Paradigma Hijrah: Sebuah Alternatif

Ilustrasi: Ainul Yakin

(Resensi atas Buku ‘Hijrah Jangan Jauh-Jauh Nanti Nyasar!’ Karya Kalis Mardiasih)

Sebenernya sudah lama saya penasaran dengan bukunya Mbak Kalis ini, biasanya saya hanya melihat di beranda instagram akun jualan buku yang menampilkan buku-buku karyanya. Kadang-kadang saya juga baca artikel mojok tulisannya atau kadang ada di beranda youtube Mojok namaya Putcast, pernah juga dengerin podcastnya bareng Mas Puthut Ea.

Kebetulan saya dateng iseng ke sebuah pameran buku di Jakarta. Awalnya cuma pengen liat-liat aja. Kalo ada yang cocok ya tinggal dibeli. Nah kebetulan temen pegang buku itu, ya dengan spontan saya tanya. Ini bukunya ada lagi gak? Atau mau beli buku yang ini gak? Nah kebetulan dia tidak tertarik jadi saya ambil saja dan membelinya.

Setelah saya baca, buku ini menarik. Karena Mbak Kalis seolah ingin menyampaikan bahwa beragama tidak usah muluk-muluk, yang sederhana saja yang penting buat kita tenang, dan selalu hidup rukun. Jadi Mbak Kalis seolah ingin mengatakan lewat pengalaman pribadinya dalam masyarakat bahwa seharusnya kita tidak perlu jauh-jauh untuk bisa dikatakan seorang muslim yang baik. Lakukan saja kebaikan-kebaikan sederhana.

Gak usah muluk-muluk dalam beragama. Seperti contohnya: Kita harus belajar agama pada sosok anak-anak yang tidak pernah peduli dengan agama temannya, mau Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan agama apapun itu. Toh kalau waktunya main ya main saja, dan mereka bermain dengan gembira. Jadi belajar dari kepolosan anak-anak mereka tidak pernah membedakan manusia dari latar belakang apapun. Tidak seperti kebanyakan orang dewasa yang penuh dengan kecurigaan.

Sungguh pelajaran yang luar biasa yang kita dapatkan dalam hubungan sosial keseharian kita.

Selain itu Mbak Kalis juga menceritakan bagaimana narasi-narasi agama begitu menakutkan, dan orang mudah sensitif dengan hal yang berbau agama. Misalnya saja kasus penistaan agama.

Jadi, candaan yang berbau agama seolah haram diucapkan. Ia juga menceritakan bagaimana anak kecil yang selalu mengejek jenggot gurunya dengan candaan yang ia lontarkan, namun ia tetap datang pergi ngaji. Dan tidak sama sekali membuat ia tidak menghormati gurunya, ia tetap datang ke majelis dengan penuh rasa gembira bersama teman-temannya.

Banyak cara lain yang sebenarnya dekat dengan kita untuk menumbuhkan semangat keberagamaan kita. Misalnya saja ketika Mbak Kalis yang baru menjadi mahasiswa menceramahi bapaknya yang cuma sehari-hari ngajarin anak-anak ngaji A-BA-TA di kampung, seolah merasa dirinya lebih Islami, ia menyadari bahwa yang dilakukannya itu salah dan kemudian ia meminta maaf kepada bapaknya.

Mbak Kalis menemukan kesederhanaan beragama melalui sosok orang tuanya sendiri.

Membaca cerita Mbak Kalis yang ini, saya jadi teringat dengan kakek saya di rumah. Beliau guru ngaji di kampung. Sejak anak-anak, saya dan teman-teman jika sehabis magrib kita mengaji di rumah kakek. Selain itu kakek juga sering diminta untuk "Maca Syekh" semacam doa gitu biasanya untuk acara tasyakuran, hajatan pernikahan, sunatan, dan kepentingan lainnya.

Lewat kegiatan sederhana itu, aku melihat bahwa kakek yang seorang petani di sawah namun dibutuhkan banyak orang kampung. Sungguh sangat luar biasa kehadirannya. Kadang ada saja rezeki yang tidak terduga yang di dapatkannya. Misalnya saja ketika bulan puasa, banyak beras berkarung-karung ada di rumah kakek. Kalau lebaran selalu saja ada yang memberi entah itu sarung, baju koko dll.

Zaman sekarang teknologi semakin canggih. Akses media sosial bisa kita dapatkan kapan saja. Pengaruh media sosial hari ini yang kadang membuat narasi keagamaan seolah menyeramkan. Ajakan-ajakan untuk berjihad dengan berperang mengangkat senjata sudah bertebaran di mana. Akun-akun jihadis seperti ISIS menampakan citra Islam yang begitu mengerikan. Seolah agama membolehkan adanya bunuh membunuh. Kita saksikan kejadian-kejadian teror bom di mana-mana yang disiarkan di media televisi dan dimuat di media cetak.

Selain itu label halal digunakan seolah mencerminkan wajah Islam. Dengan berbagai produk-produk pakaian, produk makanan, kecantikan, properti dll. Hal ini tentu menjadikan citra Islam yang ekslusif. Islam yang harusnya bisa membaur dengan kelompok manapun seolah terbatasi dengan adanya label tersebut. Narasi keagamaan yang ada di media sosial begitu berpengaruh terhadap masyarakat. Orang belajar agama cukup melalui chanel Youtube ustadz-ustadz tren yang kadang hanya membicarakan tentang menghukumi sesuatu dengan halal haram saja.

Narasi-narasi kebencian bertebaran di media sosial lewat postingan instagram, facebook, twiter, atau pesan brodcast grup-grup watsapp. Hal ini yang menyebabkan orang-orang percaya berita "Hoax". Tak jarang juga bisa menyebabkan adanya persekusi yang dilakukan jika ada narasi yang tidak sesuai dengan kelompoknya. Orang mudah terprovokasi dan mudah emosi.

Orang-orang terlalu mudah mengucapkan takbir di muka umum atas dasar membela agama Tuhan. Namun di sela-sela kalimat itu narasi kebencian dilontarkan pada kelompok yang berbeda dengan kelompoknya. Bendera dengan kalimat "Laa Ilaaha Illallah" dikibarkan dengan begitu semangat. Seolah kita berada pada zaman nabi saat berperang. Seruan untuk melawan pemerintahan yang "Thogut" juga sempat menjadi tren atas nama perjuangan Khilafah di Indonesia, yang sebenarnya di tempat asalnya pun tak berjalan dengan mulus sistem tersebut. Di Indonesia dengan penuh semangat menyuarakan hal itu. Bahkan pemerintah memfasilitasi organisasi tersebut dengan memberikan izin. Namun akhirnya organisasi tersebut dibubarkan oleh pemerintah sendiri.

Maraknya seruan boikot atas produk-produk Yahudi dan Amerika, juga sempat menjadi berita yang luar biasa. Seolah orang-orang Indonesia mudah terprovokasi oleh postingan-postingan tersebut. Namun mirisnya, ada kelompok tertentu yang begitu keras menyuarakan hal itu, ketika ia mendapat sponsor untuk kegiatannya. Sungguh sangat lucu, jika kita mengetahui hal itu. Sempat juga beredar kasus tentang ceramah salah satu ulama Indonesia di Israel. Orang-orang Indonesia yang begitu membela pembebasan Palestina merasa dikhianati karena beredar video ceramah ulama tersebut yang sebenarnya hanya potongan-potongan saja. Begitu mudahnya orang-orang terpengaruh dari hal semacam itu.

Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman yang ditulis pada buku ini. Namun saya tidak perlu menjelaskan terlalu detail tentang isi buku ini. Apa yang saya tulis tidak menggambarkan semua isi dalam buku ini ataupun pendapat Mbak Kalis secara pribadi yang ia sampaikan. Mbak Kalis sebagai penulis menyampaikan pendapatnya juga tak semua kalangan dapat menerima. Tak jarang juga ia mengalami penolakan atas pendapat yang ia suarakan di media. Ia juga menjelaskan bagaimana ia mengalami pengalaman "bullying" di media sosial yang sungguh membuat sesak dadanya akibat tulisan yang dimuatnya.

Terkadang orang mudah mengatakan hal yang buruk tanpa berpikir akan melukai seseorang. Seharusnya kita bisa lebih belajar santun beragama melalui tokoh-tokoh luar biasa seperti Gus Dur yang begitu gigih memperjuangkan HAM melalui kebijakannya ketika menjadi pemimpin negara. Melihat Ahmad Wahib yang tulisannya mungkin masih relevan dengan keadaan modern saat ini.

Beragama seharusnya dilakukan secara sadar dengan akal yang jernih. Tidak ikut-ikutan alias taqlid buta sampai membabi buta. Lakukan apa yang bisa lakukan, tak perlu sibuk menjustifikasi orang lain. Hidup rukun dan senantiasa selalu berbuat baik pada siapapun tanpa pandang bulu. Tak usah meminta hukum atas sesuatu yang sebenarnya tak perlu dalil agama untuk menjawabnya.
Jangan mudah menjual dalil yang mudah mengharamkan orang lain. Seperti saat tahun baru, haram meniup terompet, bermain petasan dengan dalil mengikuti suatu kaum maka ia termasuk di dalamya. Coba lah berpikir, bagaimana tukang terompet sangat bergembira menunggu momen tersebut karena dapet berjualan untuk menafkahi keluarganya.

Perayaan hari Ibu, yang katanya kita wajib berbakti kepada Ibu kita setiap hari tanpa perlu adanya perayaan. Justru perayaan tersebut menjadi pengingat pada kita bahwa pentingnya menghormati orangtua kita yang kadang kita disibukan dengan kegiatan duniawi kita.

Perayaan hari lebaran yang seperti kita ketahui anak-anak datang untuk meminta uang THR pada keluarga dekatnya seperti Pak Lek, Bu Lek nya dengan berkata bahwa hal tersebut mengajarkan anak-anak untuk meminta-minta. Justru adanya momen hari raya tersebut keakraban akan timbul dengan cara sederhana tersebut.

Mungkin cukup itu saja yang ingin saya sampaikan, rasanya tulisan ini terlalu panjang untuk dibaca. Semoga bermanfaat. Selamat membaca.

Rontal

Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form