Ilustrasi: Ainul Yaqin

Aku membaca laporan Tirto.id. Judul beritanya: "Orang Indonesia Paling Malas Jalan Kaki." Isinya, ya sesuai judul berita. Berdasarkan hasil penelitian dari peneliti Universitas Stanford yang dirilis di Jurnal Nature, Indonesia menempati posisi juru kunci sebagai negara yang masyarakatnya paling malas jalan kaki.


Masih dalam laporan Tirto, banyak ahli yang melihat fenomena ini sebagai efek dari pelbagai hal yang saling tumpang tindih. Misal, minusnya trotoar, kendaraan sebagai prestise, iklim yang panas, atau kebijakan liberalisasi kendaraan di zaman OrBa.

Semua argumen tokoh perihal fenomena Indonesia krisis pejalan kaki menurutku rasional belaka. Mulai dari gagalnya pemerintah dalam mengelola trotoar, paradigma masyarakat yang menganggap kendaraan sebagai medium narsis, iklim panas Indonesia yang cenderung mengundang gerah dan keringat, serta kebijakan liberalisasi kendaraan ala OrBa, adalah beberapa faktor yang melahirkan kondisi di mana melihat orang jalan kaki adalah hal yang langka.

Di zaman sekarang, nampaknya jalan kaki adalah sebuah kemewahan tersendiri. Bayangkan, banyak di antara orang-orang berduit yang membeli alat olahraga hanya demi bisa "cosplay" jalan atau lari, namun tetap di dalam ruangan. Kita mengenalnya dengan treadmill. Ya walaupun di sisi lain banyak juga orang yang dengan pikiran sadar ogah jalan kaki karena menganggap praktik itu erat dengan status miskin.

Negara tetangga seperti Cina dan Jepang, dikenal dengan negara yang memiliki masyarakat pejalan kaki yang rajin. Banyak di negara Barat juga demikian. Artinya, jalan kaki dianggap lebih sehat, ekonomis, dan yang jelas lebih rasional dan lebih "mewah" daripada mengendarai motor atau mobil hanya untuk mengunjungi tempat yang bisa diakses dengan jalan kaki.

Membahas fenomena minimnya pejalan kaki di Indonesia, alih-alih membahas perihal tata kota, prestise, iklim, atau kebijakan pemerintah, aku justru tertarik pada paradigma masyarakat terhadap modernisme dan produk-produknya.

Tak seperti mayoritas masyarakat Indonesia yang belum merasakan buah manis modernisasi, masyarakat Barat sepertinya sudah muak dan paham betul bahwa modernisme tak melulu membawa yang baik-baik (atau setidaknya keliru dalam mendefinisikan modernisme). Kemudahan yang dibawa oleh modernisme kadang menjebak. Salah satunya kemudahan dalam berkendara.

Kendaraan dengan tenaga listrik atau bahan bakar minyak, mungkin baik dalam aspek tertentu. Tetapi hal itu juga bisa menjerat manusia pada rasa malas dan keengganan untuk menggerakkan badan yang notabene sangat berdampak pada kesehatan.

Tetapi persetan soal kesehatan. Kita tahu bahwa perubahan sosial dalam masyarakat selalu distimulus oleh suatu peristiwa tertentu. Masyarakat Barat menjadi pejalan kaki yang rajin sangat mungkin diakibatkan oleh peristiwa di mana banyak di antara mereka yang sakit-sakitan akibat jarang sekali menggerakkan badan, kebiasaan konsumsi junkfood, sehingga masyarakat diancam obesitas alih-alih kelaparan. Kemudahan serta kecepatan yang dibawa oleh modernisme berupa kendaraan dan makanan cepat saji, akhirnya membunuh mereka secara perlahan. Pada titik ini masyarakat Barat sadar dan mafhum bahwa ada solusi sederhana yang layak diaplikasikan: jalan kaki.

Aku pikir, untuk mencapai titik di mana masyarakat mulai menghargai dan rajin jalan kaki, dalam konteks masyarakat Indonesia rasa-rasanya masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Kendati pandemi memaksa kita untuk mulai acuh terhadap kesehatan, tetapi peristiwa tersebut kurasa belum mampu untuk menjadi momentum bagi masyarakat agar mulai mencintai jalan kaki dan tidak lagi menganggap kegiatan tersebut sebagai representasi kemiskinan.

Apalagi jika kita lihat realitas masyarakat pedesaan yang masih gandrung dengan produk-produk modernisme. Tanpa bermaksud merendahkan (karena ini adalah hal yang wajar bagi individu yang terperangah kepada barang-barang anyar), setidaknya masyarakat di kampungku masih melihat seluruh produk modernisme sebagai sesuatu yang pasti mewah.

Kendaraan masih menjadi salah satu tolok ukur status sosial. Kami, orang-orang di kampung, masih menganggap makanan cepat saji ala McD dan KFC itu sebagai simbol kemewahan dan kekayaan. Tak sadar bahwa makanan yang kami konsumsi sehari-hari jauh lebih healthy daripada junkfood sialan itu.

Aku masih melihat fenomena itu menjamur di masyarakat-masyarakat kita. Sehingga di tengah kondisi yang demikian, perlu kiranya kita melakukan tinjau ulang terhadap makna modernisme.

Secara sangat sederhana, modernisme setidaknya dapat kita lihat sebagai upaya untuk memaksimalkan potensi akal atau nalar, serta sikap khidmat pada temuan-temuan ilmiah. Andai kita sepakat dengan definisi ini, maka berkendara demi mencapai titik yang sangat mungkin dan tidak membuat kita rugi apabila melaluinya dengan jalan kaki, jelas tindakan yang tidak modern karena bertentangan dengan kesehatan. Makan junkfood yang jelas berdampak negatif bagi kesehatan, tentu bukan modern.

Ya, walaupun dalam semangat libelarisme ala modernisme, setiap pilihan yang berdampak terhadap diri dan bukan pada orang lain tidak masuk kategori salah. Tetapi setidaknya kita paham bahwa produk modernisme tidak menyimpan manfaat belaka. Ada pula sisi negatif yang harus dikelola.

Pada titik ini, kita kembali pada persoalan awal bahwa krisis pejalan kaki adalah fenomena sistemik yang dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Sebab jalan kaki menurutku adalah hal yang baik, maka faktor-faktor yang menjadi latar belakang ini mestilah diminimalisir. Sebelum bermimpi mayoritas masyarakat cinta jalan kaki, kurasa hal yang perlu dilakukan sebagai tahap awal adalah ini: trotoar harus diperbaiki, hak pejalan kaki harus dijamin.

Wadah perbaiki dulu, instruksi kemudian. (Bung)
0Comments

Previous Post Next Post

Iklan feed

ads