Catatan (Tak) Serius atas Debat Copras-Capres Jilid Kesekian

Ilustrasi: Rohim


Orang boleh punya pendapat beda. Tapi saya punya pendapat begini: debat cawapres kedua ‘menarik’ ditonton.

Apa yang saya garisbawahi dalam debat cawapres jilid II tersebut adalah suasananya: para cawapres tampak lebih santuy dan sedikit melawak. Meskipun begitu, ada juga yang tegang saat memaparkan program-programnya.

Memperhatikan suasana debat itu, ingatan saya langsung tertuju pada lingkaran diskusi informal yang sering dilakukan di kampus. Ada ketegangan, keseriusan, serang-menyerang gagasan, bertahan, mengembalikan serangan, dan yang pasti tetap berteman. Amboy! Itulah keseruannya.

Pertama-tama, saya suka gaya penyampaian Prof. Mahfud MD. Mulai dari sesi penyampaian visi-misi hingga tanya jawab sesama cawapres. Ia sangat santai menanggapi pertanyaan, dan tanggapan dari cawapres lain, walaupun salah satu paslon, sebutlah Gibran, kebingungan mencari jawaban yang diharapkan. Situasi itu makin heboh saat Gibran membuat gesture gimmick yang bikin Prof. Mahfud sedikit emosi.

Lagi-lagi, ngomongin Pak Mahfud, malam itu ia menunjukkan sosok akademisinya. Ia menyertakan argumennya dengan data-data dari kepemimpinan sebelumnya, dan referensi berdasarkan kitab suci (Al-Qur’an). Saya katakan: ketegasan di debat kedua cawapres ini ada pada pak Mahfud. Bukan berarti yang lain tidak tegas, dan bukan berarti juga saya memilih paslon tersebut lho!

Kedua, Cak Imin. Dalam debat ini, nampak terlihat ada ketegangan dan kehati-hatian pada pada Cak Imin. Mungkin beliau takut mengalami hal yang sama seperti di debat pertamanya yang banyak menyemburkan istilah “slepet”, maka pada debat kedua Cak Imin tidak pernah mengeluarkan kata itu lagi. Bosan mungkin.

Tapi harus diakui, Cak Imin lebih maksimal ketimbang debat sebelumnya. Ia menyiapkan materi-materi yang akan disampaikan, kurang lebih hampir sama dengan Pak Mahfud.

Nah, yang ketiga, Gibran, ya kita melihatnya ia sedikit tengil. Cawapres ini memang menjadi viral di berbagai media sosial pasca debat. Lihat lagaknya kepada para paslon lainnya (tapi saya tak mau ikut-ikutan serius menyoal soal etika, tak menarik). Saya justru melihat itu sebagai bagian strategi untuk memancing emosi paslon. Jadi tidak apa, anggaplah itu bagian dari kebebasan berekspresi.

Perspektif masyarakat tentu beraneka ragam saat menyaksikan debat cawapres jilid dua ini. Pastinya juga ada yang pro, ada juga kontra kepada tiga paslon (Anies-Cak Imin, Prabowo-Gibran, dan Ganjar-Mahfud) atau mungkin bisa jadi ada yang pindah haluan kecuali yang sudah militan.

Tapi dalam kontestasi politik, tidak elok mengedepankan ego dan jotos-jotosan karena melihat atau mendengar calonnya dijelek-jelekkan. Sekarang sudah bukan zaman jahiliah lagi, siapa yang beda haluan langsung dieksekusi. Tidak begitu! Di era digital masa kini orang-orang akan disuguhkan informasi-informasi baru entah itu kabar positif atau mungkin sebaliknya.

Sudah saatnya, masyarakat di era modern ini menganut paham skeptis (skeptisisme), tidak langsung menelan mentah-mentah kabar yang diperoleh, entah itu dari orangnya langsung atau tidak. Konon Mbah Descartes mengingatkan kita agar segala sesuatu mesti diragukan, termasuk kali ini relevan untuk meragukan apa yang keluar dari bibir manis politisi-politisi kita.

Apakah hanya meragukan? Tentu tidak, karena kalau hanya stak di situ saja, maka akan sulit menentukan pilihan-pilihan selanjutnya dan kemungkinan besar berdampak negatif pada diri sendiri dan orang lain. Mempertanyakan kembali yang masih diragukan sampai pada titik temu. Seperti Socrates ketika mencari pengetahuan, selalu diawali dengan pertanyaan, meskipun terkadang sudah tahu jawabannya.

Maka penting bagi masyarakat membangun kritisisme untuk memastikan keabsahan suatu pernyataan, tidak cuma menganggukkan kepala saja.

Paling penting, siapapun nanti yang akan menjadi pemimpin negara Konoha ini, eh, Indonesia maksudnya, dapat melaksanakan program-programnya dengan baik. Tetap menjaga kelestarian dalam negeri dan tidak mengembalikan pada era penindasan seperti dulu.

Semoga yang disampaikan oleh para paslon itu untuk menjadikan Indonesia lebih baik, makmur, sejahtera, dan hal baik lainnya tidak hanya menjadi daya tarik masyarakat untuk memilihnya. Semoga terlaksana.

Rontal

Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form