lakukan. Salah satu aktivitas sederhana yang paling mungkin kita lakukan adalah merenung, berimajinasi, berkhayal.

Di tengah terpaan kesibukan yang menyiksa, yang kadang membuat kita lupa bahwa kita manusia, yang menyita banyak sisi kemerdekaan kita, betapa mahal waktu untuk berkhayal. Tak heran jika para penikmat aktivitas mengkhayal di kamar mandi akan bersyukur saat diri mereka sakit perut dan hendak berak. Sebab itu artinya, waktu me-time sudah datang.

Betrand Russell dan Yuval N. Harari, dua penulis terkenal, bahkan pernah menulis esai cukup panjang perihal waktu luang yang seharusnya digunakan untuk berimajinasi dan berkhayal ini. Bagi mereka, salah satu syarat utama yang dibutuhkan agar manusia bisa lebih berkembang adalah waktu luang (yang dapat digunakan untuk berkhayal).

Nahasnya, waktu luang di kamar mandi yang sekejap itu, yang bisa kita gunakan untuk menerbangkan khayalan dan imajinasi sejauh mungkin itu, kini sudah mulai diganggu dengan kegemaran main gadget saat berak. Demi masa! Sungguh orang-orang yang merugi.

Padahal, kebiasaan berkhayal di kamar mandi jelas harus dilestarikan. Sebab, jika kita setia pada argumen Russell dan Harari, berkhayal di kamar mandi bisa jadi oase di tengah padat dan panasnya kesibukan. Utamanya masyarakat urban. Sebuah masyarakat yang dipeluk erat oleh urusan pekerjaan.

Berkhayal di kamar mandi bisa menjadi jeda kecil untuk merefleksikan hidup. Merenung mengenai apa yang sudah dikerjakan, dan apa yang akan dikerjakan; apakah kita sudah berusaha agar sebisa mungkin tak bikin orang repot; dan, sudahkah kita bahagia menjalani kehidupan ini.

Untuk itu, mari merenung di kamar mandi.

Sekian. (Bung)

0Comments

This is the first post Next Post

Iklan feed

ads