Oleh: Titi Nurhayati
(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang)
(Ilustrasi oleh: Ainul Yakin)

Ketidakstabilan ekonomi di Indonesia sejak pandemi hingga saat ini terus membuat badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Seperti yang sudah kita ketahui pada tahun 2022 ini, kasus PHK terus terjadi. Tercatat sudah ada ribuan karyawan yang di-PHK yang berasal dari perusahaan rintisan besar. Dari beberapa sumber alasan perusahaan melakukan PHK karena dampak ketidakstabilan ekonomi, atau tantangan makro ekonomi global.

Sesuai dengan hasil yang dilansir pada Kemenkeu, saat ini ekonomi global dinilai sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang mengalami koreksi ke bawah. Untuk tahun 2022, proyeksi dari World Economic Outlook IMF hanya 3,2 persen dan tahun depan pertumbuhan ekonomi dunia juga diperkirakan akan semakin menurun dengan angka 2,7 persen. Dengan inflasi yang cenderung tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang menurun, ini memberikan sinyal bahwa situasi ekonomi dunia cukup tertekan.

Tantangan makro ekonomi global berdampak signifikan bagi para pelaku usaha di seluruh dunia, sehingga perlu beradaptasi untuk memastikan kesiapan perusahaan menghadapi tantangan ke depan. Di mana menurut laporan dari sejumlah asosiasi, beberapa perusahaan yang bergerak di industri padat karya seperti tekstil juga mengalami kinerja yang melambat, sehingga perusahaan harus mengambil keputusan sulit di tengah kondisi pelambatan makro ekonomi.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi memprediksi jika kondisi ekonomi memburuk maka kemungkinan PHK akan lebih besar pada tahun 2023 mendatang.

Berikut beberapa nama perusahaan besar di dunia startup yang melakukan PHK (CNBC Indonesia). Pertama, Shopee. Dalam 6 bulan terakhir, induk usaha Shopee, Sea, telah mem-PHK 7.000 pegawainya di seluruh dunia. Selain itu, Shopee juga menutup dan membatalkan ekspansi mereka di berbagai negara termasuk Spanyol, Prancis, dan India. Kedua, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). GOTO melakukan PHK karyawan sebanyak 1.300 orang atau sekitar 12% dari total karyawan tetap. Ketiga, Ruang Guru. Jumlah pegawai yang terimbas PHK mencapai ratusan, alasan perusahaan untuk mengurangi secara drastis jumlah karyawannya adalah kondisi pasar global.

Hal ini tentu akan mengakibatkan pengangguran semakin meningkat, dan krisis ekonomi terus berkelanjutan. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, menyebutkan ada tiga faktor utama yang menyebabkan risiko stagnasi dan inflasi yang terjadi di berbagai negara (Merdeka.com).

Pertama, risiko yang berkaitan dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina termasuk juga pengenaan sanksi yang menyebabkan gangguan pasokan energi dan pangan global serta gangguan mata rantai pasokan global.

Kedua, pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan berbagai negara maju. Ruang fiskal yang terbatas di sejumlah negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global, dan berdampak pada meningkatnya harga-harga di dalam negeri. Selain itu, sejumlah bank sentral juga menaikkan suku bunga, tidak hanya Amerika Serikat saja, melainkan juga terjadi di Brazil, Malaysia, India dan sejumlah negara lain. Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, kenaikan kasus dan kebijakan zero covid-19 China menyebabkan terjadinya perlambatan ekonomi disana.

Pemerintah tentu saja tidak berdiam diri dengan krisis ekonomi global ini. Presiden RI Joko Widodo mengungkapkan strategi besar Indonesia menghadapi situasi tantangan ekonomi global saat ini. Pertama, strategi meningkatkan penggunaan dan belanja produk-produk dalam negeri. Sehingga perekonomian nasional akan terus bergerak dan tumbuh secara berkelanjutan. “Masyarakat Indonesia diharapkan agar penggunaan produk-produk impor harus dikurangi bahkan dihilangkan.”

Kedua, mempercepat proses digitalisasi untuk peningkatan penyerapan produk dalam negeri dan produk usaha mikro kecil dan koperasi.

Ketiga, meningkatkan riset produk subtitusi impor dan pemberian insentif bagi investor.

Untuk itu sangat diperlukan kesadaran masyarakat Indonesia untuk selalu mencintai produk dalam negeri guna memperkecil tantangan ekonomi global, dan perlu solidaritas dan semangat bersama untuk menangani krisis global yang telah terjadi. Hal ini agar tidak menimbulkan ego dan mempersulit negara di dunia di dalam menghadapi krisis ekonomi global. Dan harapannya adalah semoga krisis ekonomi ini segera mendapatkan solusi terbaik, dan tidak berkelanjutan.

0Comments

This is the first post Next Post

Iklan feed

ads