Fat Cat dan Darurat Kepercayaan

Table of Contents


Kembang lidah buaya ringkai di dahannya, sudah serenta itu ia tak lapuk apalagi merunduk, kelopak yang layu juga masih bergelayutan di sana, seakan sendi-sendi kehidupan dalam tangkai ini sepakat untuk mengakhiri hidup bersama. Ada sembilan pot tanaman lidah buaya di lantai tiga, warna oranye kekuningan kembang lidah buaya yang ranum mengundang nafsu makan burung madu sriganti; ia menukik, hinggap berayun-ayun dari dahan, cakarnya meremas dahan untuk keseimbangan, lalu mencucuk kembang lidah buaya―ternyata itu bukan sesuatu yang bisa dimakan olehnya. Merasa tertipu, burung itu segera enyah, ia kepakkan sayap mungilnya dengan garang sekali sampai kelopak-kelopak itu gugur berjatuhan.

Orang selalu mengira, mereka yang menjadi korban penipuan sepenuhnya bodoh dan tidak bisa menjaga diri sendiri. Para korban ini dianggap terlalu baik, lugu, dan rentan, seakan-akan kepalsuan itu nyata terlihat di depan mata, dan para korban, dengan suka rela menyerahkan diri untuk dibodohi. Gila, berangkat dari asumsi ini, saya terpingkal-pingkal sendiri, bagaimana bisa orang secara sadar menyerahkan diri untuk dibodohi?

Orang selalu berkata, “Kau jangan jadi orang yang terlalu baik, nanti dibodohi,” atau dengan ungkapan semacam ini, “Kamu terlalu baik, itu lah mengapa kamu dimanfaatkan.” Bila menjadi baik itu salah, harus bagaimana kita menjadi manusia untuk bersikap?

Berkali-kali burung madu sriganti tertipu dengan warna ranum kelopak kembang lidah buaya. Kadang bukan hanya mereka saja, di kesempatan paling langka, saya pernah melihat seekor burung cabai jawa juga tertipu karenanya. Melihat pemandangan ini setiap pagi antara pukul 10, saya tidak tahan lagi. Saya membeli biji-bijian di pasar untuk burung-burung yang tertipu itu. Saya menuangkan biji-bijian dalam wadah tanggung lalu meletakkannya tepat di samping tanaman lidah buaya, di posisi yang pasti terlihat oleh para burung.

Setelah itu saya sembunyi. Saya sering memperhatikan burung-burung ini dengan cara meringkuk di bawah jendela, lalu mengamati di balik celah tirai. Selama berhari-hari di antara waktu yang sama, para burung ini masih saja tertipu dengan kembang lidah buaya, dan yang membuat saya kaget adalah... mereka melihat wadah tanggung berisi biji-bijian yang sudah saya siapkan untuk mengisi perut mereka, tapi mereka hanya mendekat, menoleh dengan kikuk ke sana dan ke mari, lalu melesat pergi.

“Kenapa kalian memilih tertipu lagi dan lagi? Malah, kalian menghindari makanan yang sudah kusediakan buat kalian, itu bukan racun!” Saya menggerutu.

Gusar, akhirnya saya menumpahkan biji-bijian itu di lantai. Lantai tiga berupa balkon yang lumayan lenggang, dari balkon itu gagah Gunung Arjuna, dan nyenyak Gunung Putri Tidur terlihat digdaya, lekuknya masih jelas tertangkap mata meski mereka berada di kejauhan sana. Di balkon ini, masih di antara pot-pot tanaman lidah buaya, saya menaburkan biji-bijian, dengan dalih bahwa mungkin burung-burung ini menyangka ada wadah aneh tiba-tiba tergeletak begitu saja di balkon yang biasa mereka kenal selama berpuluh-puluh tahun. Mungkin mereka mengira ini semacam jebakan.

Lalu saya kembali menunggu. Tapi tetap saja, burung-burung hanya berjingkat-jingkat di lantai lalu terbang, tidak ada yang mencucuknya sama sekali. Saking gilanya, saya menghitung setiap biji yang tercecer itu, jumlahnya 329. Di pagi hari saya mengecek, biji-biji itu masih ada, dengan jumlah yang sama. Ini bisa bikin saya frustrasi, apalagi burung-burung masih tertipu dengan kembang lidah buaya. Lebih frustasi lagi, pemilik indekos tertegun dengan biji-bijian yang tercecer di balkonnya. Sampai akhirnya saya menyapu bersih biji-bijian itu dengan mengheningkan cipta, sebagaimana ilmuan yang mengemasi alat-alat praktekknya lalu didepak dari lab kesayangannya.

Kejadian ini membuat saya tertegun lama. Saya menekuri kejadian ini sampai tidak fokus siapa nama karakter utama dalam The Age of Innocence karya Edith Wharton yang saat itu saya baca. Saya membuat sup di dapur dan menunggu hingga setengah jam lamanya, heran bagaimana bisa sup tidak mendidih, ternyata saya lupa kompor belum saya nyalakan.

Saya telah memberikan makanan pada burung-burung itu dan bagaimana bisa mereka tertipu? Ini mengingatkan saya pada teman-teman saya, mereka bilang, “Kamu orang pintar bukan? Kamu lulusan baik, kamu dapat beasiswa, kamu pernah ditipu, kamu kok masih mau balik, padahal kamu bisa hidup jauh lebih baik dengan orang lain. Tapi dari awal memang kamu yang salah, sudah tahu ditipu malah tetap saja baik-baikin orang itu.”

Saat bertemu dengan teman-teman saya pun, mereka selalu menanyakan hal yang sama, “Kamu masih sama bajingan itu? Gimana kabarnya? Udah dikebiri belum? Kamu ini benar-benar aneh Putri, kamu tipe orang yang kalau bisa mikir pakek dengkul ngapain mikir pakek otak?”

Bajingan itu, B bukan inisial namanya, tapi mari disebut B saja; pernah meminjam uang beberapa juta dari saya. Alasannya adalah ia butuh uang untuk mencari tempat tinggal dan tempat kuliah di Yogyakarta. Sebelum berangkat ke Yogyakarta ia beli beberapa setelan lengkap dengan kacamata hitam. Pengeluaran ini pun saya yang bayar, setelah ia bilang bakal mengganti uang ini juga hutang lainnya. Tapi di Yogyakarta ia bertemu dengan kenalannya di Instagram, mereka berjanjian melalui komentar Instagram, bahkan perempuan ini menawarkan penginapan, B bahkan bilang mau sekamar dengan perempuan ini selama di Yogyakarta.

B selalu bilang ia tidak punya media sosial. Kebetulan saya tahu akan hal ini setelah pinjam akun teman saya untuk mengorek informasi darinya. Dengan akun saya sendiri saya tidak bisa melacaknya, saya diblokir olehnya dan di Instagram notifikasi pemblokiran tidak ada. Di Instagram, kita tahu data siapa saja yang kita blokir tapi tidak tahu akun siapa saja yang memblokir kita.

Saya tidak memungkiri bahwa ada saat-saat tertentu yang membuat saya berpikir bahwa kerugian ini adalah salah saya; karena saya memilih menjadi pacar baik. Pacar yang baik adalah mereka yang mendukung dan ada di saat jatuh bangun kekasihnya. Mereka akan membantu dengan cuma-cuma baik secara finansial maupun mental. Bukan begitu? Tapi menjadi seperti ini pun juga tidak dibenarkan.

Seperti Lesti Kejora yang menemani Rizky Billar dari nol. Bagaimana bisa Lesti Kejora malah jadi korban? Ternyata, pengorbanan dan perjuangan tidak mendewasakan hubungan. Sebaliknya, mereka yang paling banyak berkorban dan berjuang adalah yang paling merugi dalam sebuah hubungan. Lesti Kejora sama seperti burung-burung di balkonku itu, selalu hinggap di dahan dan tangkai yang sama, saya juga tidak berbeda darinya. Di media sosial X juga banyak sekali pertikaian rumah tangga di mana orang baik malah menjadi korban yang tak terselamatkan.

Masalah ini sudah lintas gender. Misalnya tragedi bundir Fat Cat, ia sudah menguras habis saldonya hingga melakoni Sumpah Palapa versi paska modern. Tapi ia juga jadi korban. Saya pernah tinggal di Tiongkok selama beberapa minggu, di sana saya berteman dengan laki-laki, setiap kali membeli makan ia akan membayar makanan saya. Sedangkan saya selalu percaya, hubungan yang sehat tercipta dengan tanggung jawab untuk membayar makanan masing-masing―tidak saling membebani. B tidak pernah membelikan saya makanan. Malah, setiap kali bertemu ia bakal mengajak belanja ke Superindo untuk beli kebutuhan dapurnya. Saya yang membayar pengeluaran ini, padahal saya sendiri memenuhi kebutuhan dapur di Pasar Desa Landungsari. Teman saya di Tiongkok ini melarang saya melakukan itu, ia malah terlihat tersinggung, lalu keluar kedai sambil berkata, “Kamu jangan mengulangi perbuatan ini lagi, di Tiongkok, laki-laki yang membiarkan perempuannya bayar makanan adalah yang paling memalukan di muka bumi.”

Mungkin maskulinitas memengaruhi etika dalam kasus teman saya di Tiongkok. Bisa jadi hal ini juga berbahaya, prasangka akan muncul soal wanita yang harus menggantungkan hidupnya untuk memenuhi narsisme laki-laki dan maskulinitasnya. Tapi di atas segalanya, membayar untuk kebutuhan pacar di luar kebutuhan bersama adalah pemerasan. Saat itu yang saya pikirkan hanyalah keadaan kita, saya yakin bahwa B melakukan ini karena posisi ia masih menempuh kuliah dan saya sudah bekerja. Kalau B sudah bekerja pasti takkan seperti ini. Sama halnya dengan kondisi lainnya, di mana saya huznudzon perkara ia pergi ke Yogyakarta.

Selama ini, orang berpijak pada segala hal yang bersifat positif, meskipun tengah terkungkung dengan perkara negatif, orang...dianjurkan...untuk selalu berpikir positif. Kenyataannya, ini juga memakan korban. Kalau sudah begini, ke mana lagi, pada apa lagi, kita mesti berpijak dan berpegang? Dengan apa prinsip kita terbentuk ketika memilih menjadi baik akan menjadikanmu sebagai korban belaka?

B tidak pernah menepati janjinya, tidak membayar hutangnya, memblokir semua kanal yang bisa saya pakai untuk mempertanyakannya, semua setelah saya beberkan padanya soal perselingkuhan. Ini membuat saya terpukul, bagaimana bisa saya sok tegar menghadapi ini, tentunya bukan karena saya kehilangan atau masih ada rasa cinta padanya. Perkara uang, tentu saya tidak rela, saya bekerja dengan lembur dan harus mengambil tambahan di hari libur untuk memenuhi kebutuhan dan menabung, saya juga melakoni pekerjaan lepas untuk uang tambahan. Saya akan marah bila orang berkata, saya harus ikhlas soal uang. Tapi saya lebih menyesal karena telah menyakiti diri saya sendiri. Saya terluka dan tertipu, cinta ini palsu dan saya telah mengingkari kenyataan ini dengan tetap berpikir positif, tidak ada nilai uang yang bisa menyamai rasa penyesalan semacam ini.

Setelah itu saya menggandrungi sastra anti-hero, saya menggilai Circe, memuja Raskholnikov, menyayangi Tantalus, memahami amukan Heathcliffe, dan mengasihani Hester Prynne. Meskipun begitu, saya tidak bisa menarik kesimpulan dari sini. Apakah itu berarti menjadi baik bukan pilihan yang tepat? Apakah itu berarti menjadi buruk akan menguntungkan? Dunia tidak se-biner ini bukan, baik atau buruk?

Hingga kemudian saya bisa menarik satu alasan dari burung-burung yang meragukan biji-bijian yang saya tebarkan. Manusia telah menodai kepercayaan mereka, mereka akan selalu waspada dan menghindari manusia karena itu. Sehingga, mau sebaik apapun manusia, mereka bakal kabur lintang pukang bila melihat manusia. Bukan, maksud saya bukan hanya kepercayaan yang rusak saja, tapi ada satu lagi yang sama kuatnya; kebaikan telah kehilangan kebaikannya, kebaikan bukan sesuatu yang bisa dipercaya―pasti karena ada maunya, kebaikan telah membusuk di liang lahatnya.

Meskipun begitu, pada suatu hari, adik saya yang masih berumur sembilan tahun berkata pada ibu saya bahwa suatu saat nanti ia ingin jadi presiden. Ibu saya menanggapinya dengan, “Jadi apapun kamu suatu saat nanti, menjadi orang baik adalah yang pertama yang harus kamu capai.” Mendengar ini tidak melegakan sama sekali. Dengan positivisme yang sama, saya sempat mempertahankan menjadi orang baik dan selalu mengalah demi meredam pertikaian, semua karena Reels Instagram, seseorang berpidato sambil mengatakan, “Seburuk apapun kamu diperlakukan, jangan berhenti menjadi orang baik.” Kenyataannya, dengan memilih menjadi orang baik, ternyata saya selalu menjadi korban, seterusnya menjadi korban.

Rontal
Rontal Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment