Hari Guru

Foto dari penulis dan diolah tipis-tipis oleh Ainul


Setiap 25 November, orang memperingatinya sebagai hari guru. Ungkapan "selamat hari guru" bermunculan dalam berbagai macam hiasan kalimat yang berbingkai. Apalagi saat ini, jagat hidup kita diramaikan oleh media sosial. Maka praktis, ucapan hari guru pun menghiasi jagat maya tiap 25 November.

Ungkapan “selamat hari guru” adalah sebentuk seremoni penghormatan atas peran para guru. Tentu saja, kita tak boleh sekedar berhenti pada sekedar seremoni tahunannya. Melainkan, semangat dari momentum itu dijiwai oleh kita sepanjang waktu demi terus menempatkan peran guru sebagai sosok penting.

Momentum hari guru ini menjadi suatu ‘alarm’ (pengingat) bahwa guru adalah sosok penting di dalam dunia pendidikan. Ia adalah epicentrum dalam gerak perubahan untuk mendorong dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa kita. Dalam perannya sebagai aktor penting memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak-anak bangsa, guru dengan sendirinya dapat diletakkan sebagai aktor-aktor penting yang menjalankan amanah dan cita-cita para pendiri bangsa ini, yang dituangkan di dalam Undang-undang Dasar 1945 alinea ke-4. Demikianlah mengapa kita penting menghormati guru, lantaran hingga detik ini, merekalah yang terus menunjukkan konsistensi dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, untuk mendidik dan menyamaratakan pendidikan ke seluruh penjuru Indonesia agar tercapai kehidupan berbangsa yang cerdas.

Tak berhenti di situ, guru bukan sekedar membentuk insan yang cerdas, melainkan mereka juga mengemban amanah mendorong terbentuknya moral, akhlak, atau budi pekerti anak bangsa. Ini tugas yang lebih berat lagi. Sebab dalam pembentukan moral atau budi pekerti, mereka – para guru – dengan sendirinya dituntut untuk juga dapat bersikap atau bertindak dalam batas-batas yang dapat dibenarkan secara standar moral yang berlaku. Mereka adalah ‘cermin’ bagi murid-muridnya. Sebab itu, kata 'Guru' dimaknai sebagai susunan dua kata: ‘digugu’ dan ‘ditiru’. Jika tidak siap menunjukkan keteladanan bagi murid-muridnya, maka totalitas sebagai guru gagal di situ. Ada ungkapan: ‘jika guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari’.

Dalam tradisi agama manapun, guru dianggap sang pencerah untuk membimbing sang murid dalam pengembaraan intelektual dan spiritual. Karenanya, hubungan guru dan murid seringkali dianggap sebagai hubungan sakral. Sakralitas hubungan inilah yg melahirkan sebuah ungkapan "tidak ada mantan guru dan murid, seperti halnya tidak ada mantan orang tua dan anak".

Pendidikan memberikan makna yang begitu luas. Menurut Ki Hajar Dewantara, arti pendidikan adalah suatu upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yg selaras dg alam dan masyarakat.

Oleh karenanya pendidikan yang di dalamnya ialah terdapat peran seorang guru sebagai mesin penggeraknya memberikan satu pandang yang utuh bagi seorang guru dalam fungsi maupun perannya yang begitu universal. Pendekatannya begitu holistik dalam mengombinasikan ilmu dan akhlak. Secercah Ilmu pengetahuan darinya dapat memberikan nalar kecerdasan, serta budi pekertinya dapat menjadikan contoh untuk membentuk perilaku kecendekiawanan, layaknya perpaduan logika filsafat dengan akhlak tasawuf. Semua itu tentunya terasa begitu indah nan sejuk.

Wahai Guru, percayalah jasamu takkan pernah habis termakan oleh zaman ataupun waktu, walaupun kini seiring berjalannya waktu maraknya teknologi telah merenggut banyak aspek lain di dunia yang serba modern ini namun namamu takkan pernah terganti, tetap utama di hati. Pesanmu bagaikan perisai mutiara dalam hati yang dapat membentuk ukiran pada benak sanubari.

Engkau, guru, bak pelita dalam gulita. Karena, dalam selimut kegelapan engkau selalu menjadi pelita yang semuanya itu terasa begitu indah menerangi sudut lorong kehidupan. Engkau adalah mata air peradaban dalam kesederhanaan cinta dan kasih sayangmu yang begitu tulus yang dapat memberikan hakikat kebaikan dalam berbagai jalan di sendi-sendi kehidupan.

Maka dari itu, engkau, guru, intan permata yang tiada tara dan semua itu dapat menemukan makna yang sesungguhnya bahwa engkau pahlawan tanpa tanda jasa. Dan kini, engkau telah buktikan semuanya itu pada dunia.

Rontal

Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form