Tragedi Ohara


Gambar diambil dari https://redeardente.com/ dan diolah tipis-tipis oleh Rohim

Oleh: Abdullah

Anak itu bernama Nico Robin. Masa kecilnya tersisihkan. Dari teman-teman. Ada satu keahlian yang membuatnya disebut anak tukang sihir. Tapi tak hanya itu, ia juga jenius. Bisa membaca aksara dari masa lalu. Poneglyp!

Namun entah berkah atau kutukan. Robin jadi buron angkatan laut. Sejak kecil. Lantaran pengetahuan itu. Tapi Robin tak berhenti penasaran. Ia akhirnya memilih berpetualang. Ia hidup dalam dunia 'piracy', perompakan. Ia jadi salah satu kru bajak laut si topi jerami, Luffy D. Monkey.

Mengingat Robin, mengingat suatu masa yang kelam. Ohara.

Ada satu masa, pengetahuan menakutkan bagi kekuasaan. Seluruh upaya dilakukan untuk meminggirkannya. Seluruh akses ditutup rapat-rapat, diharamkan untuk diteliti dan dipelajari, dikaburkan dan dibunuh selamanya. Seolah itu tak pernah ada.

Sehingga segalanya jadi misteri. Atau publik tak kan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itulah yang terjadi pada satu masa di sebuah daerah bernama Ohara, kampung Robin.

Kisah itu teringat jelas - dan meninggalkan gambaran yang sangat menyedihkan, begitu dalam bagi seorang anak perempuan yang masih berusia delapan tahun saat itu. Ia tak pernah menyangka bahwa pengetahuan dipandang sebagai kejahatan. Ia hanya ingin belajar, didorong rasa penasaran, tanpa pernah menyadari bahwa ia akan 'dikriminalisasi'.

Sekelompok ilmuwan di daerah itu, tepatnya orang-orang yang mendedikasikan diri untuk menelaah 'blank century' atau 'void century' (peradaban yang dikaburkan), peradaban di masa lalu yang belum terungkap (masih gelap), dipandang sebagai kriminal oleh pemerintah.

Mungkin mereka sudah diintai sudah sejak lama. Dimata-matai seluruh gerakannya. Sehingga pada hari penggerebekan itu, segalanya berlangsung singkat: angkatan darat datang, evakuasi sebagian penduduk Ohara, dan sisanya - para ilmuwan dan yang berafiliasi dengan mereka - dimusnahkan.

Saya jadi teringat Weber: "negara merupakan satu-satunya organisasi yang memonopoli penggunaan kekuatan fisik yang sah". Hari itu, pengetahuan dan segenap ilmuwannya dimusnahkan. Oleh pemerintahan dunia.

Apa yang terjadi itu tentu sudah merupakan suatu rencana yang matang, yang dimulai dari permainan wacana yang disebarkan oleh para aparatus ideologi negara. Mereka menyebut bahwa masa lalu, 'blank century' mengandung suatu hal yang berbahaya, dan itu sebabnya haram ditelaah atau dipelajari.

'Berbahaya' bagi pemerintah, boleh jadi punya makna yang sangat politis: bisa jadi ada sesuatu yang tak boleh diketahui publik (apa itu?). Tapi wacana yang disebarkan pemerintah, menyebut bahwa ada senjata pembunuh massal yang bisa terungkap dari mempelajari 'blank century', senjata destruktif yang dampaknya pada keamanan masyarakat dunia.

Meluasnya wacana itu, nampak telah diterima begitu saja oleh kalangan awam, publik. Sehingga pemerintahan dunia merasa cukup memiliki alasan yang kuat untuk pemusnahan Ohara dan segenap ilmuwan yang bersarang di sana.

Lewat aparatus represifnya, angkatan laut, saat itu juga, Ohara dan seluruh penghuninya musnah.

Yang tersisa adalah kehancuran. Sisa kenangan. Dan Robin.

*
Tapi selalu ada yang luput dari pembasmian. Nico Robin, lewat salah satu petinggi Angkatan Laut, Aokiji, dapat terselamatkan. Tapi sejak saat itu, praktis seluruh hidupnya berada di bawah bayang-bayang penangkapan. Ia tercatat sebagai bajak laut paling dicari.

Bagi pemerintahan dunia - dan pihak-pihak yang berkepentingan di belakangnya, terselamatkannya Nico Robin hanya berarti suatu hal: ancaman. Sebab itu, narasi senjata pemusnah massal di balik poneglip yang amat rahasia itu terus digaungkan oleh pemerintah.

Robin - dan kelak banyak lagi - tak percaya narasi itu. Pemusnahan Ohara dan segenap para ilmuwannya pasti menyimpan sesuatu yang misterius.

Rontal

Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form