Cerita Seher: Absurditas Honor Killing dan Nirkuasa Perempuan

Table of Contents

Cerita Seher
Ilustrasi: Ainul Yaqin

Cerita Seher merupakan salah satu judul di dalam kumpulan cerpen Subuh, yang ditulis oleh Selahattin Demirtas, sastrawan asal Turki. 

Jam 18.57 WIB. Kurang lebih beberapa detik setelah aku berhenti membaca Subuh, kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Selahattin Demirtas. Apa soal? Aku baru saja kelar membaca cerpen yang kedua di buku ini. Judulnya Seher. Tentang seorang perempuan di sebuah keluarga sederhana. Dibuka dengan latar suasana lebaran, berbahagialah mereka.

Semuanya berjalan baik-baik, dan aku mulai terganggu saat akhirnya di akhir cerita, Seher dieksekusi oleh keluarganya sendiri. What? Salahnya apa?

Keputusan itu diambil oleh ayahnya, Gani. Ditentang oleh ibunya, Sultan. Disetujui oleh anak laki-laki tertua di rumah itu, Hadi. Seher dieksekusi di tengah hutan dengan terpaksa oleh adik lelakinya, Engin.

Perkaranya: Seher dianggap telah membawa aib bagi keluarga. Aib itu dari mana datangnya? Apakah kesengajaan dari perilaku Seher? Tidak! Melainkan bermula dari sini: Seher mencintai Hayri. Lelaki tampan, teman sekerjanya. Tapi Hayri memanfaatkan ketulusan cinta Seher.

Pada suatu hari yang menjadi musibah bagi Seher, Hayri mengajaknya (lebih tepatnya memaksanya) ke sebuah hutan dengan menumpang mobil yang di dalamnya sudah ada kawan-kawan Hayri. Di hutan itu, Seher diperkosa oleh Hayri.

Pada titik ini, siapa salah? Sudah pasti, tak dapat dibantah, itu kejahatan Hayri. Mengapa cerita ini berakhir dengan dibunuhnya Seher? Itulah yang akhirnya membuatku marah, dan Selahattin Demirtas membiarkanku tak menemukan jawaban. Ia mengakhiri cerita itu dengan kematian Seher. Cerita berhenti di sana. Njirr!

Cerita Seher, Ada Honor Killing?

Kemarahan ini tak menemukan jawaban dan akhirnya ku putuskan mencarinya di luar buku itu. Ketemulah artikel berjudul Subuh: Bukan Sekedar Fiksi. Ditulis oleh Rulli Rachman. Dalam tulisan itu, terungkap alasan mengapa Seher (yang dalam bahasa Indonesia berarti Subuh) akhirnya dibunuh oleh keluarganya sendiri.

Itulah yang disebut honor killing. Dari laman Britannica, terdapat beberapa kata kunci. Pertama, honor killing itu pembunuhan seringkali terjadi pada perempuan, dilakukan oleh pihak para lelaki dalam keluarga. Kedua, ini berpijak pada dalih bahwa pembunuhan itu dilakukan atas nama harga diri keluarga. Perempuan yang hendak dibunuh itu dianggap membawa aib pada keluarga, itu sebabnya harus dibunuh. Ketiga, akar soalnya lebih jauh berasal dari budaya patriarki, di mana virginity atau sexual purity perempuan dianggap tanggung jawab keluarga, yakni bapaknya, saudara lelakinya, dan suaminya. Sehingga bila terjadi sesuatu, tindakan sexually immoral di luar nikah, maka itu dianggap sebagai aib. Perempuan itu harus dibunuh. Honor killing!

Dalam kisah Seher ini, tentu saja sangat janggal, absurd. Seher mendapat musibah diperkosa. Tapi di sini, ia dipandang sebagai aib bagi keluarga, mencoreng nama baik keluarga. Jika ia tetap dibiarkan hidup, maka nama baik keluarga akan tercoreng terus. Maka tak ada jalan lain: ia harus dihabisi.

Dalam cerita ini, sang bapak, Gani, dan anak tertuanya, Hadi - kakak dari Seher - yang bertindak sebagai pihak yang mengambil inisiatif dan mendukung tindakan ini. Mereka melambangkan kuasa keluarga yang tanpa bisa dibantah. 

Kuasa itu bukan tanpa protes. Sultan - istri Gani, ibu dari Seher - menentang keputusan itu. Dalam protesnya, ia mengatakan: Seher tidak berdosa. Anak itu mendapatkan musibah. Diperkosa. Tapi di sini, rupanya kuasa absurd yang berasal dari perasaan akan aib keluarga yang secara salah dipertahankan, tak dapat dilawan. Kuasa absurd itu telah mematikan (meski tak sepenuhnya, sebab sang ayah pada detik-detik sebelum akhirnya Seher ditembak, masih meneteskan air mata) suara hati dan rasa kemanusiaan sang ayah, sang kepala keluarga. Aib keluarga, demikianlah yang tertanam dalam dirinya, membuatnya harus mengambil sikap tegas: Seher harus dibunuh. Dor!

Cerita Seher, Nasib Perempuan 

Ada dua hal yang akhirnya memberi bentuk dalam pikiranku membaca Seher ini - dan sekaligus membaca artikel-artikel lain terkait eksekusi pembunuhan atas Seher. Pertama, nasib perempuan. Di sini, Selahattin jelas sekali membuat situasi eksekusi atas Seher tak dapat dicegah. Perempuan tak punya kuasa. Perempuan di cerita ini powerless, nirkuasa, baik dalam konteks internal keluarga maupun lingkungan budaya.

Di internal keluarga, keputusan absurd dan sangat kejam dari sang ayah, kuasa lelaki dalam rumah tangga, tak dapat dilawan. Sultan hanya bisa menjerit dan menangis, protes dan penolakan yang tak punya arti. Tak punya daya. Selahattin di sini memang hanya menulis cerita.

Selain itu, di sini kuasa 'perasaan aib' yang mungkin kokoh menjadi budaya di masyarakat seakan tak kuasa dilawan atau ditentang. Para lelaki di keluarga Seher seakan tertekan, tak kuasa melawan stigma atau aib itu. Bisa dilihat di kisah ini, saat para tetangganya mewartakan soal musibah yang menimpa Seher kepada para lelaki di keluarga ini, mereka justru bukan berpihak pada korban perkosaan, tapi justru terbelenggu oleh pikiran tentang aib keluarga. Tindakan pertama yang mereka ambil bukan berpihak pada Seher, tetapi menyeret Seher untuk berkorban demi nama baik keluarga, honor killing.

Sehingga bila kita urai kelindan kuasa yang menyebabkan kematian Seher ini, hirarki tertingginya ada pada kuasa budaya tentang aib keluarga. Aib keluarga membelenggu dan menentukan sikap dan tindakan yang perlu diambil oleh sang kepala keluarga, Gani, atas Seher, yang dianggap sebagai pembawa petaka.

Hirarki terendah dalam situasi yang digencet oleh budaya aib keluarga (dalam situasi kisah) ini adalah perempuan. Di sini, Seher tidak diberi ruang untuk berbicara, untuk membela diri tentang situasinya. Bahkan Seher sendiri, yang mungkin sudah mengerti budaya ini, seakan akhirnya pasrah: ia siap berkorban. Kultur honor killing dalam kisah ini menutup mata (atau tidak peka) pada situasi. Di mana Hayri? Bagaimana kultur ini melihat dosa Hayri? 

Bukan Sekedar Fiksi

Kedua, kisah Seher mengungkap sisi kelam beberapa praktik budaya Turki, bagaimana kultur memperlakukan perempuan, melemahkannya. Seher bukan sekedar fiksi. Lewat tulisan Rulli Rachman (yang saya kutip di atas), rupanya kasus seperti ini banyak terjadi di Turki, mungkin juga terjadi di belahan dunia (negara) lain. Rulli mengutip artikel yang ditulis Elif Shafak dalam the Guardian, menyebutkan bahwa kasus yang mirip Seher terjadi dalam kenyataan. Hatice Firat, gadis berumur 19 tahun, didapati tubuhnya penuh 40 tusukan. Keluarganya tak ada yang datang saat kasus ini heboh. Seperti Seher, seakan gadis malang membawa aib bagi keluarga.

Bahkan tidak berhenti di situ, tulisan yang dikutip oleh Rulli juga menyebutkan data kematian perempuan dengan pola yang mirip dengan Hatice Firat. Jumlahnya 1.091 korban dalam kurun waktu 2000 hingga 2005. Dunia masih belum baik-baik saja untuk perempuan. Ini tentu saja menjadi sisi kelam bagi Turki dan dunia.

Di belahan dunia lain, di Indonesia misalnya, meski pun tak sesadis 'honour killing' ala keluarga Seher, kita masih banyak mendapati situasi di mana perempuan sebagai korban diperlakukan dengan cara yang abai pada prinsip 'berpihak' pada korban. Masih sering korban-korban perempuan diperkosa disepelekan dalam upaya penyelesaian akhirnya. Misalnya, diselesaikan secara damai, di mana korban (perempuan) dan pelaku disatukan dalam tali pernikahan. Ada pula yang disalahkan sisi perempuan, dianggap 'gampangan', dan banyak lagi polanya.

Situasi ini menunjukkan ada suatu hal yang bermasalah dalam budaya kita, dalam hal melihat dan memposisikan perempuan. Syukurnya, kita semakin melihat upaya 'speak up', tindakan pembelaan yang semakin banyak dalam hal membela pihak korban, terutama perempuan. Media sosial, media pemberitaan, aktivis perempuan, dan kita semua semakin aware dengan hal-hal seperti ini. Tentu saja ini masih menimbulkan kekhawatiran: bagaimana situasi korban perempuan di pelosok-pelosok desa, pedalaman, yang luput dari pandangan kita?

Rontal
Rontal Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment