Oleh: Fredy Rahalus

(Young Melanesian Putra Haar Rumtiar Maluku Tenggara)

(Ilustrasi oleh: Ainul Yakin)

Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 01 Oktober 2022 terjadi sebuah tragedi yang memilukan bagi dunia sepak bola Indonesia dan secara umum bagi sepak bola internasional, yakni kasus meninggalnya para suporter dan anggota kepolisian di Stadion Kanjuruhan-Malang.

Janji klub suporter untuk nihil insiden apalagi kerusuhan, kosong saja akhirnya.  Lebih jauh dari pada itu bahwa gas air mata yang digunakan polisi untuk menghalau kerusuhan adalah hal terfatal yang menjadikan tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia bahkan dunia ini terjadi.

Peristiwa ini di samping persitiwa serupa lainnya merupakan jejak-jejak dari negativitas pengalaman manusia. Dari peristiwa di atas juga dapat dilihat bahwa telah terjadi “pengremangan kesadaran” dari gerombolan orang-orang yang menjadi bagian dari peristiwa itu. Kemudian juga bahwa merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.’

Terlepas dari kronologi dan hal-hal lain yang menjadi latar belakang dari peristiwa Stadion Kanjuruhan di atas, fenomena kekerasan yang dilakukan atas nama massa yang semakin marak akhir-akhir (kasus Kanjuruhan, Tambak Sari Surabaya, dan lain sebagainya) ini menurut George Simmel, diproyeksikan oleh heterofobia (takut akan ‘yang lain’). Dalam kekerasan massa ‘pelaku’ kekerasan justru mengalami penumpulan tidak hanya perasaan melukai para korban tetapi juga sirna rasa bersalah atas perilaku kekerasan.

Lenyaplah daya serap moralitas dan akal sehat kehilangan “otoritasnya”. Disorot dari psikologi politik (mental), kebuntuan komunikasi yang memproduksi kekerasan secara epistemologis dimengerti sebagai proses pengenalan manusia. Artinya, tindakan kekerasan itu sudah terkondisikan di dalam struktur pikiran manusia. 

Oleh karena itu, menarik untuk melihat fakta keberadaan orang lain (dalam hal ini merujuk pada peristiwa Stadion Kanjuruhan yang menelan banyak korban jiwa), bahwa ketika aku bertindak di luar nalar antara aku dan dia, aku memandang dia sebagai mangsa, maka dengan demikian kekerasan terhadap yang lain menjadi hal yang mutlak.

Bertolak dari analisis Emanuel Levinas, seorang filsuf fenomenologis mencoba mengangkat subjek lain di luar diriku sebagai subyek atau aku yang dari padanya menuntut pertangungjawaban moral.

Sudut pandang Emanuel Levinas dikaitkan oleh penulis dengan peristiwa Stadion Kanjuruhan, di mana berdasarkan sudut pandang Levinas bahwa massa atau para suporter yang menjadi pelaku dan korban kerusuhan perlu dilihat dari cara pandang bahwa aku memangsa yang lain karena aku tidak bertanggungjawab terhadap eksistensi lain di luar diriku.

Fanatisme merupakan suatu keyakinan berupa kesetiaan, pengabdian, kecintaan, dan sebagainya. Lebih lanjut bahwa fanatisme sebagai sikap penuh semangat yang berlebihan terhadap satu pandangan. Sikap tersebut didasarkan pada suatu pemikiran dan pemahaman dari individu tersebut yang tidak berubah. Fanatisme diartikan sebagai sebuah paham karena dalam ejaan yang disempurnakan, kata yang memiliki akhiran-isme adalah suatu paham.

Fanatik dan fanatisme memiliki artian yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa fanatik adalah sifat yang timbul saat seseorang menganut fanatisme. Sehingga fanatik dan fanatisme seperti memiliki keterkaitan sebab akibat. 

Suporter adalah kelompok yang memiliki tanggung jawab terhadap eksistensi dan prestasi klubnya. Suporter ingin saling memadupadankan diri, baik secara perilaku maupun penampilan. Hal ini dikarenakan perasaan memiliki kepada klub favoritnya tersebut sangat tinggi. Tidak jarang supporter rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli merchandise, ataupun ikut menonton pertandingan kesebelasan favoritnya. Para supporter melakukan hal tersebut untuk membedakan dirinya dengan penonton lain. 

Suporter sepak bola sering diartikan sebagai kerumunan. Kerumunan tersebut adalah orang yang berada pada tempat yang sama meskipun tidak saling mengenal satu sama lain namun memiliki sifat yang peka terhadap stimulus dari luar. Kelompok suporter  meski menonton sepak bola di tempat yang sama belum tentu mereka saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi mereka sangat peka terhadap stimulus dari luar seperti saat tim idolanya nyaris mencetak gol atau saat gol tercipta secara tidak langsung mereka menunjukkan ekspresi yang sama. Apabila berlangsung tindakan anarkis, mereka membantu rekan- rekannya atas nama solidaritas.

Sebagaimana yang nampak terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang-Jawa Timur yang menelan banyak korban, fenomena di atas sepertinya telah memosisikan kembali aspek etis dalam seluruh fenomena kehidupan manusia termasuk dalam kumpulan masa yang berujung menelan korban di Stadion Kanjuruhan Malang-Jawa Timur.  Benang merah dari fenomena di atas dengan isi pemikran Levinas dapat dilihat dari bagaimana ia membangun filsafatnya di atas kenyataan paling dasar yakni adanya orang lain yang menampakkan wajahnya pada aku.

Bagi Levinas, penampakan wajah orang lain itu adalah fakta paling dasar sebelum aku sadar akan kehadirannya dan menentukan sikapku. Atas dasar kenyataan dasari inilah Levinas membangun filsafatnya, dan karena itu bagi dia materi utama filsafat adalah etika. Dan landasaan etika adalah orang lain, tanggung jawabku terhadap orang lain. Atas dasar ini dia mengkritik seluruh filsafat sebelumnya sebagai berpusat pada aku dan kesadaranku dan bukan pada orang lain. 

Pada saat perjumpaan dengan orang lain, aku sebagai the self  belum sampai pada kesadaran untuk mengada dan mengambil sikap. Kondisiku adalah pasif sepasif-pasifnya, artinya belum sampai pada kesadaranku untuk bersikap aktif atau pasif. Itu berarti tanggung jawabku kepada orang lain itu bukan keputusanku, bukan tindakanku melainkan prinsip etis, yang ditemukan di atas fakta dasar ini.

Berdasarkan fakta yang tak dapat dielak menyangkut aku dan orang lain ini, kita membangun prinsip- prinsip yang dianut bersama, dan membuat kesepakatan-kesepakatan yang adil. Di sini kita menemukan peraturan-peraturan yang menjamin bahwa setiap aku bertanggungjawab atas orang lain. Landasannya tetap pada fakta dasar tadi yakni tanggung jawab pada orang lain. 

Berhadapan dengan tragedi Stadion Kanjuruhan beberapa waktu silam yang telah menelan banyak korban meninggal dan luka serta Kerugian materil lainnya, berdasarkan analisis filosofis Emanuel Levinas tentang etika wajah orang lain bahwa tragedi ini seharusnya menyampaikan kepadaku fakta sejati bahwa aku bertanggung jawab terhadap orang lain. Itulah wajah-wajah yang seharusnya tampil di antara kerumunan supporter di Stadion Kanjuruhan Malang.

Dalam pergumulan tragedi ini, sebagaimana dipikirkan Levinas bahwa ia membantu kita untuk menghadapinya dengan sikap terbuka secara etis: bertanggung jawab kepada orang lain dan bersikap adil terhadap masyarakat, para kesebelasan tim sepak bola yang bertanding, pelatih dan official, aparat penegak hukum, pemerintah sebagai penyelenggara yang diwakili oleh PSSI, dan lain sebagainya. Tanggung jawab terhadap orang lain yang tak terbatas sebagai fakta dasar tidak dapat dilepaskan dari keadilan bagi seluruh umat manusia.

0Comments

Previous Post Next Post

Iklan feed

ads