Melepas Fenny, Melepas Ennur

Table of Contents
Ilustrasi: Ainul Yaqin


Demikianlah Datuk Tan. Ia harus memilih: terikat romansa percintaan atau bergelut setia dengan idealisme pergerakan kebangsaan. Dengan berat hati, Fenny lepas ke tangan Hendrik, kawan sewaktu belajar di Holland; sedangkan Ennur dijemput kematian dengan hanya berhasil memperjuangkan sebaris kalimat terakhir penuh kesungguhan: aku mencintaimu, Tan.

Demikianlah riwayat kejombloan Tan. Setidaknya itulah yang dituliskan Hendri Teja hingga akhir kisah dalam "Tan, Sebuah Novel".

Novel biografi ini bersetia pada sejumlah latar tempat dan peristiwa yang benar-benar ada dalam sejarah seperti sejumlah tempat sewaktu di Sumatera, yang jadi permulaan novel, sejumlah tempat di Holland di saat Tan mengarungi Holland dalam perjalanannya sebagai pelajar, calon guru, dan sejumlah tempat saat ia bergerilya dalam memperjuangkan pribumi di Hindia.

Demikian juga banyak tokoh-tokoh yang tertulis di buku sejarah dimunculkan di novel ini. Ada Soewardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara), Marco Kartodikromo dan beberapa nama lain saat kisah berkutat pada masa-masa pembuahan kesadaran nasionalisme di kalangan pelajar Hindia di Hollandia, ada Snevlet (penyebar komunis di Hindia), serta Semaun, Alimin, dan kawan-kawannya di PKH, ada Hos Cokroaminoto, Agus Salim, Abdul Muis, dan lain-lain di Central Sarikat Islam (CSI), dan banyak tokoh lainnya.

Demi memudahkan pada pembaca, Hendri, sang pengarang, berepot-repot meletakkan catatan kaki pada beberapa nama tempat, peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah itu. Sehingga nyaris setiap halaman selalu disusupi catatan kaki sebagai penjelas. Dalam hal ini, saya jadi teringat dengan karya-karya fiksi Seno Gumira Ajidarma.

Namun sebagai sebuah novel, kreativitas sang pengarang tak dapat tunduk pada fakta-fakta belaka. Ia menghidupkan kisah lewat permainan alurnya (kronologi peristiwa dijalinkan dengan pembabakan sang pengarang) dan menjalin-jemalinkan antara sejumlah peristiwa nyata dengan dinamika yang fiktif belaka, menghidupkan tokoh-tokohnya dalam peran sejarah dan peran yang diinginkan penulis, serta dialog-dialog fiktif tetapi dengan substansi semangat pergerakan dan perjuangan membela kesejahteraan pribumi Hindia dari penindasan pemerintahan kolonial Belanda.

Menyelami (Lagi) Sejarah

Membaca novel ini, saya mendapati dua hal penting. Pertama, bacaan ini mengajak ingatan untuk kembali menelusuri sejarah pergerakan menuju kemerdekaan. Kita diajak untuk - meminjam akronim yang diucapkan oleh Presiden Soekarno - Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Dalam Tan Sebuah Novel ini, kita diajak melihat-lihat meski sepintas adanya pergerakan para pelajar Hindia di Belanda.

Di Hindia, pengaruh sosialisme-komunisme yang ditaburkan oleh salah satunya Snevlet mampu menggairahkan radikalisme rakyat. Di Semarang, SI disusupi Partai Komunis Hindia dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Semaoen, Alimin, dll, dan Datuk Tan sendiri, tokoh utama novel ini. Juga sejumlah peristiwa lainnya seperti pertentangan mereka dengan SI-nya geng Cokroaminoto. Semua itu peristiwa sejarah yang bisa kita baca di buku-buku.

Singkatnya, dengan mendudukkan Tan Malaka sebagai tokoh utama novel ini, kita diajak untuk memotret sejumlah peristiwa pergerakan dalam jarak jangkau Tan. Dari sudut pandang Tan, kita diingatkan lagi tentang kegagalan kudeta PKI (di novel, disebut PKH) yang terjadi pada 1926-1927 di sejumlah kota, yang mengakibatkan gubermen memiliki alasan kuat untuk membekukan partai berhaluan radikal ini dengan sejumlah penangkapan atas para tokoh-tokohnya untuk kemudian dibuang ke Boven Digoel. Dari sisi Tan, kita kembali diingatkan bahwa revolusi yang gagal ini memang menyiratkan sejumlah kelemahan. Itu sebabnya, Tan termasuk yang menentang revolusi yang digulirkan Alimin. Tan pula yang bergerilya membatalkan dukungan dari Komintern.

Di titik ini, dapat kita katakan, kita tengah diajak untuk melihat cakrawala peristiwa pergerakan di Hindia melawan pemerintahan kolonial lewat kacamata Tan. Di mana bumi dipijaki Tan, di titik-titik itulah kita melihat peristiwa demi peristiwa perlawanan pribumi atas ketidakadilan yang dimainkan oleh pemerintahan kolonial. Bahkan kita diajak untuk melihat betapa pemerintahan kolonial - dalam cengkeram kuasanya atas pribumi Hindia - didukung atau dikuasai oleh setan-setan kapitalis dalam rupa sindikat gula, pertanian, dan sindikat-sindikat lainnya. Sehingga dari potret ini, kita makin diajak 'aware' bahwa manuver Tan untuk menyatukan kekuatan Islam dan komunisme dipandang sebagai marabahaya bagi pemerintahan kolonial, dan tentu saja para sindikat ini.

Dilenakan Pergolakan Batin Tan

Kedua, bacaan ini semakin melenakan lantaran sisi 'humanisme' dikreasi sedemikian rupa, dimainkan sedemikian dramatis dalam diri para tokoh, khususnya tokoh utama Tan, dalam berbagai pembabakan peristiwa. Gejolak batin Tan dihidupkan baik dalam dialog atau monolog atau dalam narasi. Tan yang tegas tanpa kompromi. Tan yang hatinya risau lantaran menolak didaulat sebagai penerus kakeknya, sebagai Datuk Tan Malaka, dengan memilih belajar ke negeri seberang, Holland, negeri penjajah, dan akhirnya dikutuki oleh tetua adat di sana sebagai budak bangsa penjajah, lantas terbuang dan haram menginjakkaan kakinya di rumah sendiri.

Tan yang memiliki pikiran keras: keras pada keyakinan ideologisnya untuk mengambil sikap 'melawan' pemerintahan kolonial Belanda. Di Belanda, Tan membuat tulisan-tulisan yang menghebohkan tentang cita-cita kemerdekaan Hindia Belanda. Tulisan anak muda ini membuat sejumlah orang memusuhinya, pikirannya diremehkan melalui tulisan-tulisan balasan dari tokoh-tokoh kolonial lainnya. Bahkan guru yang dihormatinya, sebaliknya ia menghormati Tan, harus berseberangan dan diminta untuk menjinakkan Tan. Di kalangan pelajar Hindia bahkan pikiran Tan tak segera disambut dengan dukungan.

Keras pikiran dan sikap Tan membawanya pada bayang-bayang penangkapan, pembuangan dan yang paling sial pembunuhan atas dirinya. Hendrik, kawan semasa belajar Tan dan sekaligus kekasih Fenny, adalah pihak yang sangat berkepentingan untuk membekukan pergerakan Tan. Bukan lantaran kecemburuan belaka pada Tan karena pernah dekat dengan Fenny, tapi ia - Hendrik - adalah petinggi PID, polisi yang khusus bertugas mematai-matai kaum pergerakan.

Kisah Cinta Tan: Terbentur, Terbentur, Terbentur, (Tak Pernah) Terbentuk!

Teja tahu, novel yang melenakan, tak bisa tidak, harus dibumbui kisah cinta. Tapi Teja tak bisa menipu pembacanya, Tan itu jomblo seumur hidup. Lalu Teja mengkreasinya dengan sebuah narasi yang bukan hanya masuk akal, tapi menohok ulu hati. Tan jomblo karena ia terlampau mencintai bangsanya. Tan tak bisa diikat oleh satu hubungan cinta. Pengorbanan untuk kemerdekaan bangsa jauh melampaui semua itu.

Ongkos yang harus ia bayar terlampau besar. Ia harus relakan dua perempuan yang dicintainya. Pada babak ini, Tan dikoyak-koyak oleh romansa cintanya yang berakhir dalam kesedihan. Di tanah rantau, mengapa ia mesti dipertemukan dengan kebaikan & kesederhanaan cinta seorang Fenny, sosok manusia yang berasal dari bangsa penindas, meski bukan itu alasan Tan tak dapat melanjutkan hubungannya. Di tanah Hindia, tepatnya di Bandung, mengapa ia mesti berjumpa Ennur, sosok yang berakhir di moncong opas Belanda.

Dari Tan, kita mendapat suatu kenyataan bahwa cinta tak harus memiliki bukan suatu hal yang klise atau roman picisan dalam lirik-lirik lagu. Tapi sungguh nyata adanya. Lantaran perjalanan hidup yang mengharuskannya terbentur, terbentur, terbentur dengan banyak persoalan negeri, akhirnya ikatan cintanya dengan perempuan yang dicintai tak pernah terbentuk. Bung Tan, sabarlah!
Rontal
Rontal Rontal.id adalah media online yang memuat konten seputar politik, sosial, sastra, budaya dan pendidikan.

Post a Comment