Gibran Lelah, Mahfud Elegan, Cak Imin Cetar

Ilustrasi: Ainul Yakin


“Seni perang yang paling puncak”, demikian kata Tsun Zu [Wu/Zi], “adalah menaklukkan musuh tanpa bertempur”. Petuah mahaguru strategi perang dari Tiongkok yang tercatat dalam bamboo book 25 abad lalu itu seolah merepresentasikan kehendak kuat para Cawapres pada debat ke-4 kali ini. Mereka berhasrat ‘menaklukkan musuh tanpa bertempur’. Dengan strategi, taktik, dan manuver masing-masing, para Cawapres ingin segera menumbangkan lawan-lawannya lebih cepat tanpa harus bersusah payah dalam peperangan.

Menyadari akan hal itu, Gibran yang datang ke arena debat sebagai pemegang juara bertahan, setidaknya dari aspek sensasi, kembali mengajukan pertanyaan jebakan baik kepada Mahfud maupun Muhaimin. Ia berharap, dengan pertanyaan yang demikian lawan-lawannya segera takluk tanpa harus bertengkar lebih lanjut. Namun sebaliknya, jawaban Mahfud dan Cak Imin justru membuat Gibran langsung tumbang setidaknya secara moral, karena menggunakan argumentum ad hominem: “pertanyaan receh” dan “kalau mau tebak-tebakan bukan di sini tempatnya”.

*
Harus diakui, debat yang ke-4 ini adalah yang paling seru dibandingkan debat sebelumnya, terutama jika dibandingkan debat Cawapres edisi perdana. Yang paling mengejutkan adalah pertunjukan Cak Imin yang ‘cetar membahana’ dan nyaris tanpa celah dari awal sampai akhir. Ia tampil otentik menyampaikan visi-misinya dengan sangat lugas, tertata rapi, dan mudah dipahami. Tak jarang, ia menyelinginya dengan ‘celotehan’ spontan nan jenaka yang membuat lawan tandingnya langsung tersungkur, utamanya Gibran: “Tenang, Pak Gibran, semua ada etikanya”.

Hampir sama dengan Cak Imin, Mahfud tampil elegan pada debat kali ini. Seperti biasa, ia tenang dan tak terprovokasi. Kejutan Mahfud pada kesempatan ini, ia mulai berani mengkritik kebijakan-kebijakan Bosnya, Presiden Jokowi, terkait impor pangan dan lain sebagainya. Bahkan pernyataan penutupnya dengan menyanyikan sebuah lagu, menunjukkan bahwa ia tampil relatif tanpa beban. Namun demikian, catatan penting untuk Mahfud, ia seringkali lebih banyak bercerita track recordnya sehingga gagasan penting yang hendak disampaikan kadang lolos dan menjadi kurang tersampaikan.

Tak seperti debat Cawapres perdana, Gibran tampak lelah, bahkan kelihatan “sumpek” pada debat kedua ini. Sepertinya ia lelah bukan hanya secara fisik dan mental tetapi juga lelah secara gagasan. Alhasil, Gibran menjadi aneh, bertindak seolah-olah berada di gorong-gorong, “celingak-celinguk” ke bawah podium/meja saat mencari jawaban Mahfud. Tindakan tak biasa ini, memperlihatkan gestur tubuhnya hendak “mengolok-olok” tanpa memberikan penjelasan yang memadai tentang pokok persoalan yang diajukan. Tak hanya itu, kata ‘hilirisasi’ yang diulang-ulang, kadang tidak pada tempatnya, membuat Gibran tampak jenuh dari aspek kreativitas gagasan.

*
Kesetaran Cak Imin terlihat sekali sejak moderator memasang timer sebagai tanda mimbar debat telah dibuka. Dengan wajah fresh, penuh senyum serta kepercayaan diri tinggi, ia membuka paparan visi-misinya dengan mengutip kata-kata pendiri NU, Hadratussyaikh K.H. Hasim As’ary, “petani adalah penolong negeri”. Namun dalam kenyataannya, demikian Cak Imin, saat ini petani justru diabaikan dalam pembangunan. Petani banyak yang tak memiliki tanah tetapi pada saat sama, ada 1 orang yang memiliki 500 ribu hektar tanah.

Tak berhenti di situ, Cak Imin juga langsung menyerang kebijakan pemerintah, terutama pengelolaan tambang yang ugal-ugalan dan food estate yang pembangunannya dianggap bukan hanya mengabaikan petani dan masyarakat adat, tetapi juga merusak lingkungan. Karena itu, Cak Imin ingin menghentikan ini semua sembari menawarkan solusi perubahan dengan berpijak pada keadilan dalam pembangunan, menjaga kesimbangan alam dan lingkungan, yaitu dengan melibatkan semua komponen masyarakat, memperhatikan prinsip-prinsip etika lingkungan serta peningkatan dana desa. Sudah saatnya para pembuat kebijakan melakukan “tobat ekologis”.

Sedangkan Gibran tampak lelah sejak kesempatan pembuka. Itu terlihat tidak hanya dari wajahnya yang seperti menanggung beban berat tetapi juga dari ide-idenya. Ia kembali mengulang warisan Bapaknya sebagai program andalan pada kesempatan ini: ‘hilirisasi’. Menurutnya, hilirisasi harus diperluas jangkauannya tidak hanya tambang (batu bara, nikel, dan lain), tetapi juga harus merambah ke sektor pertanian, maritim, digital, termasuk transisi energi. Kendati demikian, ia tak menjelaskan lebih lanjut perihal konsep hilirisasi tersebut bagaimana proses dan pelaksanaannya. Dari situ, Gibran menjanjikan 19 juta lapangan kerja dan 5 juta di antaranya adalah green job. Padahal sampai saat ini, lowongan kerja yang dijanjikan Bapaknya juga tak pernah tercapai dan ini masih ia ingin lanjutkan.

Paparan visi misi Mahfud pada pembuka debat fokus menyeimbangkan antara Tuhan, alam, dan manusia. Kearifan lokal di banyak wilayah di Tanah Air, di Bali, Jawa, dan Sunda, menurutnya menganut ajaran yang dapat menyeimbangkan ketiganya. Namun sayangnya, dengan mengutip Al Qur'an, telah terjadi kerusakan di bumi dan di laut akibat ulah manusia, khususnya ulah pembangunan oleh pemerintah yang tak memperhatikan lingkungan.

Kejutan dari Mahfud pada kesempatan ini adalah keberaniannya mengkritik program pemerintah yang merupakan bagian darinya. Menurutnya, pemerintah tidak jelas dalam merumuskan kebijakan SDA; juga soal subsidi pupuk yang meningkat dan pada saat yang sama petani berkurang; program food estate juga menjadi sasaran kritiknya karena telah merusak lingkungan dan merugikan negara. Karena itu tawaran yang diajukan oleh Mahfud dalam pengelolaan SDA adalah pemanfaatan, pemerataan, partisipasi masyarakat, dan penghormatan terhadap kearifan loka. Dan hal tersebut, ia menambahkan, telah dilakukannya sejak menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi.

*
Dalam sesi tanya jawab, Gibran tampak semakin lelah. Di samping tidak mampu menjawab pertanyaan dua lawan-lawannya yang elegan dan cetar membahana, Gibran malah out of context dengan membahas contekan, botol, serta menyeret-nyeret nama orang lain ke dalam debat, Tomas Lembong.

Gibran semakin sumpek ketika pertanyaan jebakannya terhadap Cak Imin dan Mahfud sama sekali tidak berhasil dan justru menjadi bumerang. Mahfud menyebut Gibran mengajukan pertanyaan recehan yang tidak pantas dijawab; sedangkan Cak Imin lebih menohok lagi dengan menyebut ‘bukan levelnya panggung debat dijadikan tebak-tebakan singkatan’.

*
Dalam gelanggang debat ke-4, tersuguh 3 Cawapres dengan top of mind masing-masing. Cak Imin datang dengan paradigma perubahan dan keadilan. Pada debat kali ini, top of mind dari Cak Imin adalah etika lingkungan, partisipasi publik, reformasi agraria dan taubat ekologi dalam pembangunan berkelanjutan: “jangan tinggalkan satu orang pun dalam proses pembangunan”.

Sementara Gibran datang dengan top of mind warisan Bapaknya, Jokowi Widodo, yaitu hilirisasi tak hanya tambang, tetapi semua aspek lainnya. Sebagai pendekar hukum, Mahfud MD datang dengan top of mind ‘pedang hukum sedang lumpuh’, sementara pembangunan berjalan tidak berkelanjutan. Sudah saatnya mengembalikan hak rakyat untuk membangun kesejahteraan

*
Dalam waktu beberapa hari ke depan, rakyat Indonesia akan memilih ketiganya. Saat ini, pembangunan berkelanjutan, SDA, lingkungan hidup, energi, pangan, agraria, masyarakat adat dan desa sedang mengalami krisis akut sebagai ulah pembangunan yang ugal-ugalan dari rezim saat. Karena itu pemimpin yang dibutuhkan bukan semata-mata yang memiliki fokus pada hilirisasi, tetapi harus memahami konsep dan paradigma tentang pembangunan berkelanjutan dan etika lingkungan.

Sudah saatnya rakyat Indonesia “waras” dan berkearifan untuk memilih pemimpin yang tepat di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks dan sulit dihindari. Wallahu a’lam bisshawab! [*]

Rontal

Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form