Jalinan Rumit Kekerasan, Diskriminasi dan Ego Superioritas

Table of Contents
Gambar: Diambil dari amazon, pinterest, fandom & diolah tipis-manis oleh Ainul Yakin


Kekerasan memiliki habitat pelestarinya yakni lingkaran dendam dan kebencian. Lingkaran itu pada akhirnya menyuburkan dan membenarkan kekerasan. Apalagi pada lingkaran ini, ada problem superioritas dan ketertindasan yang dirawat terus-menerus sebagai pijakan moral untuk merawat dendam.

Paling tidak itulah yang dirawat oleh Hody muda. Ia merasa bahwa ras manusia dan ras manusia ikan selamanya hidup dalam ketegangan, saling menindas tiada akhir.

Hody adalah rangkaian konsekuensi. Trauma, kegetiran, dan segala hal yang menajamkan pisau kebenciannya telah dipupuk sedemikian lama lewat peristiwa demi peristiwa yang dirawat di ingatan generasi demi generasi fishman. Hody adalah titik ujungnya. Setidaknya itulah yang terbaca dari peristiwa berdarah di fishman island (pulau manusia ikan).

*
Dimulai dari Arlong, sosok fishman. Di mata Nami, ia sangat buruk. Ada satu masa di mana Arlong begitu berkuasa di wilayah Nami kecil, menyebarkan ketakutan, memungut pajak dari orang-orang, menindas. Praktis, di wilayah itu, kebebasan memiliki harga yang sangat mahal: dibayar dengan kematian.

Dalam diri Nami, penindasan Arlong meninggalkan jejak trauma yang sangat mendalam: sang ibu angkatnya dibunuh Arlong. Dan ia sendiri disekap bertahun-tahun oleh Arlong. Dipekerjakan (tentu tanpa dibayar) untuk kepentingan Arlong yang berambisi menjadi bajak laut besar, untuk menguasai semua wilayah penting di laut. Kebetulan Nami - yang kelak jadi seorang navigator handal dari kru bajak laut si Topi Jerami Luffy – adalah seorang jenius sejak kecil: ia tak hanya bisa membaca peta melainkan juga membuatnya dengan sempurna.

Tak ada yang mengoreksi Arlong. Bahkan angkatan laut – yang sejatinya musuh para bajak laut dan berpijak pada semangat keadilan dunia – tak berbuat apa-apa atas kekerasan itu. Seakan semua mata buta terhadap kekerasan rezim Arlong.

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi, Arlong dan oknum angkatan laut terlibat ikatan tak kasat mata ‘tahu sama tahu’ yang diperhalus dalam ‘bagi-bagi jarahan’ dari memeras warga di mana Nami tinggal.

Kelak di kemudian hari, dalam peristiwa di fishman Island, Jinbei mengakui dosa itu: Arlong tak mungkin berkuasa selama bertahun-tahun (mungkin 10 tahun) di tanah Nami kalau bukan karena Jinbei yang saat itu sebagai ‘Shichibukai’ ikut ‘membiarkan’ kekerasan dan penindasan itu terjadi.

Apakah Arlong dan Jinbei patut disalahkan sepenuhnya?

Di luar perspektif Nami sebagai korban dengan trauma mendalam, situasi itu bisa dibaca dalam jaringan dendam, diskriminasi, pengkhianatan dan ego superioritas fishman yang rumit. Arlong dan Jinbei ada di era-era itu, menyaksikan kepedihan itu.

Jauh sebelum peristiwa penguasaan Arlong di wilayah Nami, ada jalin-jemalin peristiwa yang mengantarkan kita pada dua sosok pahlawan – paling tidak di mata para fishman: Tiger Fishman dan Queen Otohime.

*
Bertahun-tahum, manusia ikan mengalami diskriminasi dan perbudakan oleh umat manusia. Nami sendiri baru menyadari ada kekerasan yang dilakukan ras manusia atas ras manusia ikan di suatu pulau bernama Pulau Sabaody, dekat Red Line.

Kekejaman ras umat manusia atas manusia ikan tak pernah berhenti. Diskriminasi itu terwujud dalam banyak hal: umat manusia menganggap manusia ikan sekedar sebagai spesies ikan belaka bukan manusia, diperlakukan lebih rendah dari ras manusia, dipandang sebagai objek belaka, layak diperjualbelikan, diperbudak dan lain-lain. Pokoknya, ras manusia menempatkan ras manusia ikan sebagai ras rendahan.

Tiger Fishman berjuang menentang itu. Ia bergerak membebaskan ras manusia ikan dari perbudakan umat manusia. Ia menyerang markas-markas tempat perbudakan manusia ikan dan budak-budak lain. Bahkan ia tak membeda-bedakan di dalam memberikan pertolongan: seluruh budak yang dibebaskan terdiri dari berbagai macam ras – manusia ikan dan manusia. Bagi Tiger Fishman, semua perbudakan di atas dunia adalah sebuah kejahatan. Seluruh budak yang dibebaskan direkrut oleh Tiger Fishman sebagai kru bajak laut Matahari.

Queen Otohime mengambil pendekatan yang berbeda dari Tiger. Sang ratu memilih cara yang lebih ‘soft’. Ia turun ke warga fishman, mengampanyekan hidup harmoni dengan umat manusia, memangkas perbedaan-perbedaan dan kesalahpahaman antar umat manusia dan manusia ikan. Ia menerima dengan sabar kekerasan yang kadang harus diterima oleh manusia ikan oleh manusia. Ia optimis bahwa manusia ikan dan manusia bisa hidup berdampingan dalam suasana damai. Kelak. Suatu hari.

Pada mulanya, itu terlihat ideal-naif. Fishman memandang apa yang dilakukan Tiger jauh lebih realistis daripada perjuangan sang ratu. Tapi sang ratu bukan orang yang mudah ditaklukkan: ia tetap gigih bersuara dan mengumpulkan tanda tangan warganya. Ia memiliki kesabaran yang baja: hari-hari dipenuhi penolakan, dipandang sebagai ide yang bulshit, ideal naif. Tapi toh akhirnya Otohime berhasil mengumpulkan tanda tangan itu, dan mendapatkan jaminan dari angkatan laut untuk terwujudnya harmoni dan manusia ikan terjamin perlindungannya.

Tapi cita-cita itu tak terwujud lama. Apalagi sebelumnya, Tiger Fishman terbunuh dalam satu penyergapan oleh angkatan laut. Sejak awal, lewat keberaniannya menyerang markas perbudakan, Tiger dipandang sebagai bajak laut yang berbahaya dan harus dibunuh.

Sedangkan Otohime terbunuh jauh di kemudian hari hanya selang beberapa hari pasca keberhasilannya mendapatkan tanda tangan warga fishman dan jaminan dari angkatan laut. Petaka itu semakin menajamkan dendam dan superioritas fishman lantaran kematian itu atas perbuatan ras manusia.

Kematian itu – dan segala trauma mendalamnya – dirasakan oleh Arlong dan Jinbei dan kelak diwariskan ke Hody. Tiger diberondong tembakan angkatan laut. Ia kehabisan darah dan tak tertolong. Otohime ditembus sebuah peluru dari salah satu sosok tak dikenal – dari ras manusia.

*
Kematian itu semakin membuat ras manusia ikan frustrasi, merasa manusia adalah setan, dan tak ada gunanya hidup harmoni dengan umat manusia. Satu-satunya pikiran mereka saat itu adalah manusia ikan harus menunjukkan superioritas rasnya dengan membalas penindasan kepada umat manusia. Setidaknya itulah yang jadi alasan Arlong menindas wilayah Nami. Sedangkan Jinbei – meski dalam hati dipenuhi perasaan permusuhan dengan umat manusia – memilih menjadi Shichibukai, bersekutu dengan pemerintahan dunia.

Di mata Arlong – dan kelak bagi Hody, jalan yang dipilih Jinbei adalah jalan pengecut. Sebab itu, meski Arlong dan Jinbei adalah sama-sama anak buah Tiger Fishman, dan saksi hidup dari penindasan manusia atas ikan, tapi Hody lebih mengidolakan Arlong. Seperti cita-cita Arlong, Hody juga meyakini bahwa manusia harus ditindas supaya merasakan superioritas ras manusia ikan dan tidak ada lagi keberanian menindas balik manusia ikan.

Tapi itu pikiran gejolak darah muda Hody yang kurang menyadari bahwa kekerasan dibalas kekerasan bukanlah suatu solusi yang tepat untuk mengakhiri permusuhan dan kebencian.

Rontal
Rontal Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment