Juarai Karya Tulis Ilmiah Tingkat Kecamatan, Bukti Geliat Literasi di Al-Miftah?

Table of Contents

 

Juarai Karya Tulis Ilmiah Tingkat Kecamatan, Bukti Geliat Literasi di Al-Miftah?
Ilustrasi: Ainul Yakin

Geliat literasi di Al-Miftah setidaknya bisa ditelusuri dengan munculnya pengadaan pelatihan penulisan, mentoring hingga pembentukan komunitas Jamil dan 'Tangga Baca'. Kiranya itu tak bisa diabaikan dalam membaca momentum yang melahirkan sosok Ainul Yaqin dan Siti Khodijah sebagai pemenang karya tulis ilmiah di Pasean.

Rontal.id - 28 Mei 2024 menjadi hari yang layak dibanggakan oleh Pesantren Al-Miftah Dempo Barat. Bagaimana tidak? Tiga orang santrinya meraih juara satu di tiga perlombaan di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XXXI tingkat Kecamatan Pasean. Ketiganya adalah Ustaz Ach Qusyairi (Juara 1 Cabang Qiroah Sab'ah (tingkat Guru); Ainul Yaqin (Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Putra); dan Siti Khodijah (Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Putri).

Terlepas dari kejuaraan di cabang Qiroah Sab’ah, ada hal yang menarik disoroti. Yakni keberhasilan pesantren ini di dalam memenangi lomba karya tulis ilmiah. Tidak tanggung-tanggung, putera dan puteri sekaligus. Kemenangan ini pun memicu tanya: apakah gairah dunia literasi di Al-Miftah tengah di titik berkembang secara progresif?

Literasi di Al-Miftah Tengah Naik?

Rontal.id, terutama melalui jejaring komunitas dan perkawanan Rontal.id dengan orang-orang penting di lingkungan pesantren Al-Miftah, terutama Gus Maksum selaku salah satu pengasuh, sering memperoleh perkembangan informasi tentang keinginan besar dari Pesantren Al-Miftah untuk mendorong tumbuh berkembangnya minat para santri dan siswa pada dunia literasi. Sehingga beberapa kali, pesantren yang terletak di kampung Janten, Desa Dempo Barat (Kec. Pasean, Kab. Pamekasan) itu berupaya untuk mengaktifkan kelompok-kelompok kegiatan literasi dan mengundang beberapa mentor yang dianggap mumpuni di dalam mendorong dan mengajarkan mereka dunia literasi.

Informasi yang diperoleh Rontal.id, kegiatan literasi di pesantren Al-Miftah mengalami naik turun. Pada satu titik, gairah kegiatan itu meninggi – mengundang antusiasme dari santri. Tapi pada kali lain, sempat mengalami penurunan – antusiasme berkurang (atau mungkin mandeg?).

Tapi beberapa hari ini, sebelum akhirnya terdengar kabar kemenangan ini, Al-Miftah memang kembali mempersiapkan dan mendorong aktivitas dunia literasi. Relasi Gus Maksum – selaku pengasuh – dan salah satu mentor yang kerap ada di lingkungan Al-Miftah Fauzan Nur Ilahi (yang belakangan ini sering juga dipanggil Ustadz Fauzan) nampaknya menjadi sosok penting yang turut mengorkestrasi dorongan kegiatan literasi di Al-Miftah. Tentu saja di luar itu, ada banyak dukungan dari asatidz (para guru) dan pengurus yang turut mendorong demi kepentingan dunia literasi.

Berbekal pada informasi terbaru ini, maka ada titik terang mengapa Al-Miftah mampu menjuarai lomba karya tulis ilmiah kategori putera dan puteri sekaligus. Paling tidak, hingga saat ini Al-Miftah masih ada di jalur konsistensi untuk mendorong kegiatan literasi.

Literasi di Al-Miftah, Apa Kabar Jamil dan Tangga Baca?

Sejauh ini, penerapan kegiatan literasi di Al-Miftah memang terbatas pada beberapa kegiatan inti. Persis seperti kata dalam bahasa Inggris, ‘literacy’ merujuk pada “..the ability to read and write”. Maka di situlah fokus area garapan Al-Miftah di dalam menguatkan dunia literasi pesantren: yakni mendorong siswa/i dan santri untuk memiliki keinginan, kemampuan dan tradisi untuk membaca dan menulis. Sebab di situlah inti utama dari dunia literasi.

Fokus pada pengertian itu, di bawah mentor Ustadz Fauzan dan Gus Maksum – serta tim lainnya di lingkungan pesantren Al-Miftah, kegiatan literasi di Al-Miftah mewujud dalam satu komunitas sebagai salah satu wadah gerakannya di satu sisi dan di sisi lain penyediaan wadah bacanya.

Pada 22 Agustus 2020, Rontal.id sempat menurunkan laporan terkait dengan kegiatan literasi di Al-Miftah berjudul “Dari Pelatihan Menulis hingga Terbentuknya Komunitas JAMIL.”“Dari Pelatihan Menulis hingga Terbentuknya Komunitas JAMIL.” Laporan itu mengungkapkan geliat literasi di pesantren tersebut dijalankan dalam beberapa tahapan. Dimulai dari pelatihan penulisan hingga terbentuknya kelompok baca, diskusi dan menulis. Kelompok itu bernama JAMILJAMIL.

Terbentuknya komunitas ini berpijak pada satu ide atau gagasan bahwa mendorong minat siswa pada dunia literasi (baca, tulis, diskusi) bukan suatu perkara yang instan. Pelatihan-pelatihan menulis (dalam bentuknya yang formal seperti acara seminar, lokakarya, dll) tidak bisa dengan sendirinya menghasilkan penulis. Melainkan diperlukan suatu kegiatan yang bersifat berkelanjutan. Maka Komunitas Jamil hadir dengan semangat itu. Sejauh mana Jamil – atau wadah literasi lainnya – dapat terus berjalan, maka kita bisa berharap bahwa dari situ kegiatan literasi bisa berjalan efektif.

Selain itu, laporan Rontal.id juga menyebutkan bahwa efektivitas dari keberadaan komunitas literasi di Al-Miftah juga didukung keberadaan taman baca yang disebut Tangga BacaTangga Baca. Disebut Tangga Baca, karena posisinya terletak di dekat tangga. Tangga Baca adalah nama lain dari taman baca. Fungsinya yaitu untuk menarik antusiasme siswa untuk membaca. Sehingga ini diletakkan di posisi yang terbuka, yang mudah diakses oleh para santri.

Geliat Literasi di Pasean

Kemenangan Al-Miftah tentu saja layak menjadi catatan bagi pesantren-pesantren lain di tingkat Kecamatan Pasean. Pertama, kemenangan ini mesti dibaca sebagai sebuah usaha pesantren khususnya pesantren di Pasean untuk memperkuat dunia literasi. Al-Miftah akan mewakili Pasean untuk bersaing dalam lomba karya ilmiah di tingkat Pamekasan.

Kedua, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pesantren dengan basis ilmu keagamaannya kini semakin terbuka untuk mendorong sisiwa/santri pada akses-akses bacaan yang lebih luas. Apa yang dilakukan oleh Al-Miftah layak dicontoh penerapannya oleh pesantren-pesantren lain. Seperti dorongan untuk membentuk komunitas bernama Jamil, keberadaan taman baca yang terbuka untuk santri, dan lain-lain. Ini juga akan mendorong semakin aktif dan kreatifnya keberadaan dari perpustakaan.

Ketiga, kegiatan – dan keterbukaan pada – literasi perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari para pengurus, asatidz dan lain-lain. Kekompakan dari pihak lembaga – pengelola, pengurus dan berbagai pihak lain yang memiliki posisi strategis di pesantren – menjadi kunci penting dari kegiatan literasi. Tentu saja ini tidak terbatas pada kegiatan literasi, tapi pada kegiatan lain-lainnya juga.

Rontal
Rontal Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment