Kisah yang Lalu

Table of Contents

 

kisah yang lalu
Ilustrasi: Ainul Yakin

Rontal.id - Asep Herlambang bersama Sapu Lidi-nya mengalunkan Denting-nya Melly Goeslaw. Aransemen musiknya. Suara sang vokalis. Semua-muanya indah saja untuk dinikmati. 

Sayang kau di mana aku ingin bersama..

Di luar hujan sedikit gerimis. Jalanan sedikit basah. Lalu lintas padat. Laju pergerakan jadi lebih terhambat. Di jalanan kota yang padat, aku memang harus banyak bersabar, mengelus dada, dengan aksi-aksi yang sering aku nyinyirin dengan sebutan ‘pengendara tak tahu aturan.’ Apalagi Daihatsu Sirion yang kukendarai ini bukan milikku. Jika lecet sedikit, pasti aku kena marah. 

Kembali ke Denting. Semakin lama, lagu yang dibawakan dengan tempo yang lambat sekali itu membiusku dan membuatku lupa – atau setidaknya mengabaikan – kelambatan laju mobil di atas jalanan yang basah dan padat ini. Persisnya aku tak jadi buru-buru, dan memilih menikmati laju di jalanan dengan tenang. 

Tapi..!

Aku butuh semua untuk tepiskan rindu..

Mengapa tiba-tiba nuansa lagu itu membawaku pada suatu suasana yang terasa lain? Dari tenggelam pada kenikmatan teknikal musiknya, tiba-tiba aku terbawa pada sesuatu yang jauh di belakangku. Pesan lirik itu sudah pasti bukan untukku. Tapi kenapa aku terbawa pada suatu suasana yang..

Entahlah. Aku rasa aku telah menapaki jalan hidupku tanpa menoleh untuk meninggalkanmu. Tapi ada saja hal-hal yang memaksaku seakan untuk berhenti, atau bahkan kembali berbalik kepadamu.

Mungkinkah kau di sana merasa yang sama..

Tidak! Sudah pasti bukan dirimu. Aku telah melupakanmu. Sungguh! Dan aku telah memilih yang lain. Sudah pasti apa yang dimaksud ‘kau’ dalam lagu ini bukan seseorang yang telah aku putuskan pergi. Bukan dirimu.

Mungkinkah kau di sana merasa yang sama.. 

Lirik itu kini seakan menggema di kepalaku. Tapi tidak mungkin. Apa kiranya yang membuatku susah mengubah pikiranku ini?


***

“Ibu mendukung kamu belajar mobil, nak.”

Aku hanya terdiam. Kau duduk di sebelahku. 

“Tidak perlu mobil yang gede. Cukup yang kecil saja, kan untuk kalian berdua saja,” ibu lagi-lagi mengulangi. Kau masih diam di sampingku.

Ibumu sudah seperti ibuku. Sejak awal, perempuan tua itu sangat senang anak perempuannya berteman denganku. Setiap kali aku berkunjung ke rumahmu, ibumu selalu datang ikut menyambutku. Sirat senang di matanya. Senyum bahagianya. Sesekali ia menggoda dirimu kan dengan kata-kata yang membuatku punya harapan besar.


***

Sayang kau di mana aku ingin bersama..

Oh tidak! Apakah aku melamun. Tidak-tidak! Itu hanya masa lalu. Aku pun susah membedakan apakah musik itu masih mengalun-alun di luar pikiranku, atau sudah mencuri waktu, menyelinap dalam pikiranku di sela aku tak sadar. Dan kini ia seakan menggema di pikiranku. 

Sebuah mobil melintas di hadapanku. Berwarna putih. Merek Karimun. Deg! Seakan antara dunia hari ini dan masa lalu terkoneksikan di alam pikiranku.


***

“Karimun saja cukup, nak!”

Kami tak membantah usulan ibumu. 

Beberapa hari kemudian, kau menelponku. Aku mengiyakan. Kukebut saja motor bututku.

Motor butut itu bertahan di tengah kerasnya kota Jakarta. Kadang aku ingat, motor butut itu menjadi saksi dari perjalanan-perjalanan kita. Ia melaju dengan rela ditumpangi dua orang yang tengah dimabuk cinta. Kadang ia melaju dengan kecepatan yang dipaksakan oleh ambisiku. 

Ia melaju di bawah derasnya hujan. Di bawah terik matahari. Di antara banjir. Siang dan malam. Dan kau saat itu begitu menikmati motor butut itu.

“Aku sudah bayarkan pendaftarannya. Kamu hanya tinggal datang.”

Benar saja, di kotamu, aku tinggal mengikuti arahan pihak mentor. Hanya butuh beberapa kali latihan, akhirnya aku sudah bisa mengendarai mobil. Tanganku tidak lagi grogi. Kakiku menjadi begitu lincah, seakan dibimbing untuk bisa membedakan mana injakan untuk rem, dan mana injakan untuk gas. Pengetahuan itu begitu bermanfaat.

Hingga kini! Ya hingga kini! 


***

Di sisi kiri ada lapangan luas. Aku membawa mobil keluar jalan dan berhenti di lapangan luas itu. Aku kini punya waktu untuk bertanya-tanya, apa gerangan yang membuatku selalu teringat dirimu.

Tiba-tiba aku seakan dibimbing memandang ke arah kedua tanganku sendiri yang masih menempel pada stir mobilku. Lalu pada kedua kakiku, pada injakan gas, rem, dan porsneling mobil. Pikiranku dibimbing untuk mengambil suatu kesimpulan: mobil. Tak lama aku sudah membawa satu kesimpulan yang lebih utuh dan masuk akal.


***

“Bagaimana sekarang sudah bisa kan bawa mobil?”

Aku memilih diam sembari menikmati sirat bahagia di matamu. 

“Aku senang kamu akhirnya bisa bawa mobil. Mulai sekarang kita harus mulai makin rajin menabung biar kita segera punya mobil sendiri.”


***

Sayang kau di mana aku ingin bersama..

Air mataku menitik. Aku sudah tidak tahu berapa kali lagu itu berulang-ulang. Mungkin aku telah memilih opsi mengulangi berkali-kali sehingga tak pernah beranjak ke judul lagu yang lain. Lirik itu seakan mewakili perasaan kecilku yang dalam keteguhan untuk melupakanmu, tersirat perasaan halus sebuah pertanyaan: sayang kau di mana aku ingin bersama.

Tentu suatu yang mustahil! Aku telah bertekad melupakanmu. Kau telah memilih yang lain. Kalau pun pada akhirnya aku mendapati kabar bahwa dirimu terombang-ambing tak menentu. Kabar dirimu yang memilih menyendiri lagi. Kabar bahwa ibu pernah mendapati dirimu menangis saat aku telah memutuskan tunangan dengan yang lain. Ya aku tak peduli. Aku berusaha teguh untuk tak peduli.

Tapi kenapa ada perasaan halus yang masih bertanya: 

Sayang kau di mana aku ingin bersama..

Tidak! Pasti aku hanya terbuai oleh sebuah lagu. Hatiku memang terlampau cengeng. Itu hanya masa lalu. Dan aku telah melupakanmu. Sungguh! Sumpah! Aku sudah melupakanmu.

Mataku menatap kedua tanganku. Lalu kedua kakiku. Aku tahu jawabannya sekarang. 


***

“Kenapa kamu sangat menginginkan aku bisa bawa mobil? Lihat motor bututku. Dia masih sehat kok untuk membawa kita berdua.” 

“Lagipula, kotaku dan kotamu tidak jauh. Aku dengan motor itu bisa menikmati jalanan menuju komplek rumahmu. Aku bisa dengan mudah meliuk-liuk di antara komplek itu. Kadang jika ada jalanan yang tertutup, aku bisa dengan mudah muter balik.”

Kamu menatap diriku. Lalu dengan sedikit tersenyum, kamu mengatakan sesuatu. 

“Kamu pikir ini cuma tentang kita? Pendek sekali berpikirmu. Ini untuk kita, dan untuk orang-orang di masa depan.”

“Aku tak mengerti.”

“Nanti juga mengerti.”

“Kalau aku tidak mau belajar.”

“Aku yang ngotot.”


***

Aku keluar dari mobil. Udara di luar membuatku berpikir lebih tenang. Denting-nya Melly yang dibawakan oleh Sapu Lidi kini telah menjelma jadi musik duniaku. Lirik-liriknya seakan berhenti pada kalimat yang berulang-ulang:

Sayang kau di mana aku ingin bersama..

Sayang kau di mana aku ingin bersama..

Aku tahu ada yang kekal dari sebagian kecil dirimu pada diriku. Sesuatu yang aku tak kan mungkin bisa melepasnya. Sebab kenangan itu telah mengikat pada kemampuan diriku mengendarai mobil. Setiap kali aku mengendarai mobil, gerak tanganku, kelincahan kakiku, kemampuan membedakan injakan gas dan rem, semua itu seakan saling bahu-membahu untuk mengingatmu. Ada diri kamu pada pengetahuan itu.

Aku bisa saja melupakan dirimu. Secara perlahan mungkin kenangan kita bisa musnah. Tapi bagaimana mungkin aku bisa memusnahkan kemampuanku ini. 

Kutatap lagi kedua tanganku. Lalu kedua kakiku. 

Aku butuh semua untuk tepiskan rindu..

Aku pasti tak bisa melupakanmu. Sungguh mati kerinduan ini. Tapi aku telah melangkah. Semuanya sudah berlalu lewat belokan kisah yang kau perbuat sendiri kekeliruannya. 


Rontal
Rontal Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment