Foto: RBTH Indonesia

Betul-betul suatu pagi yang menggembirakan. Tiba-tiba, di beranda timeline twitter muncul akun yang berbaik hati membagikan link ebook pdf dari Kemendikbudristek yang bisa diakses gratis, hasil buruan yang tak disengaja.

“Sewaktu kami berburu karya domain publik untuk mengisi tabungan naskah, tetiba kami berbelok ke laman Repositori Kemdikbud dan menemukan dua bacaan sastra Rusia yang menyenangkan ini. Keduanya berbentuk PDF pindaian dan bisa diunduh dengan percuma. Silakan. (Tautan di bawah.)”, begitu cuit akun bernama @PustakaBahamut, si tukang buru buku berstatus domain publik.

Ebook pertama hasil buruannya yang tak disengaja, berjudul “Perumpamaan” (silahkan unduh di http://repositori.kemdikbud.go.id/24354/), karya Leo Tolstoy (diterjemahkan oleh S.M. Rassat). Lagi, kata si akun, buku ini memuat salah satu cerpen Tolstoy yang cukup masyhur: “Tuhan Maha Tahu, tapi Ia Menunggu”. Soal judul ini, aku punya cerita.

Suatu hari, aku sedang membaca salah satu novel Andrea Hirata. Aku tak ingat benar novel yang mana. Tapi yang paling mendekati kebenaran, kalimat itu aku dapati antara novel Laskar Pelangi atau Sang Pemimpi. Waktu itu, kata-kata itu dipakai oleh Andrea Hirata seakan sebagai semacam olok-olok atau mungkin sebaliknya pemberi semangat, pendorong optimis. Dan waktu itu, aku mengingatnya sebagai kalimat yang sangat bermakna. Entah. Yang pasti, hingga kini, kalimat itu masih ku ingat.

Beberapa hari lalu, saat sedang semangat-semangatnya membaca Anna Karenina-nya Tolstoy, dan membaca ulasan orang tentang Tolstoy, aku jadi tergerak untuk berburu karya Tolstoy. Bertemulah dengan beberapa buku seperti Kebangkitan (buku lawas dengan harga-harga yang melangit), dan ketemu pula dengan kumpulan cerpennya: Tuhan Maha Tahu, tapi Ia Menunggu” (judul ini bikin aku ingat lagi cerita Andrea Hirata, dan makin menggebu untuk beli).

Ebook kedua, berjudul “Perkenalan” (http://repositori.kemdikbud.go.id/24331/), berisi cerita pendek dari para penulis dunia: Anton Chekov, Jaroslav Hasek, Luigi Pirandello dan Guy de Maupassant (aku belum pernah membaca karangan dari tiga penulis terakhir).

Pertama, Jaroslav Hasek, aku baru mulai berburu penulis ini. Lantaran aku menemukan ulasan yang menarik tentang salah satu karya Jaroslav Hasek, berjudul Prajurit Schweik. Pengulas itu bilang, ini kisah satiris dan humoris. Ia juga bilang: “Berkisah tentang tokoh seorang prajurit eksentrik, bodoh, dan tak berdisiplin tetapi penuh ketulusan dan kejujuran”.

Sontak, sembari bersabar memegangi kantong yang menipis, aku berangan-angan untuk membelinya suatu saat nanti (saja). Sambil membayangkan betapa menariknya karangan Jaroslav Hasek, mulailah aku berburu buku itu melalui toko online untuk sekedar disimpan di keranjang calon buku untuk dibeli alias wishlist.

Kedua, Luigi Pirandello. Yang kuingat adalah karangannya, ‘Enam Karakter Mencari Seorang Penulis’. Yang paling menggoda imanku isi kantongku (untuk membeli) tentu saja adalah ulasannya yang … entahlah. Si pengulas itu membuat pengandaian-pengandaian begini: “Bayangkan jika sejumlah karakter tertimpa kemalangan setelah dilahirkan dari fantasi seorang penulis, lalu si penulis sendiri menolak untuk mengakui keberadaan mereka. Akhirnya para karakter berusaha membujuk si penulis agar memberi mereka panggung kehidupan”.

Sebelum aku membacanya, aku membayangkan betapa jengkelnya tokoh-tokoh fiksi ini ke si penulis. Betapa tidak bertanggung jawabnya si penulis. Begitu bangsatnya ia membiarkan tokoh-tokoh fiksinya terkatung-katung dalam panggung imajinasi si penulis. Aku sudah membeli bukunya, dan baru sampe sore ini saat catatan ini dibuat.

Terakhir, Guy de Maupassant. Sama sekali aku tak tahu nama tokoh ini, dan juga belum tahu judul apa karangannya. Tapi ebook pdf dari akun baik hati ini akan menjadi bacaan awal yang mungkin jadi pintu masuk untuk menelusuri karya-karya lain dari Maupassant. Semoga.

0Comments

Previous Post Next Post

Iklan feed

ads