Siapakah yang paling mendapatkan kesenangan dalam sebuah drama? 

Kita tidak bisa menarik simpulan sederhana apakah itu penonton ataukah kepuasan pemain karena berhasil memerankan perannya. Tetapi kala adegan selesai, semua tertuju satu nama, sutradara. Drama dunia nyata tak kalah mendebarkan, publik sebagai penonton dengan bekal cacian dan pujian itu, juga menanti drama kasus oknum polisi yang dar-der-dor pada anak buahnya terungkap. Belum sempat sutradara muncul, naskah tiba-tiba berubah dengan disisipkan kisah naiknya harga cairan sejuta ummat “BBM” yang sama sekali tidak dibicarakan sutradara dengan para pemainnya. Alhasil, kiasan drama di atas kita sudah tebak akhirannya semua berhenti pada titik dengung “gila betul”.

Sutradara selalu mendapatkan tempat paling aman. Dia terlindung dari moral yang membingungkan serta berbahaya yang mereka buat sendiri. Hukum bisa jadi niaga dan politik menjadi panglima pemutus keterdesakan. Sutradara drama kenyataan jauh lebih tidak mengasyikkan jika dibandingkan kegagalan sutradara panggung yang salah menempatkan peran pada karakter para pemainnya. Lagi pula massa yang banyak jumlahnya di dunia nyata ini adalah publik yang ruang sosial dan budayanya diniagakan secara total. Ibarat teras, kenyataan itu akan menunjuk hidung pemilik rumah yang tidak akan tersamarkan lagi, itu pemimpinya, pemerintahnya, presidennya!

Sekarang memang bukan zaman para pemimpin dekat dan mencintai rakyat, layaknya para pendiri negara ini. Terjadi pencairan dan penjarakan antara rakyat dan pemimpin, karena aktor-aktor kekuasaan yang kini hadir tak memosisikan diri sebagai pemimpin, melainkan penguasa. Pemimpin itu melayani, sedangkan penguasa selalu menuntut dilayani.

Para penguasa umumnya bukan manusia-manusia ideologis tapi kaum pragmatis yang pola pikirnya berorientasi pada laba. Maka serupa laba-laba pula mereka menebarkan jaring kekuasaannya demi mengukuhkan dominasi dan hegemoni. Praktik bernegara dan berkonstitusi tak berlanggam ideologis dengan spirit solidaritas sesama bangsa, melainkan perniagaan.

Negara mereka pahami sebagai perusahaan, bukan lagi rumah kebangsaan yang menjamin setiap hak warga negaranya. Kalau toh mereka sering memainkan berbagai narasi nasionalisme dan pratriotisme, rakyat yakin mereka sedang latihan bermain drama.

Semua pesta pasti berakhir, dan semua orang yang terlibat dalam kekuasaan akan menemukan takdirnya sendiri-sendiri, tergantung warisan nilai yang ditinggalkan. Memimpin negara tak beda menabung nilai-nilai. Besar kecilnya nilai-nilai itu sangat menentukan nilai eksistensial seseorang.

Rakyat tidak butuh halusinasi tentang “joko piningit” (pemimpin yang disiapkan untuk menciptakan keadilan). Tak butuh tokoh-tokoh yang sibuk memoles diri seolah pemimpin sejati tapi sesungguhnya tak lebih dari penjual komoditas.

Rakyat juga tak butuh mitos “ratu adil” tapi hukum yang adil (istilah penyair Rendra). Rakyat menunggu para pemimpin menciptakan musik orkestra keadilan dan kesejahteraan yang resonansinya mampu menggusur suara-suara riuh yang bikin gaduh dan sakit telinga.

Cairan Eko-Nomos

Kalau kita memahami bagaimana pasar valas beroperasi, depresiasi rupiah saat ini merupakan kejadian semestinya. Secara fundamental, ekonomi kita mengandung terlalu banyak kerawanan. Kita sedang menghadapi apa yang disebut sebagai "penyakit Belanda" (Dutch disease). Dulu Belanda mengalami masalah ini ketika ada penemuan gas di Laut Utara yang membuat apreasiasi mata uang gulden tidak wajar. Akibatnya, daya saing industri manufaktur yang sebelumnya menjadi fondasi ekonomi Belanda merosot.

Setelah inflasi yang tinggi pasca kenaikan harga BBM, kini disusul inflasi yang berasal dari impor (imported inflation). Gaya hidup kelas menengah akan terimbas. Saat ini mayoritas barang yang kita konsumsi sehari-hari betul-betul penuh komponen impor. Dari mie instan sampai mobil, komponen impornya sudah sangat besar. Perlu menerima kenyataan bahwa hidup akan makin sulit.

Biaya trasportasi udara (tiket pesawat) juga bisa melonjak. Sebab, semua pesawat kita sebenarnya adalah pesawat utang dalam valuta asing. Untuk membayar angsuran dolar yang sama diperlukan rupiah yang lebih besar dan ini hanya bisa dilakukan dengan menaikkan harga tiket. Bagi korporasi, sebenarnya situasi akan makin sulit karena kenaikan harga yang berasal dari impor akan membuat harga barang harus naik di tengah daya beli yang makin merosot. Keadan makin parah bagi perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing dengan orientasi pasar dalam negeri.

Seorang penguasa sering lupa, akhir cerita (ending) bukan sekadar tutup buku, melainkan juga pintu masuk bagi segala penilaian, bahkan tuntutan atas kekuasaan yang telah dijalankan. Ia bisa mendapatkan upah moral, tetapi bisa juga dapat rapor hitam. Upah moral berupa apresiasi publik yang selalu tercatat dalam ruang ingatan publik dan buku sejarah bangsa. Adapun rapor hitam berupa kutukan yang selalu bergema sepanjang sejarah. Para kreator karya seni selalu berupaya menciptakan akhir yang kuat, baik dalam pesan maupun simbol. Akhir yang kuat dan indah akan membuat penikmat karya seni selalu terkesan dan mendapatkan inspirasi. Di sini, imajinasi menjadi media penebusan bagi dunia yang mengalami fragmentasi dan detotalisasi nilai.

Bagaimana dengan penguasa? Penguasa menghadapi tiga hal fundamental dalam menciptakan akhir cerita. Pertama, nilai-nilai ideal yang diharapkan terpahat atau tertancap secara otentik dalam kinerjanya. Nilai-nilai yang mengandung pesan dan tindakan mulia itu akan jadi pantulan kolektif dan cermin besar bagi publik. Nilai-nilai ideal pemimpin sekaligus penguasa akan mengendap dalam kognisi dan afeksi publik hingga sang pemimpin mampu hadir sebagai legenda.

Kedua, idealisme pemimpin sekaligus penguasa. Idealisme mendorongnya menjadi tokoh sejarah. Apa artinya memimpin negara, misalnya, kalau kelak hanya dikenal sebagai ”orang yang pernah jadi presiden”? Sangat menyedihkan. Namun, ketokohan membutuhkan syarat, antara lain integritas, komitmen, kapabilitas, reputasi (berupa karya-karya besar dan penting), serta kemampuan memberikan inspirasi kepada publik.

Ketiga, kesadaran untuk memberikan ide, paradigma, dan kreativitas tentang negara-bangsa yang semakin baik (beradab, adil, makmur, sejahtera, demokratis, dan multikultural).

Jadi bagaimanakah massa kedepan menonton drama yang telanjang ini. Di mana cairan dan lendir disatukan dalam satu dimensi keperluan hajat bersama dan ambisi bejat sekaligus. Bukankah rasa pura-pura tidak mengenali dan memahami adalah ihtilaf yang seringkali dibuat-buat untuk menghindar dari kegagalan mendramtisir suasana. Atau mungkin semua kesadaran yang mereka akui juga bagian dari kelanjutan perencaan kisah yang mereka belum anggap titik klimaks drama. Wallahualam.
0Comments

Previous Post Next Post

Iklan feed

ads